bukamata.id – Aceh Tengah kembali berduka. Setelah tiga hari digempur cuaca ekstrem, banjir bandang, hujan lebat, dan rangkaian longsor meninggalkan luka mendalam yang masih terasa hingga hari ini.
Di tengah keterpurukan itu, sebuah video viral di media sosial memperlihatkan rumah warga yang tertimbun tanah sampai menyentuh atap menjadi simbol pahit betapa dahsyatnya bencana yang melanda.
Video yang dibagikan seorang warganet dari Aceh tersebut memicu keprihatinan luas. Bukan hanya mengenai kerusakan fisik, tetapi juga tentang bagaimana warga kini bergulat dengan kondisi pascabencana tanpa akses, tanpa logistik, dan tanpa kepastian kapan kehidupan bisa kembali normal.
Kondisi Terkini: Permukiman Terkubur dan Infrastruktur Lumpuh
Bencana yang terjadi dalam rentang 25–27 November 2025 itu memporakporandakan delapan kecamatan. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah mencatat 67 titik kejadian, sebagian besar dengan kategori kerusakan berat.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalika, menyebut bahwa tim telah bekerja non-stop untuk membuka akses, mengevakuasi warga, dan menyalurkan bantuan. Namun skala kerusakan yang begitu besar membuat upaya tersebut tidak mudah.
“Fokus utama kami adalah pembukaan akses jalan yang tertimbun longsor, evakuasi warga, serta penyaluran bantuan dasar. Kami terus berkoordinasi untuk pemulihan,” ujar Andalika.
Kerusakan terjadi hampir merata:
Kecamatan Bebesen: banjir merendam Kampung Bebesen dan Kampung Mersah Toa, satu rumah tertimbun longsor di Kampung Juru Mudi.
Kecamatan Kebayakan: banjir bandang di Kampung Mendale merusak 100 rumah, 20 hektare sawah, fasilitas umum; longsor menghancurkan rumah dan merusak destinasi wisata Natural Park.
Kecamatan Ketol: 15 rumah tertimbun longsor di Kampung Burlah; banjir bandang memutus jembatan beton 35 meter di Kampung Kute Gelime.
Lut Tawar: 70 rumah tertimbun material longsor di ruas Isaq–Sp. Kekuyang.
Kecamatan Bintang: longsor menimbun total 35 rumah di Kampung Kelitu dan Sintep.
Dampak makin meluas ke sektor pertanian, dengan 195 hektare lahan rusak total. Beberapa jembatan strategis seperti jembatan rangka baja di Kampung Segene Balik dan Jerata terputus, membuat distribusi bantuan hampir mustahil dilakukan.
Akses Terisolir: Warga Terjebak Tanpa Bantuan Berhari-hari
Hingga kini, sejumlah kampung masih terisolir. Akses kendaraan tidak dapat menembus tumpukan material longsor. Tim gabungan harus menggunakan alat berat yang jumlahnya terbatas.
Ketika logistik tidak kunjung tiba, warga mulai kehabisan bahan makanan. Situasi ini diperburuk oleh hujan yang masih turun dan listrik yang padam di beberapa titik.
Kondisi darurat inilah yang memicu peristiwa yang menjadi sorotan publik.
Pascabencana: Trauma, Ketidakpastian, dan Harapan
Selain kerusakan fisik yang terlihat jelas, dampak psikis juga mulai muncul. Warga yang rumahnya tertimbun, kehilangan ladang, atau terjebak berhari-hari tanpa bantuan kini menghadapi trauma mendalam. Anak-anak tidur dalam kondisi darurat, sementara para orangtua berjaga-jaga mengantisipasi longsor susulan.
BPBD Aceh Tengah kembali mengingatkan masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar lereng perbukitan dan bantaran sungai, agar tetap waspada. Potensi longsor susulan masih tinggi.
Upaya pemulihan jangka panjang pun tengah dipersiapkan, termasuk relokasi sementara, perbaikan sekolah, hingga rekonstruksi jembatan yang rusak. Namun proses ini tidak akan cepat, karena sebagian besar kawasan terdampak masih sulit dijangkau.
Penutup: Potret Aceh Tengah yang Bangkit Dalam Keterbatasan
Apa yang terjadi di Aceh Tengah bukan sekadar bencana alam, tetapi potret nyata betapa rapuhnya kehidupan ketika alam bergolak. Rumah tertimbun sampai atap, jembatan terputus, dan warga yang berjuang bertahan hidup tanpa bantuan, semua menjadi luka bersama yang harus dipulihkan secara gotong royong.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










