Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Rincian Harga BBM Pertamina Terbaru per 5 November 2026 di Seluruh Wilayah Indonesia

Kamis, 5 November 2026 08:00 WIB

Satu Poin Lagi! Begini Syarat Persib Bandung Kunci Takhta Puncak Klasemen Grup E ACL 2

Kamis, 5 November 2026 07:20 WIB

Wacana Baru BPJS Kesehatan: Iuran Gratis PBI JK Bakal Diperluas Hingga Desil 8, Cek Syaratnya!

Kamis, 5 November 2026 07:02 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Rincian Harga BBM Pertamina Terbaru per 5 November 2026 di Seluruh Wilayah Indonesia
  • Satu Poin Lagi! Begini Syarat Persib Bandung Kunci Takhta Puncak Klasemen Grup E ACL 2
  • Wacana Baru BPJS Kesehatan: Iuran Gratis PBI JK Bakal Diperluas Hingga Desil 8, Cek Syaratnya!
  • Cair Mulai November! Simak Daftar Lengkap Kriteria Penerima BSU 2026 Beserta Cara Cek Statusnya
  • Igor Tolic Ungkap Kunci Persib Bandung Kalahkan Melbourne Victory
  • Aturan Baru BGN Mencekik, Dapur SPPG di Priangan Timur Terancam Defisit Hingga Berujung PHK Relawan
  • Supersub Persib! Luka Menalo Butuh 11 Menit untuk Ubah Nasib Laga di Melbourne
  • Herri Pras Diserbu Laporan! Belasan Ormas Datangi Polda Jabar Usai Konten soal UAS dan UAH
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 5 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Cita-cita Jadi Kiai Kandas Tragis, Bocah 12 Tahun di Sukabumi Pergi dengan Luka Misterius

By Aga GustianaSabtu, 21 Februari 2026 12:15 WIB3 Mins Read
Bocah 12 tahun di Sukabumi meninggal dengan luka misterius. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sebuah cita-cita tulus untuk menjadi penjaga agama kini tinggal kenangan. NS, bocah berusia 12 tahun asal Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, harus meregang nyawa tepat di hari pertama Ramadan. Di balik kepergiannya yang tragis, tersimpan kisah tentang seorang anak pendiam yang hanya ingin berbakti lewat jalan dakwah.

Santri Teladan dengan Cita-Cita Jadi Kiai

Di lingkungan Pondok Pesantren tempatnya menimba ilmu, NS dikenal sebagai sosok yang teduh. Sebagai santri kelas 1 SMP, ia tidak pernah terlibat masalah. Bagi teman-temannya, ia adalah kawan yang tenang; bagi pengasuhnya, ia adalah harapan masa depan.

Anwar Satibi (38), ayah kandung korban, hanya bisa tertunduk lesu saat mengenang keinginan luhur putranya. Keinginan menjadi seorang kiai murni lahir dari hati kecil NS sendiri tanpa paksaan.

“Memang dia cita-citanya ingin jadi kiai. Itu yang membuat saya sakit,” ungkap Anwar dengan nada suara bergetar.

Momen perpisahan terakhir mereka pun masih terekam jelas. Sebelum Anwar berangkat kerja ke Kota Sukabumi, ia sempat membekali anaknya uang alakadarnya. Reaksi NS saat itu begitu menyentuh hati.

Baca Juga:  Polisi Karawang Ringkus Ayah Bejat yang Tega Nodai Anak Kandung Selama 11 Tahun

“Saya kasih uang Rp 50 ribu, dia simpan di ubun-ubunnya. ‘Alhamdulillah kanggo bekel di pesantren’,” kenang Anwar menirukan ucapan syukur sang anak.

Menghindari Konflik Demi Ketenangan

Keberadaan NS di pesantren sebenarnya bukan tanpa alasan. Isep Dadang Sukmana (62), pembina pondok pesantren sekaligus orang yang mengurus masuknya NS ke lembaga tersebut, membeberkan bahwa pesantren adalah tempat “perlindungan” bagi sang bocah.

Menurut Isep, kondisi keluarga NS sempat memanas karena adanya perselisihan internal. Ia pun menyarankan agar NS menetap di pesantren agar tidak terkena dampak psikologis dari keributan di rumah.

“Ya itu baik-baik saja, baik-baik saja. Kan itu di pesantren. Bahkan saya yang memasukkan ke pesantrennya juga,” tutur Isep, Sabtu (21/2/2026).

Baca Juga:  Terungkap! Sepasang Kekasih di Karawang Jadi Pembunuh Bayi dalam Ransel

Isep menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi netralitas dan keamanan mental sang anak. “Daripada ribut terus, lebih baik di pesantren, biar aman dan kita netral,” tambahnya.

Misteri Luka Lebam Jelang Ramadan

Tragedi ini bermula saat para santri seharusnya kembali ke pondok setelah libur menjelang puasa. Namun, bangku NS tetap kosong. Kabar duka justru datang lewat sebuah rekaman video yang dikirimkan sang ayah kepada Isep. Video tersebut memperlihatkan kondisi fisik NS yang memprihatinkan dengan luka lebam di sekujur tubuh.

Isep segera bergegas menuju rumah sakit. Di sana, ia sempat melihat secercah kesadaran dari NS sebelum ajal menjemput. Menurut Isep, NS cenderung lebih terbuka berbicara kepadanya dibanding kepada keluarganya sendiri.

“Kalau ditanya sama bapaknya mungkin takut ya, tidak jawab. Tapi kalau sama saya dan istri saya, dia terbuka karena sudah dekat,” jelas Isep.

Baca Juga:  Teka-teki Terbakarnya Mercedes-Benz di Jalur Nagreg yang Menelan Korban Jiwa, Apa Pemicunya?

Bocah itu sempat mengenali sosok Isep di detik-detik terakhirnya. “Masih ingat? Ingat. Siapa? Pak Isep,” kenangnya. Sayangnya, nyawa NS tak tertolong setelah menjalani perawatan singkat. Ia mengembuskan napas terakhir pada pukul 16.00 WIB, bertepatan dengan mulainya bulan suci Ramadan.

Dugaan Penganiayaan dan Proses Hukum

Pihak keluarga kini menuntut keadilan. Luka-luka yang ada di tubuh NS dianggap janggal karena seminggu sebelumnya, bocah tersebut terpantau sehat bugar saat mengikuti kegiatan jalan-jalan pesantren.

“Harapan saya kalau ini terbukti, ya proses hukum,” tegas Anwar.

Saat ini, Satreskrim Polres Sukabumi tengah melakukan pendalaman intensif. Tim medis telah melakukan autopsi untuk mengungkap penyebab pasti kematian yang diduga akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Pagi ini mau otopsi untuk dugaan terhadap narasi (KDRT) tersebut. Kami masih menunggu hasil otopsi,” pungkas Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

berita kriminal
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Aturan Baru BGN Mencekik, Dapur SPPG di Priangan Timur Terancam Defisit Hingga Berujung PHK Relawan

Herri Pras Diserbu Laporan! Belasan Ormas Datangi Polda Jabar Usai Konten soal UAS dan UAH

Peringatan Darurat Sanitasi Kota Bandung, 90 Persen Sungai Tercemar Bakteri E. Coli

Terungkap Motif Pembunuhan Sadis Hj Komariyah di Indramayu: Sakit Hati Sering Disindir Utang

3 Jenderal Polisi Ditangkap, SBY Surati Prabowo: Kok Jadi Begini Negara Kita

Presiden Prabowo Subianto.

Awal Mula Terbongkarnya Operasi Penyadapan Ilegal yang Sasar Komunikasi Presiden dan Menteri

Terpopuler
  • Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Ilustrasi video syur
    Link Video Egar dan Fina Banyuwangi Viral di TikTok, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat
  • Geger Link Video Viral Karyawan HWI Durasi 6 Menit, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Heboh! Video 6 Menit Karyawan HWI Jepara Viral di TikTok, Benarkah Ada Rekaman Rahasia?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.