bukamata.id – Setara Institute kembali merilis laporan terbaru mengenai kondisi keberagaman di tanah air melalui Indeks Kota Toleran (IKT) 2025. Dalam pengumuman yang berlangsung di Mangkuluhur ARTOTEL Suites, Rabu (22/4/2026), Kota Salatiga berhasil mengukuhkan posisinya sebagai wilayah paling toleran di Indonesia, melampaui puluhan kota lainnya.
Laporan ini disusun dengan mengevaluasi 94 kota melalui kacamata yang komprehensif, mulai dari kebijakan yang dibuat pemerintah hingga interaksi nyata di akar rumput.
Metodologi dan Variabel Penilaian
Setara Institute tidak hanya melihat permukaan, melainkan mendalami empat variabel krusial yang dijabarkan ke dalam delapan indikator penilaian:
- Kebijakan Pemerintah Kota: Fokus pada regulasi yang inklusif.
- Regulasi Sosial: Bagaimana aturan tak tertulis di masyarakat bekerja.
- Aksi Nyata Pemerintah: Langkah konkret birokrasi dalam merespons isu keberagaman.
- Demografi Keagamaan: Pengelolaan keberagaman komposisi penduduk.
Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Ismail Hasani, menekankan bahwa skor tinggi yang diraih sebuah kota merupakan buah kerja keras kolektif, bukan sekadar pencapaian individu pejabat tertentu.
“Jadi (indeks kota toleran) bukan semata-semata prestasi Walikota atau Kesbangpol atau FKUB tapi adalah prestasi bersama,” ungkap Ismail.
Ismail juga merinci tiga pilar utama yang menjadi motor penggerak toleransi di daerah, yakni kepemimpinan di level politik, birokrasi, hingga kepemimpinan di tingkat sosial.
Daftar 10 Besar Kota Paling Toleran 2025
Dari hasil studi tersebut, berikut adalah sepuluh kota dengan skor toleransi tertinggi:
| Peringkat | Kota | Skor |
| 1 | Salatiga | 6,492 |
| 2 | Singkawang | 6,391 |
| 3 | Semarang | 6,160 |
| 4 | Pematangsiantar | 6,084 |
| 5 | Bekasi | 6,037 |
| 6 | Sukabumi | 5,973 |
| 7 | Magelang | 5,805 |
| 8 | Kediri | 5,792 |
| 9 | Tegal | 5,733 |
| 10 | Ambon | 5,657 |
Hal yang cukup menarik adalah kehadiran Bekasi dan Sukabumi dalam jajaran 10 besar. Mengingat dinamika sosial di kedua wilayah tersebut cukup tinggi, capaian ini menunjukkan adanya transformasi positif dalam mengelola kemajemukan.
Konsistensi Salatiga dan Singkawang
Salatiga dan Singkawang terus menunjukkan dominasinya. Salatiga membuktikan bahwa perbedaan latar belakang etnis dan keyakinan justru menjadi perekat sosial yang kuat. Sementara itu, Singkawang tetap konsisten mempertahankan identitasnya sebagai kota inklusif di mana keberagaman etnis dirayakan sebagai aset kota.
Tanggapan Pemerintah
Pemerintah Pusat melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyambut baik hasil riset ini. Mewakili Mendagri Tito Karnavian, Bisri memberikan catatan agar kota-kota peraih penghargaan tidak cepat berpuas diri.
“Ini bukan tujuan akhir melainkan motivasi untuk selalu menjaga dan meningkatkan capaian yang telah diraih,” pungkas Bisri.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa merawat toleransi adalah perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen berkelanjutan dari seluruh elemen bangsa.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










