bukamata.id – Baru-baru ini publik dihebohkan dengan sebuah video yang Gua Safarwadi di Pamijahan, Tasikmalaya yang diklaim sebagai jalan menuju Kota Mekkah, Arab Saudi.
Dalam video tersebut, terlihat masyarakat berpakaian muslim memadati area gua sambil melantunkan doa. Fenomena ini pun menuai pertanyaan publik, terutama terkait kebenaran klaim tersebut.
Diketahui, Gua Safarwadi merupakan situs religi bersejarah yang dikenal memiliki lorong-lorong bercabang yang konon pernah digunakan oleh ulama penyebar Islam di Tasikmalaya, Syekh Abdul Muhyi. Gua ini juga diyakini pernah menjadi tempat berkumpulnya para waliyullah.
Di gua ini juga terdapat sumber mata air jernih yang disebut-sebut tidak pernah surit, bahkan saat musim kemarau. Air tersebut diyakini juga memiliki kesamaan dengan air Zamzam.
Sementara itu, menanggapi viralnya Gua Safarwadi ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan jika informasi atau klaim bisa tembus ke Mekkah hanyalah mitos.
Dijelaskan Ketua MUI Bidang Dakwah, KH Cholil Nafis, mitos-mitos seperti ini muncul akibat keinginan masyarakat untuk mencari kebenaran atas keyakinan atau harapan mereka.
“Ini mistis ya sebenarnya, mitos-mitos yang berkembang di masyarakat seringkali masyarakat mencari legitimasi terhadap keyakinannya atau legitimasi terhadap keinginannya,” ujar KH. Cholil Nafis dikutip Rabu (12/2/2025).
Ditambahkan KH Cholil Nafis, banyak orang yang berkeinginan untuk menunaikan ibadah haju atau umrah, namun terkendala faktor ekonomi ataupun antrean panjang. Hal ini menyebabkan sebagaian masyarakat mencari alternatif atau pembenaran lain.
“Tentu agama mengajarkan bahwa orang berangkat haji itu melewati hukum, ada hukum agama dan hukum negara yang mengatur keberangkatan dari Indonesia ke Arab Saudi. Oleh karena itu, saya memastikan berdasarkan informasi yang saya baca bahwa goa ini tidak akan pernah memiliki terowongan yang tembus ke Mekah,” tegasnya.
KH Cholil Nafis juga mengingatkan bahwa Mekah memiliki regulasi ketat dalam menerima jamaah dari luar negeri, sehingga klaim adanya lorong menuju Mekah tidaklah masuk akal. Ia menegaskan bahwa Gua Safarwadi sebaiknya dihormati sebagai situs sejarah dan bagian dari khazanah budaya Nusantara, bukan sebagai tempat ibadah yang berlebihan.
“Saya pikir masyarakat perlu disadarkan bahwa gua ini bukan tempat ibadah. Mungkin gua ini bisa dijadikan sebagai lokasi napak tilas yang memiliki nilai sejarah tentang bagaimana para pendakwah datang ke tempat ini. Memang, di dalamnya mungkin terdapat simbol-simbol seperti gambar kopiah, lorong-lorong, atau simbol ibadah lainnya. Namun, sebaiknya hal itu dipandang sebagai bagian dari budaya lokal dan khazanah Nusantara, bukan dijadikan tempat ibadah,” jelasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










