Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Donald Trump

Bukan Selat Hormuz, Donald Trump Kini Beri Nama Baru ‘Selat Trump’ di Tengah Konflik Iran

Sabtu, 28 Maret 2026 15:49 WIB
Pemain Persib, Andrew Jung.

Gelar Juara Jadi Harga Mati, Bomber Persib Andrew Jung Tak Ambisi Kejar Top Skor

Sabtu, 28 Maret 2026 15:43 WIB

Viral Pemuda di Ciamis Ngamuk Rusak Mobil Pemudik, Akhirnya Minta Maaf dan Ganti Rugi

Sabtu, 28 Maret 2026 15:26 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bukan Selat Hormuz, Donald Trump Kini Beri Nama Baru ‘Selat Trump’ di Tengah Konflik Iran
  • Gelar Juara Jadi Harga Mati, Bomber Persib Andrew Jung Tak Ambisi Kejar Top Skor
  • Viral Pemuda di Ciamis Ngamuk Rusak Mobil Pemudik, Akhirnya Minta Maaf dan Ganti Rugi
  • Diterjang Angin Kencang, Reklame Raksasa di Buah Batu Bandung Roboh Timpa Mobil dan Pos Jaga
  • Dulu Peluk Boneka Sendirian, Sekarang Punch Berani Pasang Badan untuk Sang ‘Pacar’ Momo-Chan
  • Alarm Bahaya di Jalan Raya Indonesia: Satu Nyawa Melayang Tiap 20 Menit
  • Update Ranking FIFA: Indonesia Meroket ke Posisi 120, Malaysia Terjun Bebas Usai Skandal Pemain Naturalisasi
  • Mumpung Masih Aktif! Sikat Kode Redeem FF 28 Maret 2026: Peluang Dapat M1887 SG Ungu dan Bundle Sultan Gratis
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 28 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Diagnosis Pahit vs Harapan Ibu: Mengapa Dokter Bilang Jangan Menyerah pada Rana?

By SusanaSenin, 9 Februari 2026 19:58 WIB4 Mins Read
Bayi cantik viral bernama Rana. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Masih ingat dengan bayi cantik viral bernama Rana? Parasnya yang bak boneka sempat membuat jagat media sosial terpikat. Namun di balik wajah mungil nan memesona itu, tersimpan kisah perjuangan yang menggetarkan hati.

Dalam potongan video yang beredar luas, Rana terlihat lebih banyak diam dan belum merespons seperti bayi seusianya. Tatapan matanya kosong, tubuhnya jarang bergerak. Banyak warganet bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada bayi perempuan tersebut?

Fakta pahit pun terungkap. Rana, yang kini berusia 9 bulan, didiagnosis mengidap craniosynostosis, kelainan langka yang menyebabkan tulang tengkorak menutup terlalu cepat. Kondisi ini berisiko besar menghambat pertumbuhan otak dan perkembangan sistem saraf.

Detik-detik Awal yang Menjadi Titik Balik

Ibu Rana, Vina Dorika, mengisahkan bahwa putrinya lahir secara normal dengan berat badan 3,9 kilogram. Harapan dan kebahagiaan menyelimuti keluarga saat itu. Namun, sesaat setelah dilahirkan, kondisi Rana berubah drastis.

Tubuhnya sempat membiru dan tangisnya terdengar lemah. Rana harus segera dirujuk ke rumah sakit dan menjalani perawatan intensif selama delapan hari. Sejak saat itu, perjalanan hidup Rana dipenuhi pemeriksaan medis dan kecemasan yang tak berujung.

Baca Juga:  Rana, Balita Bak Boneka yang Viral karena Wajah Cantik dan Kondisi Langka

Saat Tulang Kepala Menutup Terlalu Dini

Dokter spesialis saraf anak, dr. Herbowo, menjelaskan bahwa craniosynostosis terjadi ketika sambungan tulang tengkorak bayi menutup lebih cepat dari waktu normal.

“Ubun-ubun bayi seharusnya menutup bertahap. Bagian depan bahkan normalnya baru menutup di usia sekitar dua tahun. Kalau terlalu cepat, otak tidak punya ruang untuk berkembang,” ujarnya, dikutip dari YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo, Senin (9/2/2026).

Pada Rana, hampir seluruh ubun-ubun sudah menutup di usia yang sangat dini. Bentuk kepalanya tampak tidak simetris, dengan benjolan di bagian belakang, jejak dari tulang yang menyatu terlalu cepat dan terdorong keluar.

Kondisi itu diperparah dengan kejang tanpa demam yang datang berulang. Dalam satu hari, kejang Rana bisa terjadi 20 hingga 50 kali, dengan durasi terlama hampir 10 menit.

Meski kini mengonsumsi empat jenis obat antikejang, serangan belum sepenuhnya berhenti. Namun secercah kabar baik muncul dari hasil EEG, yang menunjukkan perbaikan: durasi gelombang kejang kini lebih pendek.

Dugaan Kelainan Bawaan, Bukan Kesalahan Ibu

Baca Juga:  Senyum Cantik Rana, Balita Viral Usai Perjuangan Panjang yang Mengharukan

Pemeriksaan MRI mengungkap fakta lain yang tak kalah berat: adanya kalsifikasi luas di otak. Dokter menduga hal ini berkaitan dengan gangguan metabolik atau kelainan genetik bawaan.

Ia menegaskan, kondisi Rana bukan kesalahan sang ibu. “Mayoritas kasus craniosynostosis bersifat genetik atau mutasi spontan. Bukan karena ibu jarang minum vitamin atau kesalahan selama kehamilan,” tegasnya.

Di Tengah Keterbatasan, Harapan Itu Masih Ada

Di usia 9 bulan, Rana belum bisa duduk, merangkak, atau mengangkat kepala dengan stabil. Ia juga belum mengeluarkan suara selain tangisan. Namun di balik keterlambatan itu, ada tanda-tanda kecil yang memberi harapan besar.

Rana kini mulai tersenyum dan merespons interaksi sosial. Bagi dunia medis, itu bukan hal sepele. Itu adalah sinyal bahwa jalur saraf masih bekerja.

“Usia di bawah dua tahun adalah masa emas perkembangan otak. Selama kejang bisa dikontrol dan penyebab utamanya ditemukan, peluang perbaikan masih ada. Jangan menyerah dulu,” kata dr. Herbowo.

Doa Mengalir dari Ribuan Hati

Perjuangan Rana tak hanya ditemani keluarganya. Dukungan juga mengalir dari warganet. Kolom komentar YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo dipenuhi doa dan harapan.

Baca Juga:  Rana, Balita Bak Boneka yang Viral karena Wajah Cantik dan Kondisi Langka

“Ya Allah semoga ada mujijat dari Allah dan sembuh. Amiiin,” tulis akun @war*.

“Allah adalah sebaik-baiknya penolong… semoga si adek diberikan kesehatan, umur panjang, kesembuhan, dan kelak jadi anak sholehah,” tulis akun @yun*.

“Doaku untuk Rana insya Allah sembuh. Mari kita doakan kesembuhan Rana yuk,” tulis akun @fan*.

Pesan Penting untuk Para Orang Tua

Dari kisah Rana, dokter mengingatkan pentingnya memantau tumbuh kembang anak secara rutin, termasuk berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Ketika grafik perkembangan mulai menyimpang, jangan menunggu atau menormalisasi keterlambatan.

“Segera bawa ke dokter. Deteksi dini sangat menentukan,” pesannya.

Sementara itu, di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, sang ibu tetap menggenggam harapan sederhana namun penuh makna.

“Minimal dia bisa duduk dulu. Itu saja sudah bahagia,” ucap Vina, lirih.

Kisah Rana bukan sekadar cerita viral. Ia adalah pengingat bahwa di balik satu senyum bayi, bisa tersimpan perjuangan panjang. Dan di tengah diagnosis berat sekalipun, harapan sekecil apa pun masih selalu ada.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

bayi cantik viral rana bayi rana sakit apa bayi rana viral bayi viral media sosial craniosynostosis craniosynostosis adalah kejang pada bayi kisah bayi rana penyakit langka bayi penyakit saraf bayi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Donald Trump

Bukan Selat Hormuz, Donald Trump Kini Beri Nama Baru ‘Selat Trump’ di Tengah Konflik Iran

Viral Pemuda di Ciamis Ngamuk Rusak Mobil Pemudik, Akhirnya Minta Maaf dan Ganti Rugi

Diterjang Angin Kencang, Reklame Raksasa di Buah Batu Bandung Roboh Timpa Mobil dan Pos Jaga

Alarm Bahaya di Jalan Raya Indonesia: Satu Nyawa Melayang Tiap 20 Menit

Sempat Ingin Polisikan Netizen, Hendrik Irawan Kini Pasrah Dapurnya Disegel Buntut Joget Nyeleneh

Kejutan Panglima! Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk Prajurit TNI Penghafal Al-Qur’an

Terpopuler
  • Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.
    Netizen Penasaran! Video Viral Kebun Sawit Ini Bisa Mengandung Risiko Digital
  • Link Video Ojol vs Bule 17 Menit Viral, Ternyata Settingan WNA di Bali demi Konten
  • Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit: Dari TikTok Hingga Ancaman Pidana UU ITE
  • Viral di TikTok! Kronologi Video Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit
  • Heboh! Link Telegram Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di Kebun Sawit Ramai Diburu, Ini Fakta Sebenarnya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.