bukamata.id – Kondisi keselamatan jalan raya di tanah air sedang berada dalam titik yang mengkhawatirkan. Bukan sekadar isapan jempol, data terbaru sepanjang tahun 2025 menunjukkan angka fatalitas yang mengerikan: nyawa manusia seolah menjadi taruhan setiap kali roda kendaraan berputar di aspal.
Berdasarkan laporan dari Road Safety Association (RSA) Indonesia, tercatat ada 158.508 insiden kecelakaan yang mengakibatkan 238.878 orang menjadi korban, di mana 24.296 di antaranya berakhir dengan kematian.
Ketua Dewan Pengawas RSA Indonesia, Rio Octaviano, memberikan gambaran yang lebih memilukan lewat perhitungan waktu.
“Jika ditarik dalam skala waktu, hampir tiga orang meninggal setiap jam, atau satu nyawa hilang setiap 20 menit di jalan raya Indonesia,” kata Rio dalam keterangan tertulisnya.
Ironi Jalan Lurus dan Cuaca Cerah
Banyak orang berasumsi bahwa kecelakaan terjadi karena infrastruktur yang buruk atau cuaca ekstrem. Namun, data justru menunjukkan fakta sebaliknya. Mayoritas kecelakaan terjadi di jalanan yang lurus (137.658 kasus), aspal yang mulus (153.930 kasus), dan saat cuaca sedang cerah (151.289 kasus).
Rio menegaskan bahwa fenomena ini adalah teguran keras bagi pengelola kebijakan keselamatan.
“Temuan ini mematahkan asumsi lama bahwa kecelakaan terutama disebabkan oleh jalan rusak atau kondisi cuaca buruk. Sebaliknya, data menunjukkan bahwa kecelakaan lebih banyak terjadi dalam kondisi ‘normal’-ketika sistem seharusnya mampu memberikan perlindungan yang optimal,” ujar Rio.
Ia juga menambahkan bahwa fenomena ini bukan sekadar deretan angka di atas kertas.
“Ini bukan sekadar angka statistik. Ia mencerminkan bahwa sistem keselamatan jalan masih memerlukan penguatan yang lebih serius dan terintegrasi,” ujarnya.
Minimnya Kepatuhan dan Dominasi Roda Dua
Dari sisi jenis kendaraan, sepeda motor masih menjadi penyumbang kecelakaan terbesar dengan angka mencapai 212.414 unit. Diikuti oleh angkutan barang (29.174 unit) dan bus (21.269 unit).
Masalah kompetensi pengemudi juga menjadi sorotan tajam. RSA mencatat sebanyak 63.013 pelaku kecelakaan ternyata tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Angka ini jaug lebih besar dibandingkan pengguna SIM C (14.033 orang) atau SIM A (1.052 orang).
“Ini menunjukkan adanya tantangan serius dalam aspek kepatuhan, kompetensi, serta pengawasan,” kata Rio.
Kritik Keras: Keselamatan Jalan Bukan Proyek Musiman
Salah satu poin paling krusial yang disoroti RSA adalah pola penanganan pemerintah yang dinilai hanya “hangat-hangat kuku” saat momen mudik lebaran saja. Rio mengkritik bagaimana koordinasi antarlembaga tampak sangat masif di depan kamera media saat musim mudik, namun meredup setelahnya.
“Setiap tahun, saat arus mudik menjelang, pemerintah melalui berbagai kementerian dan lembaga saling berkoordinasi, dengan para pejabat berdiri gagah di depan kamera untuk menyampaikan rencana-rencana penanggulangan. Semua itu seakan menunjukkan keseriusan dalam menghadapi permasalahan besar ini,” ujar Rio.
Ia mempertanyakan mengapa konsistensi kebijakan tersebut tidak diterapkan sepanjang tahun, mengingat nyawa terancam setiap detik di jalan raya, bukan hanya saat libur panjang.
“Namun, apa yang terjadi setelah itu? Kenapa kebijakan keselamatan tidak berjalan dengan konsisten sepanjang tahun? Mengapa perhatian yang sama tidak diberikan setiap hari, setiap detik di jalan raya Indonesia? Pejabat yang digaji oleh negara untuk melayani masyarakat harusnya sadar bahwa tugas mereka jauh lebih penting daripada sekadar merencanakan dan mengumumkan kebijakan selama mudik,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









