bukamata.id – Nama Margacinta mungkin terdengar romantis bagi sebagian warga Bandung. Tak sedikit yang mengira kawasan ini dinamai berdasarkan kisah cinta atau sejarah romantika masa lampau. Namun ternyata, asal-usul Margacinta jauh dari nuansa asmara.
Margacinta adalah sebuah kawasan yang kini berada dalam wilayah administrasi Kota Bandung, Jawa Barat.
Wilayah ini pernah menjadi nama sebuah kecamatan, sebelum akhirnya mengalami perubahan nomenklatur. Meskipun secara administratif sudah tidak digunakan, nama Margacinta masih kerap dipakai masyarakat sebagai penanda kawasan.
Fakta menarik terungkap ketika menelusuri asal-usul nama Margacinta. Alih-alih berasal dari sejarah adat, budaya, atau nama tokoh besar, nama ini ternyata diambil dari sebuah bioskop yang pernah berdiri di kawasan Kecamatan Buahbatu, Kabupaten Bandung.
Bioskop Margacinta pada masanya cukup dikenal sebagai salah satu tempat hiburan favorit masyarakat. Nama bioskop itu kemudian diadopsi sebagai nama wilayah saat terjadi pemekaran kecamatan.
Namun, penggunaan nama komersial tersebut sempat menuai perdebatan karena dianggap tidak memiliki akar historis atau nilai kultural yang kuat.
Seiring berkembangnya kebutuhan pelayanan publik, Pemerintah Kota Bandung melakukan pemekaran wilayah.
Pada tahun 1989, dibentuk 10 kecamatan baru hasil pemekaran dari Kabupaten Bandung, termasuk Kecamatan Margacinta yang merupakan bagian dari eks-Kecamatan Buahbatu.
Namun, perubahan kembali terjadi pada tahun 2006. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 06 Tahun 2006, dilakukan restrukturisasi wilayah, termasuk perubahan nama pada dua kecamatan.
Salah satunya adalah Kecamatan Margacinta yang kembali diganti menjadi Kecamatan Buahbatu, sesuai usulan sejumlah tokoh masyarakat seperti K.H. Amin Pakih, H. Amin Dani, (alm) H. Hilman, dan Zulhan Afifi.
Para tokoh tersebut berpendapat bahwa penamaan wilayah sebaiknya mencerminkan identitas lokal yang kuat, bukan dari unsur komersial seperti nama bioskop.
Kini, Kecamatan Buahbatu membawahi empat kelurahan, yaitu Sekejati, Margasari, Cijawura (dulu bernama Margasenang), dan Jatisari. Nama Margacinta sudah tidak tercantum dalam dokumen resmi pemerintahan, tetapi masih hidup di tengah masyarakat sebagai bagian dari sejarah lokal.
Perubahan ini menjadi bagian dari upaya penataan wilayah untuk mendukung pemerataan pembangunan dan peningkatan pelayanan publik.
Meski hanya berawal dari nama bioskop, Margacinta tetap dikenang sebagai bukti bahwa sejarah sebuah nama bisa datang dari hal-hal yang tak terduga.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











