bukamata.id – Kasus dugaan nyaris tertukarnya bayi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menjadi sorotan publik. Seorang perawat yang diduga terlibat dalam insiden tersebut kini telah dinonaktifkan sementara untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Langkah ini diambil setelah muncul laporan dari pasien bernama Nina Saleha yang mengaku bayinya sempat diserahkan kepada orang lain saat proses kepulangan di Gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) RSHS Bandung.
Perawat Dinonaktifkan, Menunggu Hasil Investigasi
Dalam video yang diunggah oleh Dedi Mulyadi melalui kanal YouTube pribadinya pada Kamis, 9 April 2026 malam, pihak manajemen rumah sakit memberikan klarifikasi terkait sanksi yang dijatuhkan.
“Sanksi yang diberikan apa?” tanya Dedi Mulyadi.
Asisten Manajer Keperawatan RSHS Bandung, Arif, menjelaskan bahwa perawat tersebut untuk sementara tidak diperkenankan menjalankan tugas pelayanan.
“Sementara dinonaktifkan dari pelayanan, untuk dikaji lebih mendalam lagi bersama komite keperawatan,” ujar Arif.
Namun, saat didesak mengenai bentuk sanksi tegas, Arif menyebutkan bahwa keputusan akhir masih menunggu hasil analisis menyeluruh.
Jika terbukti lalai, sanksi dapat berupa pencabutan kewenangan hingga permanen. Sementara jika ditemukan unsur kesengajaan, perawat tersebut berpotensi diberhentikan.
Perawat Berstatus ASN dengan Pengalaman 20 Tahun
Perawat yang bersangkutan diketahui telah bekerja lebih dari dua dekade dan berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). Hal ini menambah perhatian publik terhadap profesionalisme dan standar pelayanan di rumah sakit rujukan nasional tersebut.
“Perawatnya sudah ASN, lebih dari 20 tahun,” tambah Arif.
Kronologi Dugaan Bayi Nyaris Tertukar
Kasus ini mencuat setelah Nina Saleha (37), warga Cimahi, membagikan pengalamannya melalui akun TikTok @nindy5760.
Ia menceritakan bahwa pada Rabu, 8 April 2026, dirinya tengah menunggu proses kepulangan bayinya sejak subuh di Gedung KIA RSHS Bandung.
Namun, Nina sempat meninggalkan ruang tunggu selama sekitar 30 menit untuk makan. Saat kembali, ia mendapati bayinya justru telah diserahkan kepada orang lain oleh perawat.
Situasi semakin membuat panik ketika diketahui gelang identitas bayi sempat dilepas oleh pihak perawat.
Menurut pengakuan Nina, perawat berdalih bahwa bayi diberikan kepada orang lain karena tidak ada respons saat nama Nina dipanggil berulang kali.
Evaluasi Sistem Keamanan Rumah Sakit
Insiden ini memicu kekhawatiran masyarakat terkait sistem keamanan dan prosedur identifikasi pasien, khususnya bayi baru lahir.
Pihak RSHS Bandung menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasional standar (SOP), terutama dalam proses penyerahan bayi kepada keluarga.
Kasus ini kini masih dalam tahap investigasi internal, dan hasilnya akan menentukan sanksi final terhadap perawat yang bersangkutan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










