bukamata.id – Mantan dosen UIN Malang, Imam Muslimin atau yang akrab disapa Yai Mim, tengah menjadi sorotan publik setelah terlibat perseteruan sengit dengan tetangganya, Nurul Sahara. Di tengah berbagai tudingan yang menimpanya, Yai Mim justru mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dalam pertemuan terbaru mereka, Yai Mim membagikan tafsir uniknya tentang konsep musyarokah, yang ia kaitkan dengan prinsip hidup berdampingan dengan alam. Menurutnya, istilah musyrik sering disalahpahami dengan konotasi negatif, padahal bisa dimaknai sebagai kebersamaan atau kerja sama dalam menjaga ciptaan Allah SWT.
“Kang Dedi, itu ajarannya kan itu yg musyrik-musyrik lah. Saya justru kalau ada pohon besar, orang-orang tak ajak musyrik dulu untuk apa? Untuk musyarokah, itu artinya kerja sama,” jelas Yai Mim, seperti dikutip dari akun Instagram Dedi Mulyadi pada Rabu (1/10/2025).
Baca Juga: Kronologi Lengkap Versi Yai Mim: Konflik dengan Sahara Berujung Diusir Warga
Ia menambahkan, “Jadi, musyrik itu apa? Memelihara kepada sesuatu, misalnya pohon itu besar, lalu kita pelihara, kita obong-obong, kita jaga kita kasih supaya dia mengeluarkan oksigen, kita memelihara pohon, dia memberikan perlindungan pada kita. Namanya musyarokah. Syirik, Musyarokah menuju Allah.”
Dedi Mulyadi pun mengapresiasi penjelasan Yai Mim yang menurutnya sarat makna. “Waduh ini Pak Yai, malah nge-fans sama berandalan kayak saya. Tafsir musyarokah-nya keren banget dan semoga menambah wawasan netizen sekalian,” tulisnya.
Dedi juga menekankan bahwa istilah musyarokah seakar dengan kata ‘masyarakat’, yang berarti hidup dalam kebersamaan baik dalam komunitas manusia maupun alam.
Awal Perseteruan
Perseteruan antara Yai Mim dan tetangganya, Sahara, mencuat ke publik setelah Sahara melontarkan tuduhan mulai dari pelecehan seksual hingga perusakan mobil rental miliknya.
Tuduhan itu membuat Yai Mim sempat dinonaktifkan dari jabatannya sebagai dosen UIN Malang, dan pada 22 September 2025, ia bersama keluarganya diusir dari rumah oleh aparat setempat.
Baca Juga: Status Tanah Jadi Konflik Yai Mim vs Sahara, Camat Bilang Bukan Tanah Wakaf
Klarifikasi Yai Mim
Menanggapi tudingan tersebut, Yai Mim menegaskan bahwa semua tuduhan Sahara tidak berdasar. Dalam klarifikasinya melalui media sosial istrinya, Rosida Vignesvari, dan kanal YouTube Sumargo Denny, ia menyebut konflik itu bermula dari penggunaan tanah miliknya oleh Sahara untuk kandang kambing dan parkir mobil rental.
“Saya tidak pernah melakukan blokade jalan, apalagi pencabulan seperti yang dituduhkan. RT, RW, dan warga hanya mendengar keterangan sepihak dari Sahara. Tidak pernah ada mediasi resmi,” ujar Yai Mim.
Ia menceritakan insiden yang menjadi titik awal tuduhan cabul. Saat istrinya sedang berhaji, Sahara membawa makanan ke rumahnya dan mengunci pintu. Yai Mim menegur agar pintu dibuka, tetapi situasi memanas hingga ia dituduh cabul.
“Dia langsung bilang, ‘woi Pak Kyai cabul!’ Saya kaget banget, apalagi saya pakai celana pendek mau nyuci. Dari bawah juga terdengar suara suami Nurul Sahara, Pak Sofyan, dia manggil anaknya Sepim, suaranya keras,” jelasnya.
Untuk menghindari konflik lebih lanjut, Yai Mim memilih menjauh dan melakukan aktivitas lain. Saat ini, perseteruan keduanya telah masuk ranah hukum, dengan Yai Mim dan Sahara sama-sama melaporkan kejadian ke pihak kepolisian.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










