Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Misteri Kematian Satpam Waduk Jatiluhur Terkuak? Diduga Tewas sebelum Dibuang

Rabu, 29 Juli 2026 19:39 WIB

Belum Debut Tapi Sudah Jatuh Hati, Mariano Peralta Ungkap Pengalaman Pertama Bersama Persib

Rabu, 29 Juli 2026 19:11 WIB

Presiden Prabowo Lantik 1.204 Pamong Praja Muda IPDN: Ingatkan Pentingnya Integritas dan Keberpihakan pada Rakyat

Rabu, 29 Juli 2026 18:39 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Misteri Kematian Satpam Waduk Jatiluhur Terkuak? Diduga Tewas sebelum Dibuang
  • Belum Debut Tapi Sudah Jatuh Hati, Mariano Peralta Ungkap Pengalaman Pertama Bersama Persib
  • Presiden Prabowo Lantik 1.204 Pamong Praja Muda IPDN: Ingatkan Pentingnya Integritas dan Keberpihakan pada Rakyat
  • Bukan Cuma Sekali Bikin Ulah! Rekam Jejak Kontroversial Lurah Syerly yang Kini Diperiksa Inspektorat
  • Garuda Siap Tempur! Indonesia Dapat Grup Panas Hadapi Malaysia hingga India di FIFA ASEAN Cup 2026
  • Geger Penemuan Jasad Bayi Membusuk di Perkebunan Kuningan
  • Update Penyaluran BLT Kesra Rp900.000 Juli 2026: Status Terbaru dan Klarifikasi Pemerintah
  • Teras Cihampelas Resmi Diserahkan ke Pemprov Jabar, Oktober Ditargetkan Sudah Bersih
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 30 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Gak Masuk Akal! Karena Listrik Awet, Lansia di Nias Kena Sanksi Cabut Meteran dan Harus Bayar Rp600 Ribu

By Aga GustianaKamis, 12 Maret 2026 09:22 WIB5 Mins Read
Pilu, pasangan lansia di Nias dicabut meterannya karena terlalu hemat. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di sebuah sudut sunyi di Kepulauan Nias, Sumatera Utara, matahari biasanya menjadi satu-satunya harapan bagi sepasang kekasih senja untuk melihat dunia dengan terang. Namun, bagi kakek berusia 83 tahun dan istrinya, kegelapan kini tak lagi hanya datang saat malam tiba. Kegelapan itu hadir dalam bentuk sebuah lubang kosong di dinding kayu rumah mereka—bekas meteran listrik yang dicabut paksa oleh tangan-tangan yang seharusnya melayani.

Kisah memilukan ini mencuat ke permukaan setelah seorang pengguna Facebook bernama Tanti membagikan kesaksiannya. Apa yang bermula sebagai perjalanan biasa di kampung halaman mertuanya, berubah menjadi pemandangan yang menyayat hati. Tanti menjadi saksi mata bagaimana birokrasi dan kecurigaan yang tak berdasar bisa merenggut hak paling dasar dari mereka yang sudah tidak berdaya.

Kesederhanaan yang Dicurigai

Rumah pasangan lansia ini bukanlah hunian dengan deretan alat elektronik canggih. Tidak ada pendingin ruangan yang menderu, tidak ada televisi yang menyala seharian, apalagi mesin cuci yang berputar setiap pagi. Di dalam gubuk sederhana itu, kehidupan berjalan dengan sangat lambat. Penggunaan listrik mereka pun mencerminkan keterbatasan ekonomi sekaligus efisiensi yang luar biasa.

“Rumah itu hanya diterangi tiga buah lampu berdaya rendah. Sesekali, mereka menggunakan rice cooker untuk menanak nasi,” tutur Tanti dalam unggahannya.

Karena pola hidup yang teramat hemat itulah, keajaiban kecil terjadi: token listrik mereka awet. Pengisian terakhir dilakukan pada Desember 2025, dan karena minimnya konsumsi, saldo listrik tersebut masih tersisa hingga berbulan-bulan kemudian. Bagi pasangan ini, awetnya token adalah berkah. Namun bagi oknum petugas PLN yang datang hari itu, hal tersebut justru dianggap sebagai anomali yang mencurigakan.

Logika petugas yang datang tampak jungkir balik. Bukannya mengapresiasi efisiensi atau memahami kondisi kemiskinan pelanggan, mereka justru mempertanyakan mengapa listrik di rumah itu tidak kunjung habis. Kecurigaan ini berujung pada tindakan sepihak: meteran listrik dicabut, dan pasangan lansia itu dipaksa menggantinya dengan unit baru.

Subsidi yang Berujung Ironi

Ironi terbesar dalam kisah ini adalah status kepesertaan mereka dalam program subsidi pemerintah. Sang nenek bercerita bahwa mereka telah mengajukan permohonan subsidi listrik sejak Februari 2025. Permohonan itu dikabulkan, yang seharusnya menjadi jaring pengaman sosial agar beban hidup mereka berkurang.

Namun, alih-alih mendapatkan perlindungan, mereka justru dihadapkan pada pungutan yang memberatkan. Petugas meminta uang sebesar Rp600.000 sebagai biaya penggantian meteran. Angka tersebut tentu sangat besar bagi lansia yang mengandalkan bantuan pemerintah untuk bertahan hidup. Bahkan, para petugas tersebut secara spesifik mengincar dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang baru saja diterima pasangan tersebut untuk melunasi biaya yang dipaksakan itu.

Uang BLT yang seharusnya digunakan untuk menyambung nyawa—membeli beras, obat-obatan, atau kebutuhan pokok lainnya—justru dialihkan untuk membayar “kesalahan” karena mereka terlalu hemat dalam menggunakan listrik.

Gelombang Amarah di Jagat Maya

Begitu kisah ini diunggah oleh Tanti, simpati mengalir deras bagaikan air bah. Namun, di balik simpati itu, terselip kemarahan kolektif yang luar biasa dari warganet. Ketidakadilan yang menimpa pasangan lansia di Nias ini dianggap sebagai potret nyata betapa buruknya layanan publik di daerah terpencil dan betapa arogan oknum lapangan dalam menghadapi rakyat kecil.

Akun media sosial resmi PLN (@pln_id) pun menjadi sasaran kritik tajam. Banyak warganet yang menawarkan diri untuk melunasi tagihan pasangan tersebut, namun dengan syarat yang tegas: oknum yang terlibat harus ditindak.

“@pln_id sini saya aja bayarin. Tp oknumnya tolong dipecat,” tulis salah satu netizen dengan nada geram.

Komentar lain menyoroti status monopoli PLN yang dianggap membuat perusahaan tersebut abai terhadap empati. “Ayo @pln_id saya bayarin tagihan listrik kakek nenek itu setiap bulan seumur hidup mereka. Saya cuma minta diputus saja vendor dari karyawan tidak bernurani itu. Btw, enak ya bisnis tanpa kompetitor? Bisa sewenang-wenang,” sindir netizen lainnya.

Sentimen publik seragam: masyarakat tidak keberatan membantu secara finansial, namun mereka menuntut keadilan moral. Mereka mempertanyakan apakah tindakan mencabut meteran karena “terlalu hemat” adalah bagian dari regulasi resmi atau sekadar akal-akalan oknum untuk mengejar target atau keuntungan pribadi.

Menanti Nurani dan Klarifikasi

Hingga saat ini, keheningan masih menyelimuti pihak berwenang terkait. Belum ada penjelasan resmi mengapa prosedur pencabutan tersebut dilakukan tanpa sosialisasi yang jelas dan mengapa ada pungutan biaya yang begitu besar di tengah status rumah tangga bersubsidi.

Kasus di Nias ini bukan sekadar tentang meteran listrik yang berpindah tangan. Ini adalah tentang martabat lansia yang diabaikan, tentang hak-hak rakyat kecil yang tergerus oleh arogansi jabatan, dan tentang pentingnya pengawasan di tingkat akar rumput. Di wilayah kepulauan seperti Nias, akses terhadap informasi dan perlindungan hukum seringkali terbatas, membuat warga rentan menjadi korban kesewenang-wenangan.

Kakek berusia 83 tahun itu kini mungkin hanya bisa duduk tertegun di teras rumahnya, menatap dinding tempat meteran listriknya dulu menempel. Ia mungkin tidak paham apa itu viral, apa itu netizen, atau apa itu regulasi korporasi. Yang ia tahu hanyalah satu: di masa tuanya, kegelapan terasa jauh lebih dingin ketika ia harus kehilangan uang makannya demi secercah cahaya yang sempat ia usahakan dengan sangat hemat.

Kini, bola panas ada di tangan PLN. Apakah mereka akan turun tangan untuk mengembalikan hak pasangan lansia tersebut dan membersihkan nama baik instansi dari perilaku oknum tak bernurani, ataukah membiarkan kisah pilu dari Nias ini hilang ditelan hiruk-pikuk berita lainnya? Satu yang pasti, nurani publik telah menyala, menolak untuk padam sebelum kegelapan di rumah kakek itu sirna.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

BLT lansia Listrik Gratis nias PLN subsidi listrik token listrik viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

BLT Kesra mulai dicairkan bulan ini secara bertahap.

Update Penyaluran BLT Kesra Rp900.000 Juli 2026: Status Terbaru dan Klarifikasi Pemerintah

Heboh! Suami Cut Keke Dilaporkan atas Dugaan Perzinaan, Ini Kronologi yang Terungkap

Gratis Tanpa Diamond! Ini Kode Redeem Free Fire Terbaru yang Bisa Bikin Inventory Makin Keren

Meta AI Masuk DM Threads! Kini Bisa Chat Privat dengan AI Tanpa Dilihat Netizen

Job Fair Bandung 2026: Sediakan 3.019 Lowongan Kerja, Ini Jadwal dan Cara Daftarnya

Siapa Nabila Gardena? Selebgram Lulusan ITB Ini Terseret Kasus Korupsi Timah Rp300 Triliun

Terpopuler
  • Korps Alumni KNPI Jabar Bentuk Badan Advokasi untuk Kawal Tata Kelola Pemerintahan dan Cegah Korupsi
  • Fakta Baru Satpam Tewas Terborgol di Waduk Jatiluhur: Polisi Tegaskan Belum Ada Tersangka
  • Bandung Tak Lagi Aman? Sisi Gelap Geng Begal Malam Hari dan Tekanan Ekonomi Modern!
  • Bali Is Not Your Home! Viral WNA Gelar Event Lari Ekslusif, Warga Lokal Dilarang Ikut?
  • Dikenalkan Bos Hartono, Ini Sosok Dr. Veronica yang Bikin Irfan Hakim Penasaran Soal Akupunktur Telinga
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.