Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Resmi! Jadwal Persib vs Garudayaksa FC Dimajukan, Ini Tanggal dan Jam Terbarunya

Senin, 28 September 2026 16:25 WIB

Indonesia VS Malaysia Malam Ini! Cek Prediksi Starting XI Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026

Senin, 28 September 2026 16:08 WIB
PENUSUKAN

Sadis! Anak Tiri Habisi Nyawa Ibu Pakai Stunt Gun dan Pisau Dapur, Diduga Dendam Masalah Rumah

Senin, 28 September 2026 15:47 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Resmi! Jadwal Persib vs Garudayaksa FC Dimajukan, Ini Tanggal dan Jam Terbarunya
  • Indonesia VS Malaysia Malam Ini! Cek Prediksi Starting XI Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026
  • Sadis! Anak Tiri Habisi Nyawa Ibu Pakai Stunt Gun dan Pisau Dapur, Diduga Dendam Masalah Rumah
  • Ngeri! Pajero Hilang Kendali di Tol Pasteur, Tabrak Kijang dan Gran Max hingga Ringsek
  • Jejak Aiswarya Rai Terulang? Gede Aiswarya Bikin Indonesia Gempar di Mister Internasional!
  • Aksi Gila Inces Syahrini di Pestapora 2026! 7 Tahun Vakum Langsung Bagi-bagi Dollar ke Penonton!
  • Sungai Cijanggel Meluap, Rumah Warga di Cisarua KBB Hancur Lebur Disapu Banjir Bandang
  • Awas Gas Beracun! Fenomena Blue Fire Kembali Teror Gunung Papandayan, Jalur Pendakian Resmi Dibatasi
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 28 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dedi Mulyadi Klaim Investasi Jabar Berpotensi Serap 800 Ribu Tenaga Kerja, Soroti Kesiapan SDM

By Mulki AlbarKamis, 13 Agustus 2026 19:18 WIB3 Mins Read
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. (Foto: bukamata.id/Mulki Albar)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat potensi penyerapan tenaga kerja hingga hampir 800 ribu orang dari ribuan proyek industri yang tengah dibangun maupun dalam proses investasi sepanjang 2025 hingga Semester I 2026.

Berdasarkan data Pemprov Jabar, terdapat 3.711 proyek industri yang berpotensi menyerap sekitar 799.999 tenaga kerja. Kebutuhan pekerja paling besar berasal dari industri kulit dan alas kaki sebanyak 202.906 orang, tekstil 157.301 orang, logam, mesin dan elektronika 94.188 orang, kendaraan bermotor dan alat transportasi lainnya 89.005 orang, serta industri makanan sebanyak 66.021 orang.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, pembangunan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong masuknya investasi sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru di Jawa Barat.

Menurutnya, keberadaan infrastruktur yang memadai tidak hanya memperlancar mobilitas masyarakat dan distribusi barang, tetapi juga menjadi pertimbangan perusahaan ketika menentukan lokasi investasi.

“Banyak yang menyampaikan bahwa di Jawa Barat pembangunan infrastrukturnya sudah lebih baik dibanding dulu. Tetapi angka penganggurannya masih tinggi,” kata Dedi dalam keterangannya, Kamis (13/8/2026).

Baca Juga:  Pemprov Perkuat Sinergi dengan Kejati Jabar, Wujudkan Tata Kelola Bersih dan Humanis

Dedi menjelaskan, pembangunan infrastruktur sendiri telah menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat. Mulai dari pekerjaan di sektor konstruksi hingga berbagai jasa pendukung.

“Ini juga melahirkan perputaran ekonomi. Ada sopir, ada kuli, ada tukang, ada arsitek, ada perencana, dan sejenisnya. Kemudian yang kedua, dengan dibangunnya infrastruktur maka investasi akan mudah,” ujarnya.

Ia menyebut perusahaan membutuhkan berbagai infrastruktur dasar sebelum menjalankan kegiatan usaha, seperti akses jalan, listrik, jaringan telekomunikasi, jaringan gas hingga ketersediaan air bersih.

Industri Jabar Sudah Serap 1,1 Juta Pekerja

Di sisi lain, sektor industri pengolahan di Jawa Barat telah menyerap 1.145.179 tenaga kerja hingga Triwulan II 2026 berdasarkan laporan industri pada Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).

Penyerapan terbesar berasal dari industri pakaian jadi dengan 217.837 pekerja, diikuti industri kulit dan alas kaki sebanyak 195.000 pekerja, tekstil 160.984 pekerja, kendaraan bermotor, trailer dan semi-trailer 132.446 pekerja, serta industri makanan sebanyak 112.460 pekerja.

Baca Juga:  Penguatan Eksistensi BUMDes dan BUMDesma, Upaya Pemprov Jabar Lenyapkan Bank Emok

Sementara itu, sejumlah investasi baru mulai masuk ke sektor-sektor yang dinilai strategis, seperti kendaraan listrik, baterai, semikonduktor, elektronika, industri digital hingga industri hijau.

Pemprov Jabar juga mencatat sejumlah industri yang diperkirakan mulai beroperasi pada 2026 memiliki kebutuhan sedikitnya 5.616 tenaga kerja.

Kebutuhan tersebut tersebar di sejumlah daerah, antara lain Kabupaten Bekasi, Karawang, Purwakarta, Bogor, Bandung, Subang, Indramayu, Sukabumi, Cianjur dan Cirebon, serta Kota Bekasi, Kota Bandung dan Depok.

Dedi Minta Pendidikan Disesuaikan Kebutuhan Industri

Besarnya potensi penyerapan tenaga kerja tersebut, menurut Dedi, harus diikuti kesiapan sumber daya manusia (SDM). Ia menilai pendidikan dan pelatihan perlu diselaraskan dengan kebutuhan industri agar masyarakat di sekitar kawasan investasi tidak hanya menjadi penonton.

Pemerintah, kata Dedi, perlu menyiapkan sistem pendidikan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan kebutuhan dunia kerja.

“Dan caranya bersekolah dengan baik, bekerja dengan sungguh-sungguh, pemerintah menyiapkan sekolah-sekolah yang beradaptasi dengan kebutuhan industri,” tuturnya.

Baca Juga:  Meriah! HUT ke-80 Jabar Hadirkan Layanan Publik Gratis di Abdi Nagri Nganjang ka Warga

Dengan demikian, potensi investasi yang masuk ke Jawa Barat diharapkan dapat memberikan dampak langsung terhadap masyarakat, khususnya melalui pembukaan lapangan kerja bagi warga di sekitar kawasan industri.

Kenaikan Upah Jadi Tantangan Industri Padat Karya

Meski peluang investasi dan penyerapan tenaga kerja cukup besar, Dedi mengingatkan adanya tantangan lain yang harus diperhatikan, khususnya bagi industri padat karya.

Menurutnya, peningkatan biaya tenaga kerja dapat memengaruhi keputusan perusahaan dalam mempertahankan lokasi produksinya. Bahkan, sebagian industri berpotensi memindahkan kegiatan usaha ke daerah lain dengan biaya operasional lebih rendah atau ke negara lain.

“Sehingga kenaikan kesejahteraan melalui peningkatan upah seringkali berdampak pada apa? Beberapa industri padat karya pindah. Ada yang pindah ke Jawa Tengah, ada yang pindah ke luar negeri, ke Vietnam. Ini juga problem, sehingga kita harus membangun keseimbangan,” pungkas Dedi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Pemprov Jabar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

PENUSUKAN

Sadis! Anak Tiri Habisi Nyawa Ibu Pakai Stunt Gun dan Pisau Dapur, Diduga Dendam Masalah Rumah

Ngeri! Pajero Hilang Kendali di Tol Pasteur, Tabrak Kijang dan Gran Max hingga Ringsek

Sungai Cijanggel Meluap, Rumah Warga di Cisarua KBB Hancur Lebur Disapu Banjir Bandang

Awas Gas Beracun! Fenomena Blue Fire Kembali Teror Gunung Papandayan, Jalur Pendakian Resmi Dibatasi

Pengakuan Dirjen PAS soal Temuan Miras di Lapas Cibinong, Milik Pribadi Kasi Kamtib?

gempa

Ancaman Nyata Sesar Garsela: Garut Duduki Puncak Potensi Kerugian Bencana Tertinggi di Jabar

Terpopuler
  • Herwin Muchtar Siap Berebut Kursi Ketua Kadin Kota Bandung, Usung Program Goes Global hingga Digitalisasi
  • HUT ke-38 Bikers Brotherhood 1% MC Digelar di Bandung, Angkat Semangat Persaudaraan
  • Lirik Pemimpin Muda Otentik untuk Jabar, Gema Bangsa Pasang Target Mutlak di Pemilu 2029
  • Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
    Bursa Pilgub Jabar: Nama Purbaya Yudhi Sadewa Mulai Diperhitungkan, Parpol Pilih Wait and See
  • Heboh Kemunculan ‘Cucu Krakatau’ Seluas 32,8 Hektare Usai Erupsi, Begini Penjelasan Badan Geologi
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.