Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Jadwal Imsak Hari Ini: 20 Februari 2026, Lengkap dengan Niat Puasa Ramadhan

Jumat, 20 Februari 2026 03:00 WIB

Buruan Cek! Link Video Nay TikTok Blunder Jadi Incaran Netizen, Awas Jebakan Mengintai

Jumat, 20 Februari 2026 02:00 WIB
menonton film

Nonton Film Gratis di LK21: Nyesel Baru Tahu Ternyata Ada Mata-mata yang Bisa Sadap HP!

Jumat, 20 Februari 2026 01:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Jadwal Imsak Hari Ini: 20 Februari 2026, Lengkap dengan Niat Puasa Ramadhan
  • Buruan Cek! Link Video Nay TikTok Blunder Jadi Incaran Netizen, Awas Jebakan Mengintai
  • Nonton Film Gratis di LK21: Nyesel Baru Tahu Ternyata Ada Mata-mata yang Bisa Sadap HP!
  • Prabowo Hadiri Pertemuan Perdana Board of Peace Bentukan Trump di Washington
  • Link Video Chindo Adidas Full Version Bertebaran, Awas Jangan Sampai Jadi Korban Selanjutnya!
  • Polemik Kursi Ketua DPW PPP Jabar: Pepep Saepul Hidayat Seret DPP ke Pengadilan
  • Satu Tahun Pimpin Kota Bandung, Farhan Soroti Ekonomi Tumbuh di Atas 5 Persen
  • Mau Bukber Seru di Bandung? Ini 5 Kafe Hits dengan Paket Iftar Lengkap
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 20 Februari 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi Dikritik: Pejabat Hiburan Rakyat Mirip Baim Wong

By Aga GustianaMinggu, 13 April 2025 09:21 WIB2 Mins Read
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto: net)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tengah menjadi sorotan tajam dari pegiat media sosial sekaligus komentator politik, Eko Kuntadhi. Ia menilai sejumlah kebijakan Dedi cenderung populis dan lebih berorientasi pada pencitraan ketimbang menyelesaikan masalah secara substansial.

Salah satu yang menjadi perhatian Eko adalah pendekatan Dedi dalam berkomunikasi dengan publik melalui kanal YouTube pribadinya. Menurut Eko, konten yang disajikan cenderung menghibur dan emosional, bahkan mirip dengan gaya konten selebritas seperti Baim Wong.

“YouTube-nya Dedi Mulyadi kan kaya mirip-mirip Baim Wong, ada nangis-nangisnya. Itu hiburan, tapi gubernur harus lebih dari sekadar menghibur. Fungsinya tak bisa disamakan dengan figur publik hiburan,” ujar Eko dikutip Minggu (13/4/2025).

Bongkar Bangunan di Puncak: Gebrakan atau Sekadar Show?

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Targetkan Infrastruktur Seluruh Desa Jabar Rampung 2027!

Eko juga menyoroti langkah Dedi membongkar bangunan hiburan liar di kawasan Puncak. Meski tindakan ini diklaim sebagai upaya mengatasi banjir, Eko menilai pendekatan tersebut terlalu parsial dan berpotensi hanya menjadi aksi simbolis belaka.

“Kalau cuma bongkar satu-dua bangunan, itu bukan solusi. Penanganan kawasan Puncak harus menyeluruh, menyasar ratusan bangunan ilegal. Kalau tidak, itu hanya show untuk YouTube. Kita tepuk tangan, menangis, lalu selesai,” katanya.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Lawan Narasi Jawa Barat Has Fallen, Pakar Kasih Jalan Keluar

Menurut Eko, penataan kawasan yang berkelanjutan dan sistematis jauh lebih penting daripada aksi tunggal yang viral.

Insentif Pajak Kendaraan Dinilai Tak Adil

Tak hanya soal kebijakan tata ruang, Eko juga mengkritisi kebijakan pemutihan denda pajak kendaraan bermotor. Ia menilai kebijakan tersebut tidak adil bagi masyarakat yang selama ini taat membayar pajak.

“Bayangkan, yang taat pajak tidak dapat insentif, tapi yang melanggar justru diampuni. Ini menciptakan insentif negatif dalam tata kelola pajak,” ujarnya.

Lebih jauh, Eko memperingatkan potensi kerugian besar dari kebijakan tersebut. Ia menyebut, jika tak dikendalikan, penghapusan denda pajak bisa menyebabkan kehilangan potensi pendapatan daerah hingga Rp30 triliun.

Baca Juga:  Cara Elegan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Menanggapi Para 'Pencaci'

“Uang sebesar itu bisa untuk membangun sekolah, fasilitas umum, dan bantuan sosial. Kalau hilang karena kebijakan populis, masyarakat yang paling dirugikan,” tambahnya.

Tantangan Kepemimpinan di Era Digital

Kritik Eko Kuntadhi menggambarkan tantangan baru dalam kepemimpinan era digital—di mana popularitas di media sosial tak selalu sejalan dengan efektivitas kebijakan. Ia mengingatkan bahwa jabatan publik bukan sekadar soal pencitraan, tetapi juga soal dampak nyata bagi masyarakat luas.

“Gubernur bukan YouTuber. Kita butuh pemimpin yang bukan hanya viral, tapi juga visioner,” pungkas Eko.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Baim Wong Dedi Mulyadi gubernur jawa barat
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Jadwal Imsak Hari Ini: 20 Februari 2026, Lengkap dengan Niat Puasa Ramadhan

Presiden Prabowo Subianto

Prabowo Hadiri Pertemuan Perdana Board of Peace Bentukan Trump di Washington

Polemik Kursi Ketua DPW PPP Jabar: Pepep Saepul Hidayat Seret DPP ke Pengadilan

Satu Tahun Pimpin Kota Bandung, Farhan Soroti Ekonomi Tumbuh di Atas 5 Persen

Pengendara Motor Tewas Tabrak Trotoar di Jalan Terusan Pasirkoja Bandung

Satpol PP Bandung Tegaskan Larangan Jualan Takjil di Zona Terlarang

Terpopuler
  • Apa Isi Video Teh Pucuk 17 Menit? Link No Sensor Bikin Penasaran
  • Beredar! Link Video Teh Pucuk 17 Menit, Full Durasi No Sensor
  • Viral No Sensor Video Teh Pucuk Durasi Panjang 17 Menit, Cek Faktanya!
  • Link Video Teh Pucuk 17 Menit vs 1 Menit 50 Detik: Benarkah Ada Dua Versi atau Sekadar Jebakan?
  • Viral! Link Video Teh Pucuk 17 Menit No Sensor, Nonton Full Dimana?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.