Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Update Kode Redeem FC Mobile 12 April 2026: Klaim Pack Pemain Rating Tinggi & Gems Gratis!

Minggu, 12 April 2026 02:00 WIB

Update Kode Redeem FF 12 April 2026: Buruan Ambil Skin Titan & Emote Langka Hari Ini!

Minggu, 12 April 2026 01:00 WIB

Einstein dari Bojonegoro! Bocah 9 Tahun Ini Mampu Rakit Mesin Secara Otodidak

Sabtu, 11 April 2026 18:13 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Update Kode Redeem FC Mobile 12 April 2026: Klaim Pack Pemain Rating Tinggi & Gems Gratis!
  • Update Kode Redeem FF 12 April 2026: Buruan Ambil Skin Titan & Emote Langka Hari Ini!
  • Einstein dari Bojonegoro! Bocah 9 Tahun Ini Mampu Rakit Mesin Secara Otodidak
  • Buntut Sumpah Berujung Penistaan, Polisi Ringkus Terduga Pelaku Penginjak Al-Qur’an di Banten
  • Warga Meradang! Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung Picu Ketakutan: Anak Itu Bukan Mainan!
  • Terungkap! Rahasia di Balik Video Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Part 2 di Dapur, Benarkah Fakta atau Cuma Editan?
  • Trump Gertak Iran: Siap Buka Paksa Selat Hormuz Meski Tanpa Izin Teheran!
  • Dedi Mulyadi Tanggapi Santai Tantangan Wagub Kalbar, Pilih Fokus Bangun Jabar
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 12 April 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Di Balik Megah Aspal Jabar: Menakar Paradox Kepuasan Publik dan Bayang-bayang Kemiskinan

By Aga GustianaSenin, 23 Februari 2026 09:00 WIB5 Mins Read
Ilustrasi paradox Jabar. (Foto: Hasil ChatGPT)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Jawa Barat hari ini adalah sebuah panggung kontradiksi yang megah. Di satu sisi, keriuhan tepuk tangan publik membahana untuk Sang Gubernur, Dedi Mulyadi (KDM). Namun di sisi lain, di sudut-sudut sempit pemukiman urban dan pematang sawah yang kian tergerus, bayang-bayang kemiskinan dan pengangguran masih menjadi hantu yang nyata.

Hasil survei terbaru dari Indikator Politik Indonesia periode 30 Januari hingga 8 Februari 2026 menempatkan KDM di puncak legitimasi publik dengan angka kepuasan mencapai 95,5 persen. Sebuah angka yang nyaris absolut, namun sekaligus menyimpan tanya besar: Apakah kepuasan ini adalah cermin kesejahteraan yang merata, atau sekadar euforia atas pembangunan fisik yang tampak di mata?

Antara Aspal Mulus dan Realitas Sosial

Survei tersebut mengungkap bahwa magnet utama kepuasan masyarakat terletak pada sektor-sektor fundamental yang kasat mata: penyediaan listrik, akses pendidikan, layanan kesehatan, dan yang paling menonjol adalah kualitas infrastruktur.

“Approval rating KDM sebagai Gubernur Jawa Barat itu masih tinggi ya. Saya sebut sangat tinggi karena mencapai 95,5 persen,” ucap Founder Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia, Prof. Burhanudin Muhtadi, saat merilis hasil survei di Bandung, Senin (16/2/2026).

Namun, Burhanudin memberikan catatan tebal. Meski figur KDM dipuja, mesin birokrasi di bawahnya tidak berlari secepat sang pemimpin. Rata-rata kinerja Pemerintah Provinsi (Pemprov) secara keseluruhan hanya berada di angka 71 persen. Bahkan, pada sektor ekonomi, angkanya merosot tajam. Sektor akses peningkatan modal berada di bawah 50 persen, pengentasan kemiskinan hanya 51 persen, dan peningkatan kualitas tenaga kerja di angka 58 persen.

Ini mengonfirmasi data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat per November 2025. Di balik megahnya jembatan dan mulusnya aspal, masih ada 1,77 juta orang yang menganggur. Lebih getir lagi, angka kemiskinan masih bertengger di angka 3,55 juta orang (6,78 persen). Meskipun trennya menurun, dominasi warga miskin di wilayah perkotaan (2,83 juta orang) menunjukkan bahwa industrialisasi di Jawa Barat belum sepenuhnya menjadi “obat mujarab” bagi kesejahteraan penduduknya.

Baca Juga:  Karyawan Hibisc Puncak Tuntut Pekerjaan, Dedi Mulyadi Malah Bilang Begini

Obsesi Infrastruktur: Solusi atau Sekadar Etalase?

Sepanjang tahun 2025, KDM memang tancap gas di sektor fisik. Sebanyak 361 paket pekerjaan infrastruktur bernilai Rp2,287 triliun telah digelontorkan. Fokusnya jelas: jalan dan jembatan. Untuk tahun 2026, ambisinya lebih besar lagi dengan alokasi Rp4,8 triliun demi mengejar target kemantapan jalan hingga 95 persen.

KDM berdalih, percepatan ini adalah kunci urat nadi ekonomi. “Betul begitu (lelang dini). Agar pembangunannya berkualitas, bermanfaat bagi kepentingan masyarakat Jawa Barat,” ujarnya pada Selasa (17/2/2026).

Namun, pembangunan fisik yang masif ini dikritik karena dianggap belum selaras dengan kapasitas birokrasi dan pemenuhan kebutuhan ekonomi mikro. Firman Manan, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), melihat adanya kesenjangan komunikasi yang lebar antara visi gubernur dengan eksekusi di lapangan.

Baca Juga:  Dukung Pemenuhan Gizi, Kolaborasi ABC-Pemprov Jabar Salurkan Bantuan 120 Ribu Produk Sarden

“Apa yang jadi ide KDM belum sepenuhnya dipahami Pemprov Jabar,” ujar Firman secara kritis. Ia menilai popularitas personal KDM tidak otomatis mendongkrak kinerja institusi Pemprov secara keseluruhan, yang berakibat pada lambannya penanganan masalah-masalah struktural seperti ketimpangan pendapatan.

Kritik Akademisi: Kualitas Hidup vs Persepsi Publik

Mengapa masyarakat tetap puas meski kemiskinan masih menghimpit? Putri Diesy Fitriani, SE.Sy., ME, Dosen Ekonomi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, memberikan analisis tajam. Menurutnya, publik seringkali terjebak pada persepsi atas gaya kepemimpinan dan program jangka pendek yang bersifat visual.

“Angka kepuasan 95,5% merupakan capaian yang sangat tinggi dan menunjukkan adanya legitimasi publik. Namun, dalam analisis kebijakan publik, kita perlu membedakan antara persepsi kepuasan dan kinerja objektif berbasis indikator makro dan mikro ekonomi,” ungkap Putri kepada bukamata.id, Minggu (22/2/2026).

Putri menekankan bahwa persoalan kemiskinan adalah masalah multidimensi yang tidak bisa selesai hanya dengan membangun jalan. Ia menyoroti beberapa poin krusial yang harus segera dibenahi oleh Pemprov Jawa Barat:

Penciptaan Lapangan Kerja: Pertumbuhan ekonomi harus benar-benar menyerap tenaga kerja, terutama lulusan muda dan pekerja informal, bukan sekadar angka di atas kertas.

Penguatan UMKM: Bantuan tidak boleh hanya bersifat karitatif atau bantuan sosial sekali putus, melainkan harus berupa pemberdayaan melalui akses modal, pelatihan, dan pendampingan usaha yang berkelanjutan.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Bakal Sulap Gedung Pakuan Bandung Jadi Museum Tatar Sunda

Akurasi Data: Data kemiskinan harus terus diperbarui agar intervensi pemerintah benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan (tepat sasaran).

Menagih Janji Kesejahteraan di Sisa Jabatan

Ke depan, tantangan KDM bukan lagi sekadar memoles citra atau membangun gedung sekolah baru—meskipun rencana pembangunan 24 Unit Sekolah Baru (USB) senilai Rp112,5 miliar tahun ini patut diapresiasi sebagai upaya menambah daya tampung 5.000 siswa. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati segelintir orang.

Indikator Gini Ratio Jawa Barat yang tercatat di angka 0,397 poin memang menunjukkan penurunan tipis, namun akses terhadap modal yang masih rendah menjadi bom waktu bagi ketimpangan sosial. “Kebijakan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pemerataan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat,” pungkas Putri Diesy Fitriani.

Angka 95,5 persen adalah modal politik yang sangat besar bagi Dedi Mulyadi. Namun, jika angka kemiskinan dan pengangguran tidak segera ditekan dengan kebijakan yang lebih membumi, legitimasi tersebut bisa saja luruh seiring waktu. Jawa Barat tidak boleh hanya menjadi daerah dengan jalanan mulus yang dilewati oleh kendaraan logistik industri, sementara di pinggirannya, warga hanya menjadi penonton pertumbuhan tanpa bisa mencicipi hasilnya. Rakyat tidak hanya butuh jalan untuk dilewati, tapi juga butuh “jalan” untuk keluar dari jerat kemiskinan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

5 persen Dedi Mulyadi HL infrastruktur Jabar jawa barat kemiskinan Jabar kepuasan publik 95 pengangguran Jawa Barat survei Indikator Politik
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Buntut Sumpah Berujung Penistaan, Polisi Ringkus Terduga Pelaku Penginjak Al-Qur’an di Banten

Warga Meradang! Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung Picu Ketakutan: Anak Itu Bukan Mainan!

Trump Gertak Iran: Siap Buka Paksa Selat Hormuz Meski Tanpa Izin Teheran!

Dedi Mulyadi Tanggapi Santai Tantangan Wagub Kalbar, Pilih Fokus Bangun Jabar

program MBG

Warning! Keracunan Massal Usai Santap MBG Terjadi Lagi di Jabar, Kali Ini Ratusan Siswa di Tasik Jadi Korban

Tantangan Terbuka! Wagub Kalbar vs Dedi Mulyadi: Siapa yang Paling Jago Kelola Anggaran?

Terpopuler
  • Link Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Part 2 Viral, Hati-Hati Bisa Bobol Rekening
  • Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.
    Heboh! Video Viral Ibu Tiri di Ladang Sawit Bikin Netizen Berburu Link 7 Menit ‘No Sensor’
  • Terungkap! Rahasia di Balik Video Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Bikin Geger
  • Link Video Diburu Netizen, Fakta di Balik Ibu Tiri vs Anak Tiri Terbongkar
  • Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2’ Gegerkan Medsos, Link Full Video Ternyata Berbahaya!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.