bukamata.id – Kegagalan Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026 tidak hanya mengakhiri perjalanan Taeguk Warriors di fase grup. Kekalahan tersebut juga memicu gelombang kemarahan publik yang disebut-sebut sebagai salah satu reaksi paling keras dalam sejarah sepak bola Negeri Ginseng.
Mulai dari hujatan di media sosial, tuntutan agar pelatih mundur, wajah pelatih yang sengaja diburamkan di televisi nasional, hingga intervensi langsung dari Presiden Korea Selatan menjadi gambaran betapa tingginya ekspektasi masyarakat terhadap tim nasional mereka.
Situasi ini bahkan mengingatkan publik pada insiden Piala Dunia 2018, ketika para pemain Korea Selatan dilempari telur sesaat setelah tiba di Bandara Incheon akibat gagal lolos ke fase gugur.
Korea Selatan Tersingkir Meski Masih Punya Harapan
Perjalanan Korea Selatan di Piala Dunia 2026 sebenarnya dimulai cukup menjanjikan. Pada laga pembuka Grup A, mereka sukses menaklukkan Republik Ceko dengan skor 2-1.
Namun setelah itu, performa Son Heung-min dan kolega justru menurun drastis.
Taeguk Warriors kalah 0-1 dari Meksiko sebelum kembali takluk dengan skor identik saat menghadapi Afrika Selatan pada pertandingan terakhir fase grup.
Dengan format baru Piala Dunia 2026 yang memberikan kesempatan kepada delapan tim peringkat ketiga terbaik untuk lolos ke babak 32 besar, Korea Selatan sempat menggantungkan harapan kepada hasil pertandingan grup lain.
Harapan itu akhirnya pupus setelah Republik Demokratik Kongo bangkit mengalahkan Uzbekistan 3-1. Hasil tersebut membuat RD Kongo mengamankan satu tiket sebagai tim peringkat ketiga terbaik, sementara Korea Selatan hanya finis di posisi kesembilan klasemen peringkat tiga terbaik dan dipastikan tersingkir.
Padahal, ini merupakan penampilan ke-11 secara beruntun Korea Selatan di Piala Dunia sejak 1986, sebuah rekor yang selama ini menjadi kebanggaan sepak bola Asia.
Keputusan Hong Myung-bo Dipertanyakan
Kritik terhadap pelatih Hong Myung-bo sebenarnya sudah muncul bahkan sebelum Korea Selatan resmi tersingkir.
Sorotan terbesar datang dari keputusannya mencadangkan kapten tim Son Heung-min saat menghadapi Afrika Selatan.
Son baru dimainkan pada babak kedua ketika Korea Selatan sudah tertinggal. Sang kapten hanya mampu melepaskan satu tembakan sepanjang pertandingan.
Usai laga, Hong menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi.
Menurutnya, Son dinilai akan lebih efektif ketika pertahanan lawan mulai kehilangan energi pada babak kedua.
Namun strategi itu justru menjadi bumerang.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Hong mengakui apabila mengetahui hasil akhirnya, ia kemungkinan akan mengambil keputusan berbeda.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh tanggung jawab berada di pundaknya sebagai pelatih kepala.
Pertanyaan Keracunan Makanan Jadi Sorotan
Ada satu momen lain yang sempat menyita perhatian publik saat konferensi pers seusai pertandingan melawan Afrika Selatan.
Seorang jurnalis menanyakan apakah para pemain mengalami keracunan makanan secara massal karena banyak pemain terlihat kelelahan sepanjang pertandingan.
Pertanyaan tersebut langsung memancing perhatian warganet Korea Selatan.
Hong Myung-bo membantah spekulasi itu.
Ia memastikan tidak ada satu pun pemain yang mengalami keracunan makanan dan menegaskan kondisi fisik skuad sebenarnya dalam keadaan normal.
Jawaban tersebut justru memperkuat anggapan publik bahwa kekalahan Korea Selatan murni disebabkan faktor permainan dan strategi.
Wajah Pelatih Diburamkan, Simbol Kekecewaan Publik
Puncak kemarahan publik terjadi ketika stasiun televisi nasional KBS menampilkan wajah Hong Myung-bo dalam kondisi diburamkan.
Di Korea Selatan, teknik memburamkan wajah di televisi lazim digunakan terhadap pelaku kriminal, tersangka kasus hukum, atau individu yang identitasnya sengaja disamarkan.
Karena itu, keputusan KBS memburamkan wajah Hong menjadi simbol yang sangat kuat.
Langkah tersebut bukan sekadar kritik terhadap pelatih, tetapi juga mencerminkan besarnya rasa kecewa masyarakat terhadap kegagalan tim nasional.
Cuplikan tersebut kemudian viral di berbagai platform media sosial dan memancing perdebatan mengenai batas kritik terhadap seorang pelatih.
Disambut Hujatan Saat Pulang ke Seoul
Gelombang protes tidak berhenti di media sosial.
Saat Hong Myung-bo bersama sembilan pemain, termasuk Lee Kang-in, Kim Min-jae, dan Hwang Hee-chan tiba di Bandara Internasional Incheon, ratusan suporter telah menunggu.
Alih-alih mendapat sambutan hangat, rombongan tim nasional justru disambut teriakan:
“Hong Myung-bo, keluar!”
Beberapa pendukung membawa spanduk bertuliskan:
“Korean Football Is Dead.”
Situasi yang diperkirakan memanas membuat kepolisian mengawal ketat jalur keluar bandara hingga menuju kendaraan tim.
Hong sendiri memilih tidak memberikan komentar kepada media.
Untuk pertama kalinya sejak Korea Selatan rutin tampil di Piala Dunia luar negeri sejak 2002, Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) juga memutuskan tidak menggelar seremoni penyambutan resmi.
Presiden Korea Selatan Turun Tangan
Besarnya kemarahan masyarakat bahkan membuat Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, ikut angkat bicara.
Dalam pernyataannya, Lee mengaku bukan hanya terkejut, tetapi benar-benar tidak habis pikir melihat kegagalan tim nasional.
Menurutnya, tersingkirnya Korea Selatan bukan sekadar masalah hasil pertandingan.
Ia menilai terdapat persoalan organisasi dan tata kelola dalam tubuh sepak bola nasional.
Lee meminta Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap penyebab kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia 2026.
Pemerintah juga diminta menyiapkan reformasi sistem agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Pernyataan tersebut sekaligus memperbesar sorotan terhadap proses penunjukan Hong Myung-bo sebagai pelatih pada 2024 yang sejak awal menuai kritik karena dianggap kurang transparan.
Hong Myung-bo Memilih Mundur
Di tengah tekanan publik yang terus meningkat, Hong Myung-bo akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pelatih kepala Timnas Korea Selatan.
Dalam konferensi pers di Meksiko, mantan kapten legendaris Korea Selatan itu menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat.
Ia mengakui tim gagal memenuhi harapan publik.
Hong menegaskan bahwa seluruh tanggung jawab atas kegagalan tersebut berada pada dirinya.
Meski mundur, ia berharap sepak bola Korea Selatan dapat bangkit dan kembali memperoleh kepercayaan masyarakat.
Ancaman Pembunuhan Hingga Pengamanan Bandara
Atmosfer panas di Korea Selatan bahkan memunculkan ancaman pembunuhan terhadap Hong Myung-bo melalui media daring.
Laporan media lokal menyebut kepolisian meningkatkan pengamanan di Bandara Incheon dan beberapa lokasi lain menjelang kepulangan tim nasional.
Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan tindakan anarkistis dari pihak-pihak yang kecewa terhadap hasil Piala Dunia.
Mengingat Tragedi Lempar Telur pada Piala Dunia 2018
Reaksi keras publik kali ini mengingatkan pada peristiwa delapan tahun lalu.
Setelah gagal lolos dari fase grup Piala Dunia 2018 di Rusia, Timnas Korea Selatan juga mendapat sambutan buruk ketika pulang ke tanah air.
Saat itu Korea Selatan memang menutup turnamen dengan kemenangan mengejutkan 2-0 atas Jerman, sang juara bertahan.
Namun kemenangan tersebut tetap tidak cukup membawa mereka lolos ke babak gugur.
Sesampainya di Bandara Incheon, beberapa pendukung yang kecewa melemparkan telur ke arah para pemain saat sesi penyambutan.
Beruntung, telur-telur tersebut hanya mengenai karpet dan tidak melukai siapa pun.
Meski aksi itu memenuhi unsur pelanggaran hukum, Asosiasi Sepak Bola Korea memilih tidak membawa kasus tersebut ke jalur hukum karena menganggap kemarahan suporter masih dapat dipahami.
Kini, delapan tahun berselang, bentuk kemarahan publik memang berubah.
Bukan lagi lemparan telur, melainkan hujatan massal di media sosial, simbol pemburaman wajah di televisi nasional, tuntutan mundur, hingga intervensi langsung dari pemerintah.
Namun satu hal tetap sama: ekspektasi masyarakat Korea Selatan terhadap tim nasional mereka selalu berada pada level yang sangat tinggi.
Kegagalan di Piala Dunia 2026 bukan hanya dipandang sebagai kekalahan di lapangan, melainkan juga sebagai kegagalan sistem sepak bola nasional yang kini menuntut evaluasi besar-besaran.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News






