bukamata.id – Di balik gang sempit Gg. Abid, tepatnya di Masjid Jami Madrasah Riyadlul Jannah, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, lantunan ayat suci Al-Qur’an tetap terdengar setiap sore. Di sanalah Ustadz Deni Firmansyah mengabdikan diri sebagai guru ngaji bagi puluhan anak lingkungan sekitar, meski kehidupan pribadinya jauh dari kata mudah.
Setiap hari, Ustadz Deni menjalani dua peran sekaligus: mengajar ngaji dan berikhtiar memenuhi kebutuhan keluarga. Tanpa pekerjaan tetap, ia menggantungkan hidup dari kerja serabutan.
“Kalau keseharian, sambil saya mengajar ngaji, saya juga dituntut untuk berikhtiar memenuhi kebutuhan keluarga. Caranya ya dengan pekerjaan apa saja yang bisa saya lakukan,” ujar Ustadz Deni saat ditemui dikediamannya, Selasa (3/2/2026).
Pekerjaan itu datang tanpa kepastian. Kadang memperbaiki atap bocor, mengecat rumah, hingga memasang kanopi selama sepekan penuh. “Alhamdulillah, itulah penghasilan-penghasilan saya. Setelah itu, aktivitas saya kembali lagi mengajar ngaji,” katanya dengan nada sederhana.
Anak-anak yang ia ajar seluruhnya berasal dari lingkungan sekitar masjid. Jumlahnya tak sedikit. “Murid-muridnya itu 100 persen anak-anak lingkungan sini. Sekarang kurang lebih sekitar 40 sampai 45 anak kalau hadir semua,” tuturnya.
Namun perjalanan dakwah Ustadz Deni tak selalu mulus. Sekitar tiga bulan lalu, ia terpaksa pindah tempat mengajar karena tak mampu lagi membayar kontrakan di lokasi sebelumnya.
“Di satu sisi, saya harus memenuhi kebutuhan keluarga dengan kerja serabutan. Tapi waktu untuk membayar kontrakan tetap berjalan. Akhirnya saya sampai harus meminta bantuan,” ungkapnya.
Bantuan itu bukan untuk dirinya semata, melainkan agar proses belajar mengajar anak-anak tetap berjalan. Bahkan, ia pernah menulis di grup ibu-ibu murid untuk sekadar meminta bantuan memindahkan tempat ngaji.
“Saya sadar, kondisi keuangan orang tua murid pun kebanyakan sama seperti saya. Saya tidak menyalahkan mereka,” ucapnya lirih.
Dari situ, Ustadz Deni mengambil satu keputusan besar untuk tidak membebankan biaya kepada siapa pun.
“Yang penting anak-anak mereka tetap mengaji. Maka saya putuskan membuka program gratis,” katanya.
Program ngaji gratis itu telah berjalan sekitar lima bulan di tempat lama, dan hingga kini tetap dilanjutkan di lokasi baru.
Di tengah keterbatasan ekonomi dan ketidakpastian hidup, Ustadz Deni memilih bertahan menjaga cahaya pendidikan agama agar tetap menyala di lingkungan kecilnya.
Sebab baginya, mengajar ngaji bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah yang harus dijaga, meski harus dibayar dengan keringat dan kesabaran.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










