bukamata.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengklaim bahwa gelaran Milangkala Tatar Sunda yang digelar di Kota Bandung berjalan sukses dan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat, khususnya sektor pariwisata dan kuliner.
Dedi juga mengklaim, tingginya antusiasme masyarakat yang hadir dalam rangkaian acara tersebut membuat aktivitas ekonomi di Kota Bandung ikut bergerak.
“Terima kasih ya, tadi malam di acara napak tilas Mahkota Binokasih menjadi lautan pecinta budaya. Saya tidak bisa menghitung jumlahnya, karena sejauh 3 kilometer tidak ada sejengkal tanah pun yang kosong,” ujar Dedi Mulyadi, dikutip drai Instagram @dedimulyadi71, Minggu (17/5/2026).
Ia juga menegaskan bahwa kehadiran masyarakat dalam jumlah besar memberikan dampak langsung terhadap tingkat okupansi hotel dan restoran di Kota Bandung.
“Yang jelas Bandung malam tadi hotel penuh, restoran-restoran penuh. Artinya ada hidup yang berputar,” tambahnya.
Kirab Budaya Meriahkan Penutupan Milangkala Tatar Sunda
Rangkaian Milangkala Tatar Sunda sendiri telah berlangsung sejak 3 Mei 2026 di Kabupaten Sumedang dan resmi berakhir di Kota Bandung pada 16 Mei 2026 malam.
Penutupan acara ditandai dengan gelaran kirab budaya yang dimulai dari Kiara Artha Park, kemudian melintasi Jalan Jakarta, Jalan Supratman, dan berakhir di Jalan Diponegoro (Gedung Sate).
Kepala BKD Jawa Barat sekaligus Ketua Panitia, Dedi Supandi, menjelaskan bahwa kirab budaya tersebut berlangsung pada pukul 19.30 WIB hingga 22.00 WIB, dengan melibatkan seniman dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat.
Tidak hanya dari Jawa Barat, sejumlah perwakilan budaya dari luar daerah juga turut ambil bagian.
“Selain itu, perwakilan dari luar Jawa Barat juga hadir seperti Aceh, DKI Jakarta, Surakarta, Yogyakarta, Ponorogo, Tegal, hingga Brebes,” ujarnya.
Mahkota Binokasih Asli Jadi Ikon Kirab
Salah satu daya tarik utama dalam kirab budaya tersebut adalah diaraknya Mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang disebut sebagai mahkota asli, bukan replika.
Panitia memastikan bahwa artefak tersebut merupakan benda bersejarah yang memiliki nilai budaya tinggi bagi masyarakat Sunda.
“Itu asli, bukan replika. Yang ini 100 persen asli,” jelas Dedi
Selain pertunjukan budaya, panitia juga menyiapkan layanan medis di berbagai titik sepanjang rute kirab untuk memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat.
Lanjutan Acara di Gedung Sate
Puncak rangkaian Milangkala Tatar Sunda berlanjut pada Minggu (17/5/2026) malam melalui acara Peuting Munggaran Milangkala Tatar Sunda yang digelar di area Parkir Barat Gedung Sate.
Seluruh rangkaian acara dapat disaksikan masyarakat secara gratis tanpa dipungut biaya.
Sorotan DPRD: Kritik Soal Sejarah dan Anggaran
Di balik kemeriahan acara, gelaran Milangkala Tatar Sunda juga sempat mendapat sorotan dari DPRD Jawa Barat dalam rapat penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur 2025.
Anggota DPRD Jawa Barat, Maulana Yusuf, menilai terdapat persoalan dalam narasi sejarah yang digunakan dalam kegiatan tersebut. Ia juga menyoroti transparansi anggaran yang dinilai belum sepenuhnya jelas.
Menurutnya, konsep sejarah yang dibawa dalam acara itu perlu ditinjau ulang agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
Selain itu, muncul pula pertanyaan terkait penggunaan anggaran yang disebut mencapai miliaran rupiah di beberapa titik kegiatan, yang dinilai perlu penjelasan lebih lanjut kepada publik.
Meski demikian, pemerintah provinsi menegaskan bahwa penyelenggaraan Milangkala Tatar Sunda bertujuan untuk melestarikan budaya Sunda sekaligus mendorong pergerakan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









