bukamata.id – Dunia pendidikan tinggi kembali diguncang isu miring. Kali ini, seorang Guru Besar dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung tengah menjadi sorotan tajam netizen setelah dugaan tindakan pelecehan terhadap mahasiswi asing mencuat ke publik melalui platform media sosial Threads dan X.
Isu ini meledak setelah akun @draftanakunpad4 mengunggah sejumlah bukti tangkapan layar percakapan yang dinilai sangat jauh dari etika akademik. Terduga pelaku, yang menyandang gelar profesor, disebut-sebut terus-menerus menghubungi korban—seorang peserta program pertukaran mahasiswa—melalui jalur pribadi WhatsApp dan Direct Message (DM).
Kronologi: Dari Permintaan Foto hingga Ajakan Minum
Berdasarkan bukti yang beredar, komunikasi yang dilakukan sang profesor dinilai manipulatif. Salah satu poin yang paling memicu kecaman adalah permintaan pribadi yang dinilai melecehkan, di mana pelaku meminta korban mengirimkan fotonya saat mengenakan bikini di kolam renang.
Meski korban sudah memberikan penolakan tegas dengan alasan privasi, pelaku diduga tidak berhenti. Ia justru mencoba mencairkan suasana dengan dalih yang tak wajar bagi seorang pendidik.
Dalam salah satu penggalan percakapan, pelaku bahkan menyarankan agar korban menenggak minuman beralkohol supaya merasa lebih “rileks”. Tak berhenti di situ, pelaku juga meminta pihak ketiga untuk memotret korban secara diam-diam saat sedang berenang.
Korban Melawan: Blokir Akun dan Lapor Kampus
Merasa keselamatannya terancam dan tidak nyaman selama berada di Indonesia, mahasiswi asing tersebut akhirnya mengambil langkah berani. Sebelum meninggalkan tanah air, ia memblokir seluruh akses komunikasi pelaku di Instagram.
Tak sekadar menghindar, korban juga melaporkan pelecehan ini kepada pihak fakultas melalui salah satu dosen pendamping dengan melampirkan seluruh bukti percakapan sebagai penguat laporan.
Respons Institusi dan Reaksi Publik
Langkah awal kabarnya telah diambil oleh pihak Unpad. Terduga pelaku disebut telah didepak dari keterlibatannya dalam program pertukaran mahasiswa internasional. Korban sendiri secara sadar mengizinkan bukti-bukti tersebut diunggah ke publik agar menjadi pembelajaran terkait etika profesional di kampus.
Ironisnya, publik menemukan bahwa pelaku baru saja merayakan momen puncak karier akademiknya. Akun resmi fakultas sempat mengunggah ucapan selamat atas pengukuhan guru besar tersebut pada Selasa, 14 April 2026.
Hingga saat ini, netizen masih menanti pernyataan resmi dan sanksi tegas dari pihak Universitas Padjadjaran terkait dugaan pelanggaran etik berat yang mencoreng marwah akademisi ini.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









