bukamata.id – Ketika jutaan pasang mata di seluruh dunia tertuju pada megahnya final FIFA World Cup 2026 di MetLife Stadium, New Jersey, perhatian publik nyaris seluruhnya tersedot kepada aksi para bintang sepak bola di atas lapangan. Namun, sedikit yang menyadari bahwa di balik setiap detik jalannya seremoni pembukaan hingga penutupan, terdapat sosok-sosok yang bekerja tanpa sorotan kamera.
Yang membanggakan, dua di antaranya adalah perempuan asal Indonesia.
Mereka adalah Wellah Hatta, seorang Senior Stage Manager yang dipercaya mengendalikan berbagai seremoni resmi FIFA World Cup 2026, dan Mita Yulian Sasmita, perempuan asal Kalimantan Selatan yang kembali dipercaya menjadi relawan FIFA untuk edisi ketiga secara beruntun.
Keduanya memang tidak mencetak gol atau mengangkat trofi. Namun, dedikasi mereka menjadi bagian penting yang memastikan turnamen sepak bola terbesar di dunia berjalan mulus di balik layar.
Perjalanan Wellah dan Mita menunjukkan bahwa talenta Indonesia mampu bersaing di level internasional, bahkan dalam ajang olahraga paling bergengsi di planet ini.
Wellah Hatta, Perempuan Indonesia yang Mengatur Panggung Megah Final Piala Dunia 2026
Nama Wellah Hatta mendadak menjadi perbincangan publik setelah diketahui menjadi bagian dari tim produksi FIFA World Cup 2026.
Melalui akun Instagram pribadinya, Wellah membagikan sejumlah momen saat berada langsung di lapangan MetLife Stadium mengenakan seragam resmi FIFA lengkap dengan kartu identitas penyelenggara.
Unggahan tersebut memperlihatkan bahwa dirinya bukan sekadar tamu undangan, melainkan salah satu sosok penting di balik jalannya upacara pembukaan dan penutupan turnamen.
“Three ceremonies done back to back. It’s been so much fun!” tulis Wellah melalui akun Instagram @wellahhatta.
Kalimat sederhana itu menggambarkan perjalanan panjangnya selama hampir tiga bulan mengawal rangkaian acara FIFA World Cup 2026.
Mengawal Tiga Acara Besar FIFA dalam Tiga Kota Berbeda
Sebagai Senior Stage Manager di Balich Wonder Studio, Wellah dipercaya menangani tiga agenda terbesar selama Piala Dunia berlangsung.
Perjalanannya dimulai dari:
- Opening Ceremony di Los Angeles.
- Perayaan 250 Tahun Kemerdekaan Amerika Serikat di Philadelphia.
- Closing Ceremony dan Final Piala Dunia di New York-New Jersey.
Posisi stage manager bukanlah pekerjaan yang sederhana.
Ia harus memastikan ribuan penampil bergerak sesuai koreografi, mengatur perpindahan panggung hanya dalam hitungan detik, mengoordinasikan kru dari berbagai negara, hingga memastikan seluruh acara berjalan sesuai standar keselamatan FIFA.
Kesalahan sekecil apa pun bisa berdampak pada siaran langsung yang disaksikan miliaran orang.
Karena itulah profesi ini menuntut ketelitian, kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan mengambil keputusan dalam tekanan tinggi.
Momen Berkesan Bersama Tom Cruise
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Wellah terjadi saat penutupan Piala Dunia 2026.
Aktor Hollywood Tom Cruise, yang menjadi bagian dari closing ceremony, ternyata meninggalkan kesan mendalam baginya.
Dalam unggahannya, Wellah menceritakan bahwa Tom Cruise menunjukkan sikap yang sangat ramah kepada seluruh kru produksi.
“Highlight closing ceremony ini adalah Tom Cruise yang baiknya baik banget buset,” tulisnya.
Menurut Wellah, usai latihan, Tom Cruise bahkan menawarkan diri untuk berfoto bersama.
Ketika Wellah mengatakan telepon genggamnya tertinggal, aktor Mission Impossible tersebut justru meminta kru lapangan mengambilkan dokumentasi dan memastikan foto itu benar-benar diterima Wellah.
Momen interaksi keduanya juga sempat muncul dalam unggahan resmi FIFA di media sosial.
Sudah 16 Tahun Berkecimpung di Dunia Stage Management
Kepercayaan FIFA kepada Wellah tentu bukan datang secara instan.
Perempuan Indonesia ini telah menghabiskan lebih dari 16 tahun membangun karier di industri pertunjukan internasional.
Saat ini ia menjabat sebagai Senior Stage Manager di Balich Wonder Studio, perusahaan kreatif global yang dikenal menangani berbagai pertunjukan kelas dunia.
Sebelumnya, Wellah juga dipercaya mengawal:
- FIFA World Cup Qatar 2022
- Asian Games 2018 Jakarta-Palembang
- Asian Para Games 2018
- SEA Games Filipina 2019
- Saudi Games
- 26th Arabian Gulf Cup Championship
Tak hanya ajang olahraga, rekam jejaknya juga mencakup proyek-proyek internasional seperti:
- Expo 2020 Dubai
- KSA Pavilion Expo 2025 Osaka
- SeaWorld Abu Dhabi
Di Indonesia, Wellah turut menjadi bagian dari:
- PON XX Papua
- PON XXI Sumatera Utara
Berawal dari Bali hingga Menembus Dunia
Karier Wellah dibangun dari bawah.
Ia pernah menghabiskan hampir enam tahun di Bali Safari & Marine Park sebelum dipercaya menjadi Show and Entertainment Manager di Cartoon Network Amazone Thailand.
Pengalaman panjang tersebut membentuk kemampuannya mengelola pertunjukan berskala besar.
Meski kini lebih banyak bekerja di panggung internasional, Wellah tetap aktif mendukung industri seni pertunjukan Indonesia.
Ia pernah menjadi stage manager berbagai pertunjukan musikal terkenal seperti:
- Perahu Kertas The Musical
- Cek Toko Sebelah The Musical
- The Addams Family Musical
- Interaksi Musical
Kehadirannya di berbagai proyek tersebut menunjukkan bahwa talenta Indonesia mampu memenuhi standar produksi internasional.
Mita Yulian Sasmita, Perempuan Indonesia yang Tiga Kali Menjadi Volunteer FIFA
Selain Wellah, ada nama lain yang tak kalah menginspirasi.
Mita Yulian Sasmita menjadi salah satu perempuan Indonesia yang berhasil mencatat sejarah sebagai relawan FIFA di tiga edisi Piala Dunia berturut-turut.
Ia bertugas pada:
- FIFA World Cup Rusia 2018
- FIFA World Cup Qatar 2022
- FIFA World Cup 2026 Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko
Tak banyak orang di dunia yang mampu mencatat pencapaian tersebut.
Bahkan untuk edisi 2026 saja, FIFA menerima lebih dari satu juta pendaftar volunteer dari berbagai negara.
Di tengah persaingan yang sangat ketat, Mita kembali berhasil lolos seleksi.
Dari Ticketing Hingga Broadcast Services
Pada Piala Dunia Rusia 2018 dan Qatar 2022, Mita bertugas di divisi Ticketing.
Sementara pada Piala Dunia 2026, ia dipercaya bergabung di Broadcast Services, divisi yang mendukung operasional penyiaran pertandingan.
Tugasnya meliputi:
- Menyambut tim broadcaster internasional.
- Mendistribusikan perangkat pendukung siaran.
- Mengantar media partner menuju lokasi liputan.
- Memastikan kebutuhan operasional penyiaran berjalan lancar.
Seluruh pekerjaan tersebut menjadi bagian penting agar miliaran penonton di seluruh dunia dapat menikmati pertandingan tanpa kendala.
Bermodal Mimpi Masa Kecil
Bagi Mita, menjadi relawan FIFA bukan sekadar hobi.
Semuanya berawal dari mimpi masa kecil.
Saat menonton Piala Dunia 1998, ia selalu terpukau melihat orang-orang membawa bendera negara ke lapangan sebelum pertandingan dimulai.
Sejak saat itu, ia menyimpan satu impian sederhana.
“Pengen kerja di Piala Dunia.”
Mimpi itu akhirnya mulai menjadi kenyataan ketika ia lolos menjadi relawan FIFA Confederations Cup Rusia 2017.
Kesempatan tersebut membuka jalan menuju Piala Dunia 2018, Qatar 2022, hingga Amerika Serikat 2026.
Dalam unggahan di Instagram pribadinya, Mita mengaku sempat meneteskan air mata ketika menjalani shift pertamanya di Dallas Stadium.
Ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang sangat besar.
Rela Mengeluarkan Biaya Sendiri Demi Pengalaman
Yang membuat kisah Mita semakin menginspirasi adalah perjuangannya. Berbeda dengan anggapan sebagian orang, relawan FIFA tidak menerima gaji.
Bahkan biaya perjalanan, penginapan, hingga sebagian besar kebutuhan selama bertugas harus ditanggung sendiri.
Mita harus mengurus visa, mencari sponsor, serta menyiapkan dana keberangkatan secara mandiri.
Namun semua itu tidak dianggap sebagai beban.
Menurutnya, pengalaman menjadi bagian dari Piala Dunia jauh lebih berharga dibandingkan materi.
“Jadi relawan memang nggak dibayar uang, tapi memperkaya hidup bisa dengan pengalaman.”
Guru Bahasa Inggris yang Mendunia Lewat FIFA
Di balik kiprahnya di panggung sepak bola dunia, Mita menjalani profesi yang jauh dari hiruk-pikuk stadion.
Perempuan berusia 41 tahun asal Kalimantan Selatan ini merupakan seorang guru Bahasa Inggris yang telah berkarier lebih dari 18 tahun.
Ia merupakan lulusan Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris STIBA IEC dan pernah mengajar di English First (EF).
Kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni menjadi salah satu modal penting yang membawanya lolos dalam seleksi volunteer FIFA.
Pengalaman internasionalnya dimulai sejak FIFA Confederations Cup 2017 sebelum kemudian dipercaya menjadi bagian dari Local Organizing Committee Piala Dunia Rusia 2018.
Kini, Mita bahkan telah menargetkan untuk kembali menjadi volunteer pada Piala Dunia 2030.
Bukti Talenta Indonesia Diakui Dunia
Kisah Wellah Hatta dan Mita Yulian Sasmita menunjukkan bahwa kontribusi Indonesia di Piala Dunia tidak hanya datang dari tribun penonton atau layar televisi.
Di balik kemegahan opening ceremony, penutupan spektakuler, hingga kelancaran siaran pertandingan yang disaksikan miliaran orang, ada tangan-tangan profesional asal Indonesia yang bekerja dengan standar kelas dunia.
Wellah membuktikan bahwa kemampuan mengelola pertunjukan internasional dapat mengantarkannya menjadi sosok penting di balik panggung FIFA. Sementara Mita memperlihatkan bahwa mimpi masa kecil, jika dibarengi ketekunan dan keberanian, mampu membawanya menembus tiga edisi Piala Dunia berturut-turut.
Keduanya menjadi inspirasi bahwa perempuan Indonesia tidak hanya mampu berprestasi di dalam negeri, tetapi juga mengambil peran strategis dalam penyelenggaraan salah satu ajang olahraga paling bergengsi di dunia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










