bukamata.id – Sebuah video yang memperlihatkan kondisi miris paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kabupaten Sukabumi mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Bukan tanpa alasan, video tersebut menampilkan porsi makanan yang dianggap jauh dari standar gizi yang dicanangkan pemerintah.
Kejadian ini berlokasi di sebuah madrasah di Kecamatan Ciracap, Sukabumi. Dalam rekaman yang beredar, tampak seorang tenaga pendidik menunjukkan betapa minimnya asupan yang diterima oleh para siswa.
Sentilan Satire: Satu Jeruk Dibagi Tiga
Sosok di balik video tersebut adalah Siti Mardiah, seorang guru di madrasah wilayah Cileles. Dengan nada satir yang kental, ia memperlihatkan satu per satu isi paket yang disebut sebagai jatah makan untuk tiga hari sekaligus (Senin hingga Rabu).
Instruksi Siti dalam video tersebut terdengar ironis sekaligus menyayat hati:
- Lauk Tempe: Satu potong tempe goreng dalam plastik kecil yang harus dihemat agar cukup untuk tiga hari.
- Abon: Satu wadah kecil abon yang diminta untuk dikonsumsi sedikit demi sedikit (sacuil-sacuil).
- Buah Jeruk: Satu buah jeruk utuh yang diinstruksikan untuk dibagi menjadi tiga bagian agar anak-anak tetap bisa makan buah setiap harinya.
“Satu jeruk ini untuk tiga hari. Bisa dibagi tiga siung,” ujar Siti dalam bahasa Sunda dalam video yang diambil pada Selasa (3/3/2025).
Jeritan Hati Guru: “Mana Gizi yang Dijanjikan?”
Saat dikonfirmasi, Siti Mardiah menegaskan bahwa aksinya tersebut merupakan bentuk protes atas realita di lapangan yang sangat kontras dengan janji program pemerintah. Ia mengaku mendapatkan informasi dari pihak pengantar bahwa paket seadanya itu memang diperuntukkan sebagai jatah tiga hari bagi siswa kelas bawah (kelas 1, 2, dan 3).
Siti mempertanyakan transparansi anggaran program tersebut. Menurutnya, jika anggaran per anak mencapai Rp8.000, menu yang sampai ke tangan siswa jelas tidak mencerminkan nilai tersebut.
“Secara tidak langsung saya ingin katakan bahwa ini tidak layak. Katanya membayar ahli gizi, tapi kenyataannya makanannya tidak bergizi,” keluh Siti.
Menu “Irit” yang Jadi Keluhan Wali Murid
Tak hanya lauk pauk kering, Siti juga membeberkan menu lain yang tak kalah memprihatinkan. Ia menyebutkan menu nasi ayam hanya berisi irisan daging yang sangat tipis. Selain itu, siswa juga menerima roti dan susu sebagai pelengkap.
Kondisi ini nyatanya sudah lama memicu keresahan di kalangan orang tua murid. Tak hanya siswa, para guru di sekolah tersebut pun mendapatkan jatah yang sama persis, tanpa ada perbaikan kualitas.
Hingga saat ini, video sindiran tersebut masih terus dibagikan dan memicu diskusi publik. Banyak pihak berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap distribusi dan pengawasan program Makan Bergizi Gratis agar tepat sasaran dan benar-benar memberikan dampak kesehatan bagi generasi penerus bangsa.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











