bukamata.id – Anggota DPRD Jawa Barat, Rafael Situmorang, menilai angka putus sekolah di Jawa Barat relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah daerah lain, termasuk DKI Jakarta. Namun, ia menegaskan perhatian terhadap isu tersebut tetap menjadi prioritas.
Menurut Rafael, dari sisi anggaran, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah memenuhi amanat konstitusi dalam mengalokasikan dana pendidikan.
“Kalau dari sisi anggaran, sebenarnya provinsi sudah lebih dari amanah konstitusi, sekitar 21,2 persen. Jadi secara kebijakan, harusnya ini cukup,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).
Rafael menjelaskan, salah satu perhatian utama pemerintah provinsi adalah menambah kapasitas sekolah melalui pembangunan ruang kelas baru (RKB). Langkah ini dinilai penting untuk memastikan seluruh anak usia sekolah dapat tertampung.
“Waktu pembahasan anggaran memang ada alokasi untuk RKB. Ini untuk menambah daya tampung anak-anak, supaya tidak ada yang tertinggal,” katanya.
Ia menambahkan, keterbatasan ruang belajar masih menjadi faktor yang berpotensi mendorong anak putus sekolah, terutama di wilayah dengan jumlah penduduk yang terus bertambah.
Selain pembangunan infrastruktur, Rafael menyebut pemerintah juga mengalokasikan program beasiswa bagi siswa dari keluarga tidak mampu dan kategori miskin ekstrem.
“Yang kedua ada beasiswa untuk yang tidak mampu, termasuk miskin ekstrem. Itu sudah disiapkan,” ungkapnya.
Meski begitu, ia memastikan DPRD akan terus melakukan pengawasan untuk memastikan program berjalan efektif dan tepat sasaran.
“Nanti kita cek kembali di lapangan. Kalau memang masih ada anak putus sekolah, berarti ada hal yang harus diperbaiki,” tuturnya.
Rafael berharap, kombinasi antara pembangunan fasilitas pendidikan dan bantuan finansial dapat menekan angka putus sekolah di Jawa Barat sekaligus membuka peluang masa depan generasi muda secara lebih merata.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











