Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Pentingnya Modernisasi Pesantren: Alumni Cipasung Ungkap Strategi Jaga Tradisi di Era Digital

Selasa, 20 Oktober 2026 20:40 WIB

Tas Perempuan Dirampas di Cimahi, Korban Terjatuh hingga Patah Tulang Bahu

Selasa, 20 Oktober 2026 20:16 WIB

Misteri Kebakaran BPN Karawang: Murni Musibah atau Sengaja Menghilangkan Jejak?

Selasa, 20 Oktober 2026 19:31 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Pentingnya Modernisasi Pesantren: Alumni Cipasung Ungkap Strategi Jaga Tradisi di Era Digital
  • Tas Perempuan Dirampas di Cimahi, Korban Terjatuh hingga Patah Tulang Bahu
  • Misteri Kebakaran BPN Karawang: Murni Musibah atau Sengaja Menghilangkan Jejak?
  • Ranking AFC Terbaru: Indonesia Meroket ke Posisi 16 Asia, Persib dan Borneo FC Jadi Kunci
  • Mengarungi Jadwal Horor 3 Pekan, Pelatih Persib Bongkar Resep Sederhana Jaga Stamina Pemain
  • Ubah Gulma Jadi Berkah: Petani Pasirlangu KBB Bangkit Pascalongsor Lewat Inovasi Eceng Gondok
  • Sempat Merasa Kesepian dan Frustrasi, Gakuto Notsuda Buka-bukaan Soal Cedera di Persib
  • Bukan Cuma Modal Cantik! Otak Encer & Latar Belakang Alda Callista Miss Indonesia 2026 Bikin Melongo
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 20 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dirjen IKP Kemenkominfo Ungkap Ironi di Balik Perkembangan AI

By Putra JuangKamis, 28 Maret 2024 19:40 WIB2 Mins Read
Artificial Intelligence. (Foto: net)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) rupanya menimbulkan sebuah ironi bagi peradaban manusia itu sendiri.

Begitu disampaikan Dirjen IKP Kemenkominfo, Usman Kansong dalam diskusi bertajuk ‘Pers, Artificial Intelligence, dan Problem Penegakan Kode Etik Jurnalistik: Bagaimana Solusinya?’ di Hall Dewan Pers, Kamis (28/3/2024).

Menurut Usman, ironi teknologi kecerdasan buatan atau AI salah satunya terjadi di Korea Selatan. Dimana sebanyak tiga presenter dalam sebuah stasiun televisi dipecat dan digantikan oleh virtual presenter.

“Ini ironi bagi saya dalam dunia AI. Dulu sampai sekarang sering disampaikan ga mungkin manusia digantikan oleh AI karena manusia itu punya emosi, cinta, kasih. Tapi justru karena manusia punya emosi itu maka dia makin cepat digantikan oleh AI,” ucap Usman.

Baca Juga:  Sat Set Maling di Bandung, Hanya 15 Menit Motor hingga Barang Berharga Milik Wartawan Raib

Persoalan lain dari perkembangan AI ini, kata Usman, yakni teknologi kecerdasan buatan justru ‘membunuh’ banyak pekerjaan.

“Ironi kedua, AI membunuh banyak pekerjaan. Jadi tadi istilah meringkas pekerjaan itu kata lainnya membunuh banyak pekerjaan,” ujarnya.

Kemudian buruknya perkembangan teknologi kecerdasan buatan pada bidang media, kata Usman, adalah dalam segi penulisan berita yang dituntut untuk sesuai dengan algoritma.

“Kita ini sekarang ditengah maraknya teknologi digital, menulis berita itu di-drive oleh algoritma. Algoritma itu AI, dasarnya AI itu ya algoritma dan ketika menulis di-drive oleh algoritma maka kita menghasilkan jurnalisme umpan klik atau clikbait,” jelasnya.

Baca Juga:  Pendidikan Coding dan AI Jadi Mata Pelajaran Pilihan Mulai Tahun Ajaran 2025/2026

Usman mencontoh, saat ini penulisan berita harus dikaitkan dengan kata kunci Mahkamah Konstitusi (MK). Sebab,

“Contohnya ada berita tentang kosmetik, jangan lupa pakai kosmetik A kalau Anda mau menghadiri sidang di MK supaya tetap terjaga kecantikannya. Padahal ga ada urusannya sama MK tapi karena sekarang lagi rame-rame menuntut pemilu maka dipaksa-paksakanlah berita itu ditulis yang ada unsur MK. Itu yang namanya clickbate journalism,” tuturnya.

Menurutnya, budaya umpan klik atau clikbait ini akan menciptakan budaya rebahan di kalangan wartawan.

“Jadi wartawan itu instan, jadi budaya instan di kalangan wartawan yang menulis berita di-drive oleh algoritma bukan di-drive oleh kebijakan redaksional jadinya,” ungkapnya.

Baca Juga:  Di Tengah Dominasi Platform Digital, Diskominfo Jabar Pilih Iklan Lewat Media Massa

Oleh karena itu, saat ini banyak wartawan yang menulis berita tidak lagi untuk manusia namun untuk data.

“Jadi kan oleh si algoritma ini perilaku membaca kita pada hari itu yang gemar membaca segala berita yang ada unsur MK itu diubah jadi data,” imbuhnya.

Padahal, lanjut Usman, dalam menulis sebuah berita harus memenuhi tiga unsur penting, Yakni agency, dignity dan hope.

“Jadi berita kita mestinya kalau beritanya untuk manusia itu mengandung tiga unsur itu, kita ini di era teknologi ini yang tersisa cuman harapan, bahkan harapan kita digantungkan kepada mesin,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Ai media wartawan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Pentingnya Modernisasi Pesantren: Alumni Cipasung Ungkap Strategi Jaga Tradisi di Era Digital

Tas Perempuan Dirampas di Cimahi, Korban Terjatuh hingga Patah Tulang Bahu

Misteri Kebakaran BPN Karawang: Murni Musibah atau Sengaja Menghilangkan Jejak?

Ubah Gulma Jadi Berkah: Petani Pasirlangu KBB Bangkit Pascalongsor Lewat Inovasi Eceng Gondok

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Mahasiswa Pasundan Beri Rapor Merah dan Desak Evaluasi Kebijakan

Banyak Murid Belum Lancar Calistung, Disdik Cirebon Setuju Kebijakan ‘Tidak Otomatis Naik Kelas’

Terpopuler
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.