bukamat.id – Tabir gelap yang menyelimuti kematian tragis NS (12), siswa SMP asal Surade, Sukabumi, mulai terkuak satu per satu. Bukan hanya soal luka fisik yang mengerikan, sebuah fakta memilukan terungkap: selama empat tahun terakhir, NS hidup dalam kebohongan besar bahwa ibu kandungnya telah tiada.
Ibu kandung korban, Lisnawati, akhirnya muncul ke publik untuk mengungkap skenario pemutusan komunikasi yang diduga dilakukan oleh mantan suaminya demi menjauhkan sang anak dari dirinya.
Kebohongan Fatal: “Ibumu Sudah Meninggal”
Kuasa hukum Lisnawati, Mira Widyawati, mengungkapkan bahwa kliennya sengaja dihilangkan jejaknya oleh pihak ayah kandung agar NS merasa sebatang kara.
“Selama ini dihembuskan oleh pihak bapaknya seolah-olah Ibu Lisna sudah tidak ada (meninggal), supaya NS merasa tidak punya ibu lagi. Padahal beliau masih hidup dan sehat di Cianjur,” ungkap Mira saat memberikan keterangan kepada wartawan, dikutip Senin (23/2/2026).
Mira menambahkan bahwa strategi lost contact ini dimulai sejak NS dimasukkan ke sebuah pesantren.
“Berdasarkan pengakuan Ibu Lisna, selama empat tahun belakangan mereka lost contact. Itu terjadi setelah ayahnya membawa NS masuk pesantren. Ternyata selama itu, ayahnya menghembuskan gosip kepada NS bahwa ibunya sudah meninggal dunia, supaya kesannya NS sudah tidak punya ibu lagi,” jelasnya.
Hasil Autopsi: Luka Bakar hingga Organ Membengkak
Bukan hanya penderitaan psikologis, kondisi jenazah NS berdasarkan hasil autopsi tim kedokteran RS Bhayangkara menunjukkan adanya indikasi kekerasan fisik yang luar biasa. Selain kulit yang melepuh, terdapat kerusakan pada bagian organ vital.
“Selain luka bakar di permukaan kulit, tim forensik menemukan pembengkakan di beberapa organ dalam seperti jantung dan paru-paru,” kata Mira mengutip temuan medis tersebut.
Saat ini, fokus penyelidikan tertuju pada TR (47), ibu tiri korban. Polisi tengah menunggu hasil uji laboratorium forensik di Jakarta untuk memastikan penyebab kematian klinis sang bocah.
Jejak KDRT Sejak dalam Kandungan
Kemunculan Lisnawati juga membuka tabir perilaku kasar mantan suaminya. Menurut Mira, kekerasan yang dilakukan ayah kandung NS sudah terjadi jauh sebelum korban lahir ke dunia.
“Sejak muda memang dia gemar KDRT. Pernah ada kalimat kasar dalam bahasa Sunda yang kalau diterjemahkan artinya: ‘Ya sudah, kamu mati saja sekalian sama anak kamu dalam kandungan, mati saja’. Itu diucapkan saat NS masih di rahim,” tutur Mira.
Bantahan Keras Soal Penyakit Autoimun
Tim kuasa hukum juga menepis narasi yang dibangun oleh pihak ayah dan ibu tiri bahwa NS meninggal akibat penyakit autoimun. Berdasarkan catatan asuhan Lisna hingga usia 7 tahun, NS adalah anak yang sangat sehat.
“Nizam (NS) tidak pernah sakit berat sejak kecil. Jadi klaim soal autoimun itu tidak benar, tidak ada riwayat medis seperti itu. Kami menduga narasi sakit itu sengaja diciptakan untuk menutupi jejak penganiayaan,” tegas Mira.
Kini, pihak ibu kandung mendesak Polres Sukabumi untuk menjerat pelaku dengan UU Penghapusan KDRT guna memastikan keadilan bagi almarhum.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











