Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

HUT ke-81 Jabar, Ketimpangan Pembangunan dan Efisiensi Birokrasi Jadi Sorotan

Kamis, 20 Agustus 2026 06:48 WIB

Daftar Kode Redeem FF Terbaru 20 Agustus 2026, Segera Klaim Hadiahnya!

Kamis, 20 Agustus 2026 06:00 WIB
Begini cara dapat saldo DANA gratis, awas hati-hati kena tipu.

Klaim Saldo DANA Gratis 20 Agustus 2026: Link DANA Kaget dan Cara Cairkan hingga Ratusan Ribu Rupiah Hari Ini

Kamis, 20 Agustus 2026 02:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • HUT ke-81 Jabar, Ketimpangan Pembangunan dan Efisiensi Birokrasi Jadi Sorotan
  • Daftar Kode Redeem FF Terbaru 20 Agustus 2026, Segera Klaim Hadiahnya!
  • Klaim Saldo DANA Gratis 20 Agustus 2026: Link DANA Kaget dan Cara Cairkan hingga Ratusan Ribu Rupiah Hari Ini
  • Kumpulan Kode Redeem FF 20 Agustus 2026 Terbaru: Klaim Skin & Diamond Gratis Hari Ini
  • Maulid Nabi 2026 Tanggal Berapa? Cek Kalender Hijriah 1448 H dan Daftar Tanggal Merahnya
  • Tikung PSG di Detik Akhir, Aston Villa Resmi Amankan Tanda Tangan Zion Suzuki
  • Skandal Pancatera: Jual Narasi Kritis, Tapi ‘Pesta’ di Istana? Netizen Merasa Dikhianati!
  • Modal Tampil di Bali, Fitrah Maulana Siap Bersaing di Skuad Utama Persib
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 20 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dirjen IKP Kemenkominfo Ungkap Ironi di Balik Perkembangan AI

By Putra JuangKamis, 28 Maret 2024 19:40 WIB2 Mins Read
Artificial Intelligence. (Foto: net)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) rupanya menimbulkan sebuah ironi bagi peradaban manusia itu sendiri.

Begitu disampaikan Dirjen IKP Kemenkominfo, Usman Kansong dalam diskusi bertajuk ‘Pers, Artificial Intelligence, dan Problem Penegakan Kode Etik Jurnalistik: Bagaimana Solusinya?’ di Hall Dewan Pers, Kamis (28/3/2024).

Menurut Usman, ironi teknologi kecerdasan buatan atau AI salah satunya terjadi di Korea Selatan. Dimana sebanyak tiga presenter dalam sebuah stasiun televisi dipecat dan digantikan oleh virtual presenter.

“Ini ironi bagi saya dalam dunia AI. Dulu sampai sekarang sering disampaikan ga mungkin manusia digantikan oleh AI karena manusia itu punya emosi, cinta, kasih. Tapi justru karena manusia punya emosi itu maka dia makin cepat digantikan oleh AI,” ucap Usman.

Persoalan lain dari perkembangan AI ini, kata Usman, yakni teknologi kecerdasan buatan justru ‘membunuh’ banyak pekerjaan.

“Ironi kedua, AI membunuh banyak pekerjaan. Jadi tadi istilah meringkas pekerjaan itu kata lainnya membunuh banyak pekerjaan,” ujarnya.

Kemudian buruknya perkembangan teknologi kecerdasan buatan pada bidang media, kata Usman, adalah dalam segi penulisan berita yang dituntut untuk sesuai dengan algoritma.

“Kita ini sekarang ditengah maraknya teknologi digital, menulis berita itu di-drive oleh algoritma. Algoritma itu AI, dasarnya AI itu ya algoritma dan ketika menulis di-drive oleh algoritma maka kita menghasilkan jurnalisme umpan klik atau clikbait,” jelasnya.

Usman mencontoh, saat ini penulisan berita harus dikaitkan dengan kata kunci Mahkamah Konstitusi (MK). Sebab,

“Contohnya ada berita tentang kosmetik, jangan lupa pakai kosmetik A kalau Anda mau menghadiri sidang di MK supaya tetap terjaga kecantikannya. Padahal ga ada urusannya sama MK tapi karena sekarang lagi rame-rame menuntut pemilu maka dipaksa-paksakanlah berita itu ditulis yang ada unsur MK. Itu yang namanya clickbate journalism,” tuturnya.

Menurutnya, budaya umpan klik atau clikbait ini akan menciptakan budaya rebahan di kalangan wartawan.

“Jadi wartawan itu instan, jadi budaya instan di kalangan wartawan yang menulis berita di-drive oleh algoritma bukan di-drive oleh kebijakan redaksional jadinya,” ungkapnya.

Oleh karena itu, saat ini banyak wartawan yang menulis berita tidak lagi untuk manusia namun untuk data.

“Jadi kan oleh si algoritma ini perilaku membaca kita pada hari itu yang gemar membaca segala berita yang ada unsur MK itu diubah jadi data,” imbuhnya.

Padahal, lanjut Usman, dalam menulis sebuah berita harus memenuhi tiga unsur penting, Yakni agency, dignity dan hope.

“Jadi berita kita mestinya kalau beritanya untuk manusia itu mengandung tiga unsur itu, kita ini di era teknologi ini yang tersisa cuman harapan, bahkan harapan kita digantungkan kepada mesin,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Ai Artificial Intelligence Dirjen IKP Kemenkominfo kecerdasan buatan media Usman Kansong wartawan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

HUT ke-81 Jabar, Ketimpangan Pembangunan dan Efisiensi Birokrasi Jadi Sorotan

Skandal Pancatera: Jual Narasi Kritis, Tapi ‘Pesta’ di Istana? Netizen Merasa Dikhianati!

Polemik Siswa SMP Nambal Lapangan: Antara Dugaan Eksploitasi & Budaya Gotong Royong!

gempa

Ribuan Gempa Susulan Masih Guncang Flores, Korban Jiwa Tembus 70 Orang

Dedi Mulyadi Beberkan PR Jabar di Usia 81 Tahun, dari Lapangan Kerja hingga Lingkungan

ilustrasi gempa

Bandung Kembali Digoyang Gempa Pagi Ini, BMKG Ungkap Pemicunya

Terpopuler
  • Auto Resign Massal? Rahasia Gaji Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg yang Bikin Heboh Indonesia!
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Mengenal Susanah, Ibu Pengupas Bawang Asal Bogor yang Disebut Prabowo Diupah Rp700 Ribu per Kg
  • Kode Redeem ML 14 Agustus 2026 Terbaru, Ada Diamond dan Skin Gratis Hari Ini
  • Menembus Angka 75,90: Menguji Rekor IPM Jawa Barat di Tengah Bayang Ketimpangan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.