Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Traffic Light Mati karena Dicuri, Ini 5 Persimpangan Bandung yang Terdampak

Kamis, 1 Oktober 2026 20:20 WIB

Catat Jadwal Persib Oktober 2026, Maung Bandung Tampil di 3 Kompetisi

Kamis, 1 Oktober 2026 20:11 WIB
Ilustrasi pencairan BSU

Pasutri di Cimahi Edarkan Uang Palsu Rp100 Ribu Selama 4 Bulan, Terbongkar di Warung

Kamis, 1 Oktober 2026 20:04 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Traffic Light Mati karena Dicuri, Ini 5 Persimpangan Bandung yang Terdampak
  • Catat Jadwal Persib Oktober 2026, Maung Bandung Tampil di 3 Kompetisi
  • Pasutri di Cimahi Edarkan Uang Palsu Rp100 Ribu Selama 4 Bulan, Terbongkar di Warung
  • Reshuffle Kabinet Prabowo 1 Oktober: 18 Pejabat Dilantik, Ada Kapolri dan Menko Baru
  • Catat! Ini Jadwal Operasi Antik Lodaya 2026 di Jawa Barat
  • Berburu Sarapan di Bandung? 7 Kuliner Legendaris Ini Wajib Masuk Daftar
  • BSU Oktober 2026 Rp900 Ribu, Cek Syarat Penerima dan Desilnya
  • Jadwal Berubah! Garudayaksa FC vs Persib Dimajukan, Ini Waktu Terbarunya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 1 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Dari Kolam Kosong ke Panggung Dunia: Perjalanan Hartono Soekwanto, Maestro Koi Indonesia

By Aga GustianaJumat, 18 Juli 2025 10:53 WIB3 Mins Read
Hartono Soekwanto
Hartono Soekwanto saat memberi makan Ikan Koi di halaman rumahnya. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sore hari di kawasan Cidadap, Kota Bandung, suasana tenang terasa di pekarangan rumah Hartono Soekwanto. Seorang pria paruh baya tampak akrab dengan aktivitas yang sudah menjadi bagian dari hidupnya: memberi makan ikan koi di kolam batu berbentuk huruf “L” yang ditumbuhi lumut alami.

Pria berkemeja putih dan bercelana pendek itu bukan sekadar penghobi biasa. Hartono Soekwanto adalah sosok legendaris di kalangan pecinta koi di Indonesia, bahkan dikenal hingga mancanegara. Namanya melejit setelah berhasil meraih gelar Grand Champion Nishikigoi Off the World pada tahun 2013 di Jepang, melalui ikan koi jenis Kohaku bernama Mu-Lan Legend.

Namun siapa sangka, kecintaan Hartono terhadap koi bermula dari hal yang sangat sederhana. “2008 itu saya beli rumah. Rumah itu ada kolam kosong, terus saya oprek-oprek. Saya beli ikan yang Rp150.000-an di pasar,” kenangnya saat ditemui di kediamannya.

Alih-alih mendapat dukungan, ia justru menerima cibiran dari teman-temannya. Kolam bagus dengan ikan yang dianggap tidak berkualitas menjadi bahan olok-olok. “Terus datang temen tapi malah ngehina. Ini kolam bagus pakai cor segala macam, tapi isinya Koi lokal,” ujarnya.

Baca Juga:  Terima Bantuan Bibit hingga Permodalan, Petani Harap Program Kartu Tani Sibedas Dilanjutkan

Namun hinaan itu justru memacu semangatnya. Ia memutuskan belajar langsung ke Jepang, negeri asal koi, dan dalam waktu hanya dua tahun delapan bulan, ia berhasil menorehkan sejarah sebagai juara dunia. “Saya orang tercepat di dunia, dari belajar nama Koi dan juara dunia,” kata Hartono sambil tersenyum tipis.

Seni Merawat Koi: Tantangan dan Filosofi

Menurut Hartono, memelihara koi bukan sekadar soal teknik, tapi juga soal perasaan. “Memang enggak gampang lah pelihara Koi ini, kan tiap hari berubah,” jelasnya. Ia menyebut suhu air yang ideal berkisar 24–28 derajat Celsius pada siang hari, dan 22–24 derajat pada malam hari—kisaran yang cukup ideal di kota Bandung.

Bagi pemula, Hartono memberikan satu nasihat penting: jangan terlalu kaku mengikuti cara Jepang. “Lakukan cara Indonesia, Indonesia way. Jangan ngikutin Jepang, yang penting hasilnya sama,” tegasnya. Ia percaya bahwa dengan pendekatan lokal yang adaptif, potensi petani koi Indonesia bisa melampaui ekspektasi.

Baca Juga:  Geger Kebun Teh PTPN Pangalengan Disulap Jadi Ladang Sayur, Petani Meradang!

Dari Juara Dunia ke Pembina Petani Koi

Meski sudah menikmati puncak kejayaan, Hartono tidak berhenti di situ. Ia memilih untuk menjadi mentor bagi ratusan petani koi di berbagai daerah. Alih-alih menjual, ia secara sukarela membagikan indukan koi unggulan kepada petani-petani binaannya, demi membentuk garis keturunan (bloodline) yang kuat.

“Saya enggak pernah menjual, ngasih indukan saja ke ratusan petani binaan. Supaya teman-teman ini punya bibit, bloodline yang bagus. Ada kepuasan tersendiri memang, tapi dasarnya supaya Indonesia dihargai di dunia,” ungkapnya.

Upayanya mulai membuahkan hasil. Dalam beberapa tahun terakhir, petani koi Indonesia mulai mendominasi kompetisi nasional, bahkan mengungguli peserta dari Jepang. “Lima tahun terakhir ini yang dari Jepang tidak pernah bisa menang di Indonesia. Perlombaan di Jakarta tahun ini, petani dari Kediri bisa menang,” katanya bangga.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Minta Rantai Distribusi Pupuk ke Petani Dipermudah

Tak hanya menang di kompetisi, para petani kini juga sudah mampu membiakkan koi berukuran hingga satu meter—lompatan signifikan dari masa lalu, ketika hanya mampu mencapai 55 cm tanpa memperhatikan kualitas.

“Sekarang waktunya untuk membantu petani untuk mengejar ukuran yang lebih panjang lagi. Makanya kita lakukan dengan mem-breeding yang semeteran,” tuturnya.

Filosofi di Balik Koi

Bagi Hartono, keindahan koi tidak diukur dari kesempurnaan fisik semata. Bahkan ikan juara dunia pun tidak benar-benar sempurna. “Ikan Koi atau makhluk hidup itu enggak ada yang sempurna. Koi juara dunia tidak sempurna. Cuman juara dunia itu adalah Ikan Koi yang terbaik waktu itu,” jelasnya. “Yang penting menikmati, kita happy, ikannya happy, ya sudah,” pungkas Hartono sembari merapikan rambutnya.

Dengan semangat yang tak pernah padam, Hartono Soekwanto terus membuktikan bahwa dari kolam kecil di Bandung, nama Indonesia bisa bergema di panggung dunia.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Hartono Soekwanto Kisah Inspiratif petani
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Berburu Sarapan di Bandung? 7 Kuliner Legendaris Ini Wajib Masuk Daftar

Batal Cerai atau Prank? Kemunculan Demian di Live Sara Wijayanto Bikin Heboh, Cinta Belum Usai?

Jangan Lewatkan! Ini Jadwal Indonesia di Asian Games 2026 1 Oktober, Ada Duel Perebutan Emas

Bansos PKH September 2026 Belum Cair? Cek Status Penerima Lewat HP Cukup Pakai NIK

Rekomendasi Kuliner Malam Bekasi: Tempat Nongkrong & Makan Enak yang Buka Seharian

Bikin Ngiler! 4 Nasi Goreng Bandung dengan Racikan Unik dan Topping Melimpah

Terpopuler
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • Herwin Muchtar Siap Berebut Kursi Ketua Kadin Kota Bandung, Usung Program Goes Global hingga Digitalisasi
  • HUT ke-38 Bikers Brotherhood 1% MC Digelar di Bandung, Angkat Semangat Persaudaraan
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.