Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Game Free Fire

Kumpulan Kode Redeem FF 22 Agustus 2026: Klaim Token, SG2, dan Skin Bundle Gratis Sekarang!

Sabtu, 22 Agustus 2026 01:00 WIB

Bukan di GBLA? Laga Penentu Persib di ACL Two Terancam Geser ke Si Jalak Harupat

Jumat, 21 Agustus 2026 22:05 WIB

14 Pohon di Jalan Pahlawan Bandung Dikuliti, 2 Dipastikan Mati! Motif Pelaku Bikin Heran

Jumat, 21 Agustus 2026 21:35 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kumpulan Kode Redeem FF 22 Agustus 2026: Klaim Token, SG2, dan Skin Bundle Gratis Sekarang!
  • Bukan di GBLA? Laga Penentu Persib di ACL Two Terancam Geser ke Si Jalak Harupat
  • 14 Pohon di Jalan Pahlawan Bandung Dikuliti, 2 Dipastikan Mati! Motif Pelaku Bikin Heran
  • Persib Punya 12 Pemain Asing, Igor Tolic Akhirnya Buka Suara soal Siapa yang Bakal Dilepas
  • Terbang Ke Australia Hingga Korea, Marc Klok Jujur Soal Beban Persib di ACL Two
  • Jabar Masih Dibelit Masalah, Kehadiran Dedi Mulyadi di NTT Dinilai Tak Urgent
  • Gudang Hancur, Beras Utuh! Keteladanan Hati Warga NTT yang Bikin Satu Indonesia Terharu
  • Bansos Tahap 3 2026 Masih Cair, Cek Status Penerima PKH dan BPNT Sekarang
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 22 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Efisiensi ala Dedi Mulyadi Dinilai Abaikan Sektor Riil, Ekonomi Daerah Bisa Terpukul

By Aga GustianaSenin, 30 Juni 2025 12:02 WIB3 Mins Read
Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto: Rafki R/bukamata.id)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di tengah laju pertumbuhan ekonomi yang kian berat, sejumlah kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, justru memicu kekhawatiran baru dari sisi keberlanjutan ekonomi daerah. Beberapa kebijakan yang disebut sebagai bentuk efisiensi anggaran dinilai berisiko menekan sektor riil dan memperlebar jurang ketimpangan fiskal di tingkat lokal.

Salah satu kebijakan yang menjadi sorotan adalah larangan pelaksanaan kegiatan rapat dinas di hotel, meski Kementerian Dalam Negeri sudah mengizinkan hal tersebut. Larangan ini disebut Gubernur sebagai upaya mendorong penghematan dan efisiensi belanja daerah.

“Kantor yang ada sudah cukup untuk rapat. Seluruh keputusan pun banyak yang diambil di ruang kerja, bukan di rapat,” ungkap Dedi melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, Kamis (12/6/2025).

Namun, imbas dari kebijakan itu langsung terasa di lapangan. Pelaku usaha perhotelan dan pariwisata di berbagai kota mengeluhkan penurunan permintaan. Hotel-hotel yang selama ini menjadi langganan kegiatan pemerintahan mulai merasakan penurunan pendapatan drastis.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Soroti Jalan Nasional Rusak Usai Ojol Tewas di Pasteur, Minta Kewenangan Diserahkan ke Daerah

Pajak Daerah Menurun, Potensi PAD Terancam

Pakar ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, menyampaikan kekhawatirannya terhadap pendekatan yang terlalu berorientasi pada simbol populisme, tanpa memperhitungkan dampaknya pada siklus ekonomi lokal.

“Hotel itu salah satu sumber pajak daerah. Jika semua kegiatan dilarang di hotel, kabupaten dan kota bisa kehilangan pemasukan. Jadi perlu ada relaksasi,” ujar Acuviarta saat diwawancarai bukamata.id, Minggu (29/6/2025).

Acuviarta juga menegaskan, meskipun efisiensi perlu, pemangkasan kegiatan yang bersentuhan langsung dengan ekonomi lokal seharusnya dikaji lebih dalam agar tidak menciptakan stagnasi.

Anggaran Besar, Tapi Strategi Investasi Masih Lemah

Dengan belanja modal Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mencapai Rp5 triliun, seharusnya ada ruang lebih besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi produktif. Namun, menurut Acuviarta, hal itu belum disertai dengan strategi investasi yang konkret dan terukur.

Baca Juga:  Aksi Pekerja Wisata di Gedung Sate Diselimuti Spanduk Sarkas: 'Bapak Duda, Kami Punya Keluarga'

“Pak Dedi sebaiknya mulai membuka peluang kerja sama luar negeri. Jangan melihat perjalanan ke luar negeri sebagai pemborosan. Justru dengan promosi yang tepat, Jawa Barat bisa menarik investasi yang menciptakan lapangan pekerjaan baru,” katanya.

Kritik ini mengarah pada pendekatan birokrasi yang selama ini menahan diri dari misi dagang atau promosi luar negeri, padahal investasi asing langsung bisa menjadi katalis penting penciptaan lapangan kerja.

Bantuan Sosial Tak Menjawab Akar Masalah

Di tengah polemik tersebut, langkah-langkah Gubernur yang viral di media sosial—seperti pembagian bantuan langsung—juga menuai kritik karena dianggap hanya menyentuh permukaan permasalahan ekonomi masyarakat.

“Bagi saya tidak cukup jika hanya kegiatan seperti itu. Karena apa? Mungkin yang tersorot hanya satu atau dua orang, padahal kan banyak orang yang mengalami persoalan yang tidak tersorot dan itu butuh solusi yang komprehensif,” tegas Acuviarta.

Baca Juga:  Skor SPMB Sekolah Maung Mendadak Turun, Orangtua Siswa Ingin Bertemu Dedi Mulyadi

Pendekatan jangka pendek seperti ini, menurutnya, tidak akan cukup untuk membangun ketahanan ekonomi masyarakat secara menyeluruh.

Pertumbuhan Ekonomi Tak Cukup, Struktur Harus Dibenahi

Jawa Barat memang mencatatkan pertumbuhan ekonomi 4,98% pada kuartal pertama 2025—sedikit di atas rata-rata nasional yang berada di angka 4,87%. Namun, capaian ini belum mencerminkan perbaikan mendalam, karena fondasi struktural masih rapuh.

Masyarakat dan pengamat kini menanti apakah Gubernur Dedi Mulyadi akan merespons kritik ini dengan pergeseran kebijakan yang lebih strategis. Dengan tantangan fiskal, tekanan ketenagakerjaan, dan ancaman stagnasi PAD, pendekatan simbolik semata bisa jadi bukan hanya tidak efektif—tetapi justru berisiko melemahkan ketahanan ekonomi daerah.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Ekonomi Jabar fiskal daerah investasi kebijakan Jawa Barat kritik kebijakan Larangan Rapat di Hotel pariwisata study tour
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

14 Pohon di Jalan Pahlawan Bandung Dikuliti, 2 Dipastikan Mati! Motif Pelaku Bikin Heran

Jabar Masih Dibelit Masalah, Kehadiran Dedi Mulyadi di NTT Dinilai Tak Urgent

Gudang Hancur, Beras Utuh! Keteladanan Hati Warga NTT yang Bikin Satu Indonesia Terharu

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos Tahap 3 2026 Masih Cair, Cek Status Penerima PKH dan BPNT Sekarang

7.326 PPPK Paruh Waktu Bandung Dapat Kepastian, Ini Alasan Belum Diangkat Jadi Penuh Waktu

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Saldo Bansos Belum Masuk? Ini Penyebab PKH, BPNT dan Bantuan Beras Agustus 2026 Belum Cair

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Menembus Angka 75,90: Menguji Rekor IPM Jawa Barat di Tengah Bayang Ketimpangan
  • Game Free Fire
    Banjir Hadiah! Buruan Klaim Kode Redeem FF 19 Agustus 2026 Sebelum Kehabisan
  • Ekspedisi Gahvara Yava 2026 Sukses Petakan Peta Baru Luweng Ombo Pacitan Sepanjang 8,2 Kilometer
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.