Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Jadwal Liga Champions 2026/2027 Pekan Ini: PSG vs Barcelona, Bayern vs Arsenal

Selasa, 20 Oktober 2026 11:43 WIB

Tiga Laga Menanti Persib, Ini Strategi Igor Tolic Hadapi Jadwal Padat

Selasa, 20 Oktober 2026 11:27 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 20 Oktober 2026 Turun Rp10.000, Cek Daftar Lengkap

Selasa, 20 Oktober 2026 11:05 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Jadwal Liga Champions 2026/2027 Pekan Ini: PSG vs Barcelona, Bayern vs Arsenal
  • Tiga Laga Menanti Persib, Ini Strategi Igor Tolic Hadapi Jadwal Padat
  • Harga Emas Antam Hari Ini 20 Oktober 2026 Turun Rp10.000, Cek Daftar Lengkap
  • Sama-Sama Tercekik Biaya Hidup! Warga Prancis Berani Runtuhkan Kota, Rakyat RI Cuma Sibuk Mode Bertahan?
  • Persib Mengancam di Posisi 5 Besar! Ini Kalkulasi Peluang Maung Bandung Geser Macan Kemayoran
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • Ancaman Asap Karhutla Belum Usai, Kasus ISPA Lampaui 300 Ribu Orang: Ini Daerah yang Paling Terdampak
  • Bukan Cuma Dijemur, Ini Metode Paling Ampuh Membasmi Kutu Busuk dan Telurnya Sampai Tuntas
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 20 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kontroversi Panggung Dangdut di Peringatan Isra Mi’raj Banyuwangi

By Aga GustianaSabtu, 17 Januari 2026 15:49 WIB5 Mins Read
Acara peringatan Isra Miraj di Banyuwangi diisi biduan dangdut. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Jagat media sosial digemparkan oleh sebuah video yang memperlihatkan aksi seorang biduan dangdut yang bernyanyi dan bergoyang di atas panggung peringatan Isra Mi’raj di Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Kejadian yang terekam pada Jumat (16/1/2026) ini menjadi sorotan luas, bukan karena kualitas hiburannya, tetapi karena dianggap tidak pantas dilakukan di momen yang seharusnya penuh khidmat dan religius.

Video yang beredar menunjukkan seorang biduan perempuan tampil di atas panggung dengan latar belakang baliho bertuliskan: “Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW”. Aksi panggungnya disertai gerakan menari dan saweran, fenomena yang membuat banyak warganet dan tokoh agama merasa terganggu.

Ali Nurfatoni, seorang saksi mata yang berada di lokasi, mengaku merasa miris dengan apa yang terjadi. “Sangat miris. Kok bisa ada hiburan seperti itu di panggung peringatan Isra Mi’raj. Ini sudah kebablasan,” ujar Ali, dikutip Sabtu (17/1/2026). Menurutnya, masyarakat yang hadir datang dengan niat mengikuti peringatan agama, bukan menikmati hiburan dangdut.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan keterangan saksi dan pihak panitia, acara peringatan Isra Mi’raj sebenarnya berjalan sesuai agenda, dimulai dengan pembacaan doa, ceramah oleh para kiai, dan pengajian bagi warga setempat. Namun, kontroversi muncul saat hiburan musik dangdut dipertontonkan di panggung yang sama setelah agenda utama selesai.

Ketua Panitia, Muhammad Hadiyanto, menjelaskan bahwa penampilan biduan dangdut digelar setelah seluruh kegiatan resmi selesai. “Kami menggelar musik dangdut itu setelah selesainya kegiatan peringatan Isra Mi’raj. Itu juga atas permintaan masyarakat,” jelas Hadiyanto. Menurutnya, hiburan ini dimaksudkan untuk memberikan semangat bagi panitia yang tengah membereskan lokasi acara.

Baca Juga:  Fenomena Jasa Nikah Siri di Media Sosial: Antara Viral, Legalitas, dan Ancaman bagi Perempuan

Hadiyanto menambahkan, “Musik itu digelar untuk menghibur panitia yang sedang bersih-bersih lokasi pengajian. Kami mohon maaf jika menimbulkan kegaduhan.” Meski begitu, video yang beredar membuat banyak pihak menilai batas antara acara religius dan hiburan telah tercampur.

Reaksi Masyarakat dan Media Sosial

Tak lama setelah video tersebar, warganet ramai mengekspresikan kekecewaan mereka. Banyak yang menganggap bahwa peringatan Isra Mi’raj seharusnya dijalankan dengan khidmat dan penuh rasa hormat. Beberapa komentar menekankan pentingnya pemisahan antara hiburan dan momen religius agar nilai-nilai keagamaan tidak tercampur aduk.

Selain itu, kejadian ini menjadi bahan perbincangan di berbagai platform media sosial. Tagar terkait peringatan Isra Mi’raj dan hiburan dangdut di panggung religi ramai digunakan, menunjukkan bahwa masyarakat luas merasa perlu memberi perhatian pada bagaimana acara keagamaan dijalankan.

MUI Banyuwangi Turun Tangan

Meski panitia telah menyampaikan permohonan maaf, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi menegaskan akan menindaklanjuti kasus ini. Wakil Ketua Umum DP MUI Banyuwangi, Kiai Sunandi Zubaidi, menyatakan sikap tegas terhadap fenomena yang terjadi.

“Keluhuran dakwah dicoreng dengan perbuatan yang tidak Islami. Alasan panitia tidak bisa diterima. Ini bisa mengarah pada penistaan agama. Harus ada teguran keras,” tegas Kiai Sunandi.

Baca Juga:  MUI: Haram Hukumnya Orang Kaya Isi BBM Bersubsidi

Ia menjelaskan bahwa MUI tengah berkoordinasi dengan kepolisian untuk memastikan apakah ada unsur kesengajaan dalam penyelenggaraan hiburan dangdut di panggung peringatan Isra Mi’raj tersebut. “Jika ditemukan bukti kuat, MUI tidak segan membawa kasus ini ke jalur hukum sebagai efek jera,” ujarnya.

Perspektif Panitia vs Etika Agama

Pertentangan antara niat panitia dan tanggapan masyarakat menjadi sorotan utama. Dari sisi panitia, hiburan tersebut hanya dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi terhadap panitia yang bekerja keras sepanjang acara. Dari sisi masyarakat dan tokoh agama, panggung peringatan Isra Mi’raj seharusnya menjadi ruang yang sakral, dan campur aduk dengan hiburan populer seperti dangdut dapat menimbulkan salah paham serta menurunkan kesakralan acara.

“Ini bukan soal hiburan atau musik, tapi soal konteks dan tempat. Panggung peringatan agama punya makna khusus. Menempatkan musik dangdut di sana, apalagi dengan saweran, jelas menimbulkan persepsi yang salah,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat yang enggan disebutkan namanya.

Pentingnya Edukasi dan Protokol Acara

Kejadian ini menekankan pentingnya edukasi bagi panitia penyelenggara acara keagamaan, terutama terkait pemisahan antara agenda religius dan hiburan. Beberapa pihak menyarankan agar setiap acara keagamaan memiliki protokol yang jelas, termasuk pembatasan jenis hiburan yang diperbolehkan dan jam pelaksanaannya.

Selain itu, keterlibatan tokoh agama dalam pengawasan jalannya acara dianggap sangat penting. Kehadiran mereka dapat memastikan agar acara tetap berjalan sesuai nilai-nilai agama, sekaligus memberikan panduan kepada panitia dalam menentukan jenis hiburan yang layak.

Baca Juga:  MUI Minta Konten Kreator Hadirkan Tontonan Edukatif Selama Ramadhan

Refleksi untuk Penyelenggaraan Acara Mendatang

Kasus ini menjadi pelajaran bagi semua pihak, baik panitia, masyarakat, maupun tokoh agama, untuk lebih memperhatikan tata kelola acara keagamaan. Transparansi, koordinasi, dan komunikasi antara panitia dan tokoh agama menjadi kunci agar momen peringatan agama tetap sakral, tanpa menimbulkan kontroversi.

Sementara itu, masyarakat Banyuwangi diharapkan bisa tetap menjaga sikap bijak dalam merespons kejadian serupa di masa mendatang. Diskusi mengenai batas hiburan dan momen religius pun menjadi topik yang layak untuk diperluas, agar generasi muda memahami nilai-nilai agama dan etika publik secara bersamaan.

Kesimpulan

Peristiwa biduan dangdut tampil di panggung peringatan Isra Mi’raj di Banyuwangi memicu perdebatan mengenai etika penyelenggaraan acara keagamaan. Dari sisi panitia, niatnya adalah memberi hiburan ringan pasca-acara utama, sementara masyarakat dan MUI menekankan pentingnya menjaga kesucian momen religius.

Kejadian ini mengingatkan bahwa setiap acara keagamaan perlu protokol yang jelas dan koordinasi erat antara panitia dan tokoh agama. Dengan begitu, nilai-nilai religius dapat dihormati, masyarakat teredukasi, dan risiko kontroversi dapat diminimalkan.

Seiring proses investigasi yang sedang berjalan oleh MUI dan kepolisian, masyarakat diharapkan tetap tenang dan menunggu hasil resmi, sambil menjadikan peristiwa ini sebagai bahan refleksi bagi penyelenggaraan peringatan keagamaan di masa depan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Kontroversi MUI
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Sama-Sama Tercekik Biaya Hidup! Warga Prancis Berani Runtuhkan Kota, Rakyat RI Cuma Sibuk Mode Bertahan?

Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga

Ancaman Asap Karhutla Belum Usai, Kasus ISPA Lampaui 300 Ribu Orang: Ini Daerah yang Paling Terdampak

Bantuan Subsidi Upah 2026 Total Rp900 Ribu, Kapan Cair ke Rekening Pekerja?

Eropa Membara! Berawal dari Aksi Pelajar Prancis, Gelombang Unjuk Rasa Meluas Hingga Bentrokan di 6 Negara

Demo Jakarta

Jelang Demo 2 Tahun Prabowo-Gibran, Disdik Jabar Tebar Ancaman Sanksi Bagi Pelajar yang Nekat Ikut Aksi

Terpopuler
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
  • Flexing Nikah Berbuah Hujatan! Nasib Tragis Juan dan Evelyn hingga Gulung Tikar dari Youtube!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.