bukamata.id – Sebuah cita-cita tulus untuk menjadi penjaga agama kini tinggal kenangan. NS, bocah berusia 12 tahun asal Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, harus meregang nyawa tepat di hari pertama Ramadan. Di balik kepergiannya yang tragis, tersimpan kisah tentang seorang anak pendiam yang hanya ingin berbakti lewat jalan dakwah.
Santri Teladan dengan Cita-Cita Jadi Kiai
Di lingkungan Pondok Pesantren tempatnya menimba ilmu, NS dikenal sebagai sosok yang teduh. Sebagai santri kelas 1 SMP, ia tidak pernah terlibat masalah. Bagi teman-temannya, ia adalah kawan yang tenang; bagi pengasuhnya, ia adalah harapan masa depan.
Anwar Satibi (38), ayah kandung korban, hanya bisa tertunduk lesu saat mengenang keinginan luhur putranya. Keinginan menjadi seorang kiai murni lahir dari hati kecil NS sendiri tanpa paksaan.
“Memang dia cita-citanya ingin jadi kiai. Itu yang membuat saya sakit,” ungkap Anwar dengan nada suara bergetar.
Momen perpisahan terakhir mereka pun masih terekam jelas. Sebelum Anwar berangkat kerja ke Kota Sukabumi, ia sempat membekali anaknya uang alakadarnya. Reaksi NS saat itu begitu menyentuh hati.
“Saya kasih uang Rp 50 ribu, dia simpan di ubun-ubunnya. ‘Alhamdulillah kanggo bekel di pesantren’,” kenang Anwar menirukan ucapan syukur sang anak.
Menghindari Konflik Demi Ketenangan
Keberadaan NS di pesantren sebenarnya bukan tanpa alasan. Isep Dadang Sukmana (62), pembina pondok pesantren sekaligus orang yang mengurus masuknya NS ke lembaga tersebut, membeberkan bahwa pesantren adalah tempat “perlindungan” bagi sang bocah.
Menurut Isep, kondisi keluarga NS sempat memanas karena adanya perselisihan internal. Ia pun menyarankan agar NS menetap di pesantren agar tidak terkena dampak psikologis dari keributan di rumah.
“Ya itu baik-baik saja, baik-baik saja. Kan itu di pesantren. Bahkan saya yang memasukkan ke pesantrennya juga,” tutur Isep, Sabtu (21/2/2026).
Isep menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi netralitas dan keamanan mental sang anak. “Daripada ribut terus, lebih baik di pesantren, biar aman dan kita netral,” tambahnya.
Misteri Luka Lebam Jelang Ramadan
Tragedi ini bermula saat para santri seharusnya kembali ke pondok setelah libur menjelang puasa. Namun, bangku NS tetap kosong. Kabar duka justru datang lewat sebuah rekaman video yang dikirimkan sang ayah kepada Isep. Video tersebut memperlihatkan kondisi fisik NS yang memprihatinkan dengan luka lebam di sekujur tubuh.
Isep segera bergegas menuju rumah sakit. Di sana, ia sempat melihat secercah kesadaran dari NS sebelum ajal menjemput. Menurut Isep, NS cenderung lebih terbuka berbicara kepadanya dibanding kepada keluarganya sendiri.
“Kalau ditanya sama bapaknya mungkin takut ya, tidak jawab. Tapi kalau sama saya dan istri saya, dia terbuka karena sudah dekat,” jelas Isep.
Bocah itu sempat mengenali sosok Isep di detik-detik terakhirnya. “Masih ingat? Ingat. Siapa? Pak Isep,” kenangnya. Sayangnya, nyawa NS tak tertolong setelah menjalani perawatan singkat. Ia mengembuskan napas terakhir pada pukul 16.00 WIB, bertepatan dengan mulainya bulan suci Ramadan.
Dugaan Penganiayaan dan Proses Hukum
Pihak keluarga kini menuntut keadilan. Luka-luka yang ada di tubuh NS dianggap janggal karena seminggu sebelumnya, bocah tersebut terpantau sehat bugar saat mengikuti kegiatan jalan-jalan pesantren.
“Harapan saya kalau ini terbukti, ya proses hukum,” tegas Anwar.
Saat ini, Satreskrim Polres Sukabumi tengah melakukan pendalaman intensif. Tim medis telah melakukan autopsi untuk mengungkap penyebab pasti kematian yang diduga akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
“Pagi ini mau otopsi untuk dugaan terhadap narasi (KDRT) tersebut. Kami masih menunggu hasil otopsi,” pungkas Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











