bukamata.id – Pancasila dinilai bukan sekadar dasar negara, melainkan fondasi utama yang menjaga keutuhan Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Di tengah berbagai tantangan global, perkembangan teknologi, hingga derasnya arus informasi digital, keberadaan Pancasila disebut tetap menjadi perekat yang menyatukan perbedaan suku, agama, ras, dan golongan di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Rafael Situmorang, saat membahas relevansi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya bagi generasi muda.
Menurut Rafael, keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga saat ini tidak dapat dilepaskan dari peran Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa. Ia bahkan menilai Indonesia berpotensi kehilangan arah apabila tidak memiliki Pancasila sebagai fondasi negara.
“Bangsa ini masih ada karena ada Pancasila. Negara ini masih berdiri karena Pancasila. Kalau tidak ada Pancasila, saya pikir negara ini sudah bubar karena begitu banyak perbedaan yang ada di Indonesia,” ujarnya dalam wawancara, Jumat (5/6/2026).
Rafael menjelaskan Indonesia merupakan negara yang dibangun di atas keberagaman. Perbedaan latar belakang budaya, agama, bahasa, hingga kepentingan politik berpotensi menjadi sumber konflik apabila tidak diikat oleh satu nilai bersama. Dalam konteks itulah Pancasila hadir sebagai titik temu yang mampu mengakomodasi seluruh unsur bangsa.
Menurutnya, kekuatan Pancasila terletak pada kemampuannya merangkum berbagai nilai universal yang berkembang di dunia. Nilai solidaritas sosial, demokrasi, kemanusiaan, nasionalisme, hingga nilai-nilai religius dinilai telah terakomodasi dalam lima sila Pancasila.
“Pancasila mengambil inti sari dari berbagai pemikiran dan ideologi yang ada. Karena itu Pancasila mampu diterima oleh seluruh kelompok masyarakat Indonesia,” katanya.
Ia menilai keberadaan Pancasila semakin penting di tengah situasi global yang penuh persaingan ekonomi dan pertarungan kepentingan antarnegara. Dalam kondisi tersebut, Pancasila dapat menjadi benteng agar Indonesia tetap berdiri kokoh tanpa kehilangan identitas kebangsaannya.
Rafael juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi mempertahankan eksistensi Pancasila sebagai dasar negara, melainkan mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang masih terjadi menunjukkan bahwa cita-cita Pancasila belum sepenuhnya terwujud.
“Pancasila adalah proyeksi ideal bangsa Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kebijakan negara,” ujarnya.
Ia mencontohkan sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang menurutnya masih membutuhkan perjuangan panjang untuk diwujudkan. Berbagai ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial, hingga lemahnya perlindungan terhadap kelompok masyarakat tertentu dinilai menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Meski demikian, Rafael tetap optimistis Pancasila akan tetap relevan menghadapi perubahan zaman. Ia meyakini nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila mampu menjadi pedoman bagi Indonesia dalam menghadapi perkembangan teknologi, disrupsi informasi, hingga dinamika geopolitik global.
Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai Pancasila. Selain memahami sejarah lahirnya Pancasila, generasi muda juga didorong untuk mengimplementasikan nilai toleransi, demokrasi, kemanusiaan, dan keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau generasi muda memahami mengapa Pancasila lahir dan mengapa bangsa ini memilih Pancasila sebagai dasar negara, mereka akan mengerti bahwa Pancasila bukan sekadar hafalan, tetapi fondasi yang menjaga Indonesia tetap utuh sampai hari ini,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










