bukamata.id – Sebuah video yang menampilkan sekelompok bocah kecil dari Kecamatan Sepauk, Kalimantan Barat, mendadak viral di media sosial.
Video yang diunggah akun Instagram @elisabetmurniw itu tak sekadar mengundang tawa karena kepolosan anak-anak, tetapi juga memantik diskusi serius tentang kondisi infrastruktur dan cara penyampaian aspirasi di era digital.
Dalam video tersebut, seorang bocah laki-laki berperawakan gemoy berdiri di tengah jalan tanah yang tampak rusak parah.
Permukaan jalan terlihat berlumpur, licin, dan dipenuhi kubangan bekas roda kendaraan. Dengan gaya ceplas-ceplos khas anak-anak Gen Alpha, ia menyampaikan kritik tajam yang langsung menyasar pucuk pimpinan daerah.
“Kami dari Bedayan, SP3… Kecamatan Sepauk… ingin menyampaikan jalan kami yang licak… lecut… karena Gubernur kami itu kerjanya molor… tidur… pingsan…”
Ucapan itu langsung disambut oleh temannya yang turut menyuarakan kekecewaan:
“Mikirin kaya sendiri, gak mikirin masyarakat yang banyak…”
Tak berhenti di situ, bocah tersebut kembali melontarkan pernyataan yang semakin menyita perhatian publik:
“Entah percuma jadi gubernur, mending Kang Dedi yang jadi gubernur dua bulan.”
Pernyataan spontan itu dengan cepat menyebar luas, memperlihatkan bagaimana suara anak-anak di daerah pun kini bisa menjadi sorotan nasional berkat kekuatan media sosial.
Potret Jalan Rusak dan Realitas Warga
Video tersebut bukanlah satu-satunya dokumentasi kondisi jalan di wilayah itu. Dalam unggahan lain di akun yang sama, terlihat bagaimana warga harus berjibaku melewati jalan rusak yang berlumpur, bahkan bergotong royong membantu kendaraan yang terjebak.
Kondisi ini menggambarkan realitas yang dihadapi masyarakat di sejumlah daerah pelosok: akses jalan yang terbatas berdampak langsung pada mobilitas, ekonomi, hingga pendidikan.
Narasi yang muncul dari video bocah ini pun menjadi simbol sederhana dari keresahan masyarakat yang selama ini mungkin tidak tersampaikan secara luas.
Warganet: Antara Apresiasi dan Sindiran Pedas
Respons publik di media sosial pun beragam, mulai dari apresiasi hingga kritik tajam yang dibalut humor satir. Banyak warganet justru menilai cara penyampaian bocah tersebut lebih jujur dan menyentuh dibandingkan kritik formal.
Salah satu pengguna menulis bahwa anak-anak tersebut mampu menyampaikan aspirasi dengan lugas dan berani. Narasi ini menggambarkan kekaguman publik terhadap keberanian generasi muda dalam menyuarakan kondisi di daerahnya.
Ada pula yang menyebut fenomena ini sebagai “cara baru” dalam menyampaikan kritik. Warganet menilai penggunaan figur anak-anak dianggap lebih aman dari tekanan, sekaligus lebih mudah menarik perhatian publik luas.
Di sisi lain, muncul juga komentar bernuansa satire yang menyentil pejabat. Beberapa menyebut bahwa kondisi ini menjadi ironi ketika kritik tajam justru datang dari anak-anak, bukan dari forum resmi.
Bahkan, ada komentar yang menyebut bahwa “harga diri pejabat seperti sedang diuji,” menggambarkan bagaimana publik memaknai video tersebut sebagai bentuk kritik sosial yang cukup keras.
Narasi-narasi warganet ini memperlihatkan satu hal: video sederhana tersebut telah berkembang menjadi simbol kekecewaan kolektif yang lebih luas.
Tanggapan Pemerintah Provinsi
Menanggapi viralnya video tersebut, pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Kepala Dinas PUPR, Iskandar Zulkarnaen, memberikan klarifikasi.
Ia menjelaskan bahwa ruas jalan Bedayan hingga Libau di Kecamatan Sepauk merupakan kewenangan pemerintah kabupaten, dalam hal ini Kabupaten Sintang, bukan pemerintah provinsi yang dipimpin Ria Norsan.
Meski demikian, Pemprov Kalbar disebut telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp39 miliar pada Februari 2026 untuk membantu perbaikan sejumlah ruas jalan di wilayah Sintang sebagai bagian dari upaya peningkatan konektivitas.
Namun, pemerintah juga menyayangkan keterlibatan anak-anak dalam video tersebut. Mereka menilai penyampaian aspirasi sebaiknya dilakukan secara bijak dan berbasis pemahaman yang cukup, serta mengimbau orang tua untuk memberikan pendampingan.
Dalam kesempatan terpisah, Ria Norsan menegaskan bahwa pemerintah provinsi saat ini memprioritaskan penanganan jalan provinsi yang mengalami kerusakan berat.
Fenomena Gen Alpha dan Era Kritik Digital
Viralnya video ini juga menjadi gambaran tentang perubahan cara masyarakat menyampaikan aspirasi. Generasi Alpha, yang lahir di era digital tumbuh dalam lingkungan di mana media sosial menjadi ruang ekspresi utama.
Kepolosan mereka justru menjadi kekuatan, karena pesan yang disampaikan terasa jujur, spontan, dan tanpa kepentingan politis.
Namun di sisi lain, fenomena ini juga memunculkan pertanyaan etis: sejauh mana anak-anak seharusnya dilibatkan dalam kritik sosial? Apakah ini bentuk edukasi demokrasi sejak dini, atau justru eksploitasi yang perlu diwaspadai?
Antara Kritik, Harapan, dan Realitas
Terlepas dari pro dan kontra, satu hal yang tak terbantahkan: video bocah dari Sepauk ini telah membuka ruang diskusi luas tentang kondisi infrastruktur dan respons pemerintah.
Apa yang disampaikan dengan bahasa sederhana oleh anak-anak itu sejatinya mencerminkan harapan masyarakat akan perubahan nyata.
Kini, sorotan publik tak lagi hanya tertuju pada video viralnya, tetapi juga pada langkah konkret yang akan diambil untuk menjawab persoalan yang selama ini dirasakan warga.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










