bukamata.id – Di sebuah sudut ruangan, seorang anak laki-laki berusia balita duduk mematung di hadapan piring makannya. Matanya berkaca-kaca, napasnya tersengal menahan tangis yang sewaktu-waktu bisa pecah. Di hadapannya, sebuah ponsel pintar tersandar. Dari layar kaca itu, muncul sesosok pria berbadan tegap memakai seragam polisi lengkap. Dengan intonasi suara yang dalam, tegas, dan dingin, pria di balik layar itu mulai memberikan instruksi.
“Satu butir nasi tidak dihabiskan, kami penjarakan satu bulan anaknya. Jadi, Adzam ini jangan main-main. Segera dihabiskan, makan sendiri!”
Anak laki-laki dalam video tersebut adalah Adzam, putra dari figur publik Nathalie Holscher. Momen keterpukulan emosional sang anak yang berujung pada suapan demi suapan nasi secara tergesa-gesa itu diabadikan, diunggah, dan dalam hitungan jam langsung ditonton oleh jutaan pasang mata di media sosial TikTok.
Adzam tidak sendiri. Di video lain, tampak Nadlyne, putri dari influencer Nanda Arsyinta, mengalami nasib serupa. Sambil mengusap air mata yang menetes di pipi mulusnya, jemari kecil Nadlyne terangkat membentuk sikap hormat ke arah layar ponsel. “Iya, siap,” bisiknya terisak saat diperintahkan untuk segera mengunyah makanannya agar “tidak ditangkap pak polisi.”
Dahulu, kalimat “Awas ya, kalau nakal nanti dipanggilkan polisi!” hanyalah gertakan lisan yang kerap diucapkan orang tua di ruang tamu rumah. Namun, di era panggung digital hari ini, gertakan tersebut mewujud nyata. Ia hadir dalam bentuk panggilan video berdefinisi tinggi, lengkap dengan kostum atribut penegak hukum, dikemas sebagai jasa penertiban anak, dan menjadi tren berlabel viral: Polisi Anak.
Di pusat pusaran fenomena sosial ini, berdiri satu nama akun TikTok yang kini mengumpulkan lebih dari 398 ribu pengikut: @polisianak84. Namun, siapakah sebenarnya sosok pria di balik seragam tersebut? Bagaimana sebuah ide dari daerah berkembang menjadi jualan jasa disiplin instan yang digandrungi deretan selebritas tanah air? Dan yang terpenting: harga apa yang sebenarnya harus dibayar oleh emosi sang anak demi sebuah kepatuhan seketika?
Menelusuri Sosok di Balik @polisianak84: Dari Panggilan Telepon Lokal hingga Menjadi ‘Otoritas’ Nasional
Jauh sebelum namanya wira-wiri di linimasa para selebritas papan atas Jakarta, sosok kreator di balik akun @polisianak84 memulai segalanya dari sebuah kota kecil di Sulawesi. Ia bukanlah pejabat kepolisian yang ditugaskan resmi oleh Markas Besar Polri untuk divisi pengasuhan anak, melainkan seorang kreator konten yang jeli melihat celah psikologis dari keputusasaan para orang tua.
Awal kiprahnya dimulai pada rentang tahun 2024. Saat itu, ia tidak langsung mengandalkan siaran langsung (live streaming) atau panggilan video berbiaya khusus. Konsep awalnya sangat sederhana: merekam percakapan suara dari telepon biasa dengan para orang tua yang kelimpungan menghadapi tingkah laku buah hati mereka.
Di tahap awal tersebut, sang kreator menerima beragam aduan dari para ibu atau ayah yang kewalahan. Keluhannya sangat beragam dan dialami hampir setiap rumah tangga: anak yang menolak untuk tidur siang atau tidur malam tepat waktu, anak yang gemar berbohong atau membantah perkataan orang tua, hingga anak yang mengamuk (tantrum) jika permintaannya tidak dituruti.
Dengan gaya bicara ala aparat penegak hukum—tegas, formal, dan tidak menerima bantahan—kreator asal Sulawesi ini bertindak seolah-olah ia adalah “penyidik” yang sedang memberikan peringatan keras kepada “pelaku pelanggaran” yang tak lain adalah sang anak sendiri.
Melihat respons yang begitu masif, menjelang akhir tahun 2024, kreator ini melakukan lompatan strategi. Ia mulai memanfaatkan fitur siaran langsung di TikTok. Formatnya bertransformasi dari sekadar rekaman suara menjadi interaksi visual secara langsung.
Orang tua tidak lagi hanya melaporkan masalah melalui telepon, tetapi menyodorkan anak mereka langsung ke depan kamera ponsel. Dalam sesi siaran langsung tersebut, pemandangan anak-anak yang terperanjat, takut, hingga menangis histeris saat melihat sosok berpotongan rambut rapi dengan seragam polisi di layar HP menjadi tontonan utama yang disaksikan oleh puluhan ribu penonton bersamaan.
Problem anak yang ditanganinya pun makin meluas. Bukan lagi sekadar perkara makan dan tidur, tetapi meluas ke ranah kecanduan teknologi modern seperti anak yang bermain game hingga larut malam yang diancam gawai milik mereka akan disita oleh “polsek”. Begitu pula dengan anak yang berani membentak orang tua ditakut-takuti akan dimasukkan ke dalam sel tahanan khusus anak, hingga anak yang menolak makanan diancam hukuman penjara berdurasi mingguan hingga bulanan.
Sensasi visual yang dihadirkan—perpaduan antara ketegasan seragam, narasi hukuman kurungan, dan ekspresi kepatuhan mendadak yang diperlihatkan anak-anak berwajah polos—menjadi formula ajaib yang disukai algoritma media sosial. Jasa Polisi Anak pun meledak, menembus tembok ruang tamu masyarakat biasa hingga masuk ke dalam rumah-rumah megah para influencer papan atas tanah air.
Komodifikasi Kepasrahan Orang Tua dan Suara Warganet
Mengapa fenomena @polisianak84 begitu cepat diterima dan bahkan dipuji oleh sebagian besar masyarakat? Jawabannya terletak pada kelelahan pengasuhan (parental burnout).
Di era modern, banyak orang tua menghadapi tekanan ganda: tuntutan pekerjaan, paparan informasi parenting yang kerap saling bertolak belakang, serta rentang perhatian anak yang makin pendek akibat gawai. Ketika metode menasihati secara halus gagal, dan metode memarahi secara langsung membuat orang tua merasa bersalah, hadirnya sosok pihak ketiga yang terkesan “berwenang” menjadi jalan pintas yang sangat menggiurkan.
Gelombang dukungan pun mengalir deras di kolom komentar unggahan sang kreator. Banyak orang tua merasa terbantu secara nyata setelah sekian lama frustrasi membimbing anaknya. “Anakku ngaruh banget jadi serba nurut dan teratur,” ujar salah satu netizen yang merasa metode ini sukses besar di rumahnya. Senada dengan hal itu, warganet lain turut melempar pujian bernada kelakar, “Wah ini akun ngebantu banget buat anak-anak bandel wkwkwkwk.”
Bagi kelompok penikmat dan pengguna jasa ini, Polisi Anak dianggap sebagai pahlawan penengah. Kreator ini menawarkan solusi instan hanya dalam durasi panggilan video selama dua hingga tiga menit. Anak yang tadinya melontarkan amukan tiba-tiba menjadi penurut; anak yang tadinya mengunci mulut dari sendok nasi tiba-tiba mengunyah dengan patuh.
Namun, di balik riuhnya pujian tersebut, nada satire dan keprihatinan juga menyelusup di antara ribuan komentar. Salah satu warganet menuliskan kritik bernada sindiran menohok mengenai dampak jangka panjang dari menanamkan ketakutan pada institusi penegak hukum sejak dini. “Mantap saya suka ini, jadi dari kecil kita sudah didik takut polisi. Aku sampai sekarang takut hehe, kalau ada hilang barang dibiarin aja daripada hilang ayam kejual sapi,” tulis netizen tersebut.
Komentar sindiran ini membuka tabir persoalan yang lebih dalam: para pakar perkembangan anak dan psikolog melihat fenomena ini bukan sebagai bentuk keberhasilan edukasi, melainkan sebuah efek plasebo yang berbahaya. Kepatuhan yang dihasilkan oleh gertakan sosok Polisi Anak bukanlah bentuk kesadaran moral anak, melainkan kepatuhan semu akibat tekanan psikologis mendadak.
Bedah Psikologis: Rantai Dampak Mengancam Anak Lewat Rasa Takut
Ketika seorang kreator berkata bahwa satu butir nasi yang tidak dihabiskan akan berujung pada hukuman satu bulan penjara, mekanisme mental seorang anak balita mengalami goncangan yang tak sederhana. Anak-anak pada rentang usia dini, khususnya di bawah tujuh tahun, belum memiliki pemikiran abstrak dan logis yang matang. Mereka menerima setiap perkataan orang dewasa secara harfiah dan mentah-mentah. Bagi seorang balita, ancaman dipenjara atau dipisahkan dari rumah adalah bentuk ancaman eksistensial yang sangat mengerikan.
Proses emosional ini bekerja bagaikan rantai reaksi di dalam otak anak. Ketika anak ditegur dan diancam oleh sosok yang tampak seperti figur otoritas di layar kaca, tubuh anak secara alami akan merespons dengan lonjakan hormon kortisol dan adrenalin secara drastis. Lonjakan ini memicu rasa takut yang luar biasa dan menempatkan anak pada kondisi panik.
Akibat dari rasa panik tersebut, lahirlah sebuah kepatuhan instan. Anak bergegas menghabiskan makanannya atau segera menuruti perintah orang tua semata-mata agar situasi menakutkan itu cepat berakhir. Namun, kepatuhan ini bersifat semu dan kontras dengan rekomendasi para ahli. Jika pendekatan Polisi Anak mengandalkan ancaman hukuman dan rasa takut yang berujung pada kecemasan tinggi serta rentannya ikatan emosional, pendekatan disiplin positif yang direkomendasikan para pakar justru berfokus agar anak memahami alasan tanggung jawab secara bertahap dalam suasana yang aman dan dihargai.
Dalam jangka panjang, tumpukan pengalaman menakutkan dari metode gertakan ini dapat mengendap menjadi kecemasan berlebih, memicu masalah trauma pada figur otoritas, serta mengikis rasa percaya anak terhadap orang tuanya sendiri. Anak tumbuh menjadi sosok penakut yang patuh hanya saat ada pengawasan— persis seperti sindiran netizen yang akhirnya membawa ketakutan pada figur aparat hingga dewasa.
Panduan resmi dari UNICEF Asia Pasifik serta American Academy of Pediatrics secara konsisten menegaskan bahwa disiplin yang efektif adalah disiplin positif. Disiplin positif dibangun di atas komunikasi yang tenang, pembuatan batas (boundary) yang konsisten, dan konsekuensi logis yang masuk akal bagi usia anak—bukan melalui ancaman imajiner yang tidak proporsional.
Eksploitasi Digital dan Etika Privasi Anak: Saat Tangis Menjadi Konten
Hal lain yang tidak kalah krusial dalam fenomena Polisi Anak ini adalah isu privasi anak dan kebiasaan membagikan kehidupan anak secara berlebihan di media sosial (sharenting).
Dalam kasus video Adzam maupun Nadlyne, ekspresi ketakutan, air mata, dan ketidakmampuan mereka untuk memberikan persetujuan (consent) direkam dan dijadikan konsumsi publik. Video tersebut diunggah ke akun dengan ratusan ribu pengikut, direkam ulang oleh akun-akun gosip, dan disebarkan tanpa batas. Hal ini berbanding terbalik dengan prinsip dasar perlindungan anak, di mana kondisi emosional dan rentan seorang anak seharusnya dijaga rapat di dalam ruang privat keluarga, bukan dipamerkan ke publik.
Di era jejak digital abadi, konten yang memperlihatkan seorang anak dalam kondisi kepanikan emosional akan tersimpan secara permanen di internet. Ketika anak-anak tersebut tumbuh dewasa dan memasuki usia remaja, jejak digital masa kecil mereka yang memperlihatkan momen menangis ketakutan di hadapan Polisi Anak berpotensi menjadi bahan olok-olok (cyberbullying) di lingkungan sosial mereka.
Orang tua sering kali lupa bahwa anak-anak, sejatinya, memiliki hak atas martabat dan privasi mereka sendiri. Menjadikan kesulitan belajar atau ketidakmampuan mendisiplinkan anak sebagai komoditas konten yang viral adalah sebuah tindakan yang melanggar batas etika pengasuhan modern.
Mencari Jalan Keluar: Menjadi Orang Tua Tegas Tanpa Harus Menakutkan
Viralnya akun @polisianak84 menjadi cermin besar bagi masyarakat modern. Fenomena ini membuktikan betapa besarnya krisis metode pengasuhan yang dialami oleh banyak keluarga di tengah kepungan era digital. Namun, menjadikan gertakan sosok polisi sebagai solusinya jelas merupakan arah yang keliru.
Orang tua tidak perlu berpura-pura menjadi polisi, dan tidak perlu menyewa jasa kreator berseragam untuk membuat anak mau mendengarkan. Ketegasan seorang ayah dan ibu tidak diukur dari seberapa keras ancaman yang bisa mereka lontarkan, melainkan dari konsistensi aturan yang diterapkan sehari-hari.
Ketika anak menolak makan, enggan tidur, atau terlalu lama memegang gawai, langkah yang dibutuhkan bukanlah ancaman kurungan penjara, melainkan eksplorasi mendalam atas penyebabnya. Mungkinkah anak sedang terlalu lelah, bosan dengan menu, atau sedang mencari perhatian? Dari sana, orang tua dapat membangun rutinitas harian yang pasti serta menyepakati konsekuensi logis yang masuk akal.
Kreator di balik @polisianak84 mungkin telah berhasil menemukan formula konten yang memikat algoritma dan mendatangkan ratusan ribu pengikut. Namun, dalam urusan membangun jiwa dan mental generasi masa depan, tidak ada jalan pintas yang bisa menggantikan kehadiran, kesabaran, dan komunikasi hangat dari orang tua di rumah.
Anak-anak tidak membutuhkan sosok polisi di layar ponsel untuk membuat mereka menjadi manusia yang disiplin; mereka hanya membutuhkan orang tua yang hadir secara utuh, tegas dengan kasih sayang, serta mampu membimbing tanpa harus menanamkan ketakutan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











