Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bobotoh Wajib Tahu! Jadwal dan Lokasi Nobar Persib Terbaru

Kamis, 30 April 2026 03:00 WIB

Fenomena Video Viral di Bandar Batang: Mengapa Kita Harus Lebih Bijak Menyikapi Tren Media Sosial?

Kamis, 30 April 2026 02:00 WIB

Koordinasi Amburadul, Spanduk Penutupan Jalan Diponegoro Dicopot Usai Viral

Rabu, 29 April 2026 23:11 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bobotoh Wajib Tahu! Jadwal dan Lokasi Nobar Persib Terbaru
  • Fenomena Video Viral di Bandar Batang: Mengapa Kita Harus Lebih Bijak Menyikapi Tren Media Sosial?
  • Koordinasi Amburadul, Spanduk Penutupan Jalan Diponegoro Dicopot Usai Viral
  • Terungkap! Ini Dugaan di Balik Video Viral ‘Bandar Bergetar’
  • Laga Krusial! Persib Wajib Tundukkan Bhayangkara FC Demi Gelar Juara
  • Jangan Lewatkan! Jadwal Upacara Hardiknas 2026 dan Filosofinya
  • Arsenal Siap Jual 5 Pemain Demi Datangkan Julian Alvarez
  • Marc Klok Pasang Target Gila! Persib Wajib Menang 5 Laga Tersisa
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 30 April 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Gak Masuk Akal! Karena Listrik Awet, Lansia di Nias Kena Sanksi Cabut Meteran dan Harus Bayar Rp600 Ribu

By Aga GustianaKamis, 12 Maret 2026 09:22 WIB5 Mins Read
Pilu, pasangan lansia di Nias dicabut meterannya karena terlalu hemat. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di sebuah sudut sunyi di Kepulauan Nias, Sumatera Utara, matahari biasanya menjadi satu-satunya harapan bagi sepasang kekasih senja untuk melihat dunia dengan terang. Namun, bagi kakek berusia 83 tahun dan istrinya, kegelapan kini tak lagi hanya datang saat malam tiba. Kegelapan itu hadir dalam bentuk sebuah lubang kosong di dinding kayu rumah mereka—bekas meteran listrik yang dicabut paksa oleh tangan-tangan yang seharusnya melayani.

Kisah memilukan ini mencuat ke permukaan setelah seorang pengguna Facebook bernama Tanti membagikan kesaksiannya. Apa yang bermula sebagai perjalanan biasa di kampung halaman mertuanya, berubah menjadi pemandangan yang menyayat hati. Tanti menjadi saksi mata bagaimana birokrasi dan kecurigaan yang tak berdasar bisa merenggut hak paling dasar dari mereka yang sudah tidak berdaya.

Kesederhanaan yang Dicurigai

Rumah pasangan lansia ini bukanlah hunian dengan deretan alat elektronik canggih. Tidak ada pendingin ruangan yang menderu, tidak ada televisi yang menyala seharian, apalagi mesin cuci yang berputar setiap pagi. Di dalam gubuk sederhana itu, kehidupan berjalan dengan sangat lambat. Penggunaan listrik mereka pun mencerminkan keterbatasan ekonomi sekaligus efisiensi yang luar biasa.

“Rumah itu hanya diterangi tiga buah lampu berdaya rendah. Sesekali, mereka menggunakan rice cooker untuk menanak nasi,” tutur Tanti dalam unggahannya.

Karena pola hidup yang teramat hemat itulah, keajaiban kecil terjadi: token listrik mereka awet. Pengisian terakhir dilakukan pada Desember 2025, dan karena minimnya konsumsi, saldo listrik tersebut masih tersisa hingga berbulan-bulan kemudian. Bagi pasangan ini, awetnya token adalah berkah. Namun bagi oknum petugas PLN yang datang hari itu, hal tersebut justru dianggap sebagai anomali yang mencurigakan.

Logika petugas yang datang tampak jungkir balik. Bukannya mengapresiasi efisiensi atau memahami kondisi kemiskinan pelanggan, mereka justru mempertanyakan mengapa listrik di rumah itu tidak kunjung habis. Kecurigaan ini berujung pada tindakan sepihak: meteran listrik dicabut, dan pasangan lansia itu dipaksa menggantinya dengan unit baru.

Baca Juga:  Bak Geng Motor, Habib Zaidan Konvoi Sambil Geber Motor di Jalan Raya

Subsidi yang Berujung Ironi

Ironi terbesar dalam kisah ini adalah status kepesertaan mereka dalam program subsidi pemerintah. Sang nenek bercerita bahwa mereka telah mengajukan permohonan subsidi listrik sejak Februari 2025. Permohonan itu dikabulkan, yang seharusnya menjadi jaring pengaman sosial agar beban hidup mereka berkurang.

Namun, alih-alih mendapatkan perlindungan, mereka justru dihadapkan pada pungutan yang memberatkan. Petugas meminta uang sebesar Rp600.000 sebagai biaya penggantian meteran. Angka tersebut tentu sangat besar bagi lansia yang mengandalkan bantuan pemerintah untuk bertahan hidup. Bahkan, para petugas tersebut secara spesifik mengincar dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang baru saja diterima pasangan tersebut untuk melunasi biaya yang dipaksakan itu.

Uang BLT yang seharusnya digunakan untuk menyambung nyawa—membeli beras, obat-obatan, atau kebutuhan pokok lainnya—justru dialihkan untuk membayar “kesalahan” karena mereka terlalu hemat dalam menggunakan listrik.

Baca Juga:  Riuh di Balik Panggung Dakwah Ning Umi Laila, Ketika Guyonan Menjadi Sorotan

Gelombang Amarah di Jagat Maya

Begitu kisah ini diunggah oleh Tanti, simpati mengalir deras bagaikan air bah. Namun, di balik simpati itu, terselip kemarahan kolektif yang luar biasa dari warganet. Ketidakadilan yang menimpa pasangan lansia di Nias ini dianggap sebagai potret nyata betapa buruknya layanan publik di daerah terpencil dan betapa arogan oknum lapangan dalam menghadapi rakyat kecil.

Akun media sosial resmi PLN (@pln_id) pun menjadi sasaran kritik tajam. Banyak warganet yang menawarkan diri untuk melunasi tagihan pasangan tersebut, namun dengan syarat yang tegas: oknum yang terlibat harus ditindak.

“@pln_id sini saya aja bayarin. Tp oknumnya tolong dipecat,” tulis salah satu netizen dengan nada geram.

Komentar lain menyoroti status monopoli PLN yang dianggap membuat perusahaan tersebut abai terhadap empati. “Ayo @pln_id saya bayarin tagihan listrik kakek nenek itu setiap bulan seumur hidup mereka. Saya cuma minta diputus saja vendor dari karyawan tidak bernurani itu. Btw, enak ya bisnis tanpa kompetitor? Bisa sewenang-wenang,” sindir netizen lainnya.

Sentimen publik seragam: masyarakat tidak keberatan membantu secara finansial, namun mereka menuntut keadilan moral. Mereka mempertanyakan apakah tindakan mencabut meteran karena “terlalu hemat” adalah bagian dari regulasi resmi atau sekadar akal-akalan oknum untuk mengejar target atau keuntungan pribadi.

Menanti Nurani dan Klarifikasi

Hingga saat ini, keheningan masih menyelimuti pihak berwenang terkait. Belum ada penjelasan resmi mengapa prosedur pencabutan tersebut dilakukan tanpa sosialisasi yang jelas dan mengapa ada pungutan biaya yang begitu besar di tengah status rumah tangga bersubsidi.

Baca Juga:  Imbas Tarian Erotis Viral, Resto Hotel di Tasikmalaya Ditutup Sementara

Kasus di Nias ini bukan sekadar tentang meteran listrik yang berpindah tangan. Ini adalah tentang martabat lansia yang diabaikan, tentang hak-hak rakyat kecil yang tergerus oleh arogansi jabatan, dan tentang pentingnya pengawasan di tingkat akar rumput. Di wilayah kepulauan seperti Nias, akses terhadap informasi dan perlindungan hukum seringkali terbatas, membuat warga rentan menjadi korban kesewenang-wenangan.

Kakek berusia 83 tahun itu kini mungkin hanya bisa duduk tertegun di teras rumahnya, menatap dinding tempat meteran listriknya dulu menempel. Ia mungkin tidak paham apa itu viral, apa itu netizen, atau apa itu regulasi korporasi. Yang ia tahu hanyalah satu: di masa tuanya, kegelapan terasa jauh lebih dingin ketika ia harus kehilangan uang makannya demi secercah cahaya yang sempat ia usahakan dengan sangat hemat.

Kini, bola panas ada di tangan PLN. Apakah mereka akan turun tangan untuk mengembalikan hak pasangan lansia tersebut dan membersihkan nama baik instansi dari perilaku oknum tak bernurani, ataukah membiarkan kisah pilu dari Nias ini hilang ditelan hiruk-pikuk berita lainnya? Satu yang pasti, nurani publik telah menyala, menolak untuk padam sebelum kegelapan di rumah kakek itu sirna.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

BLT lansia Listrik Gratis nias PLN subsidi listrik token listrik viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Fenomena Video Viral di Bandar Batang: Mengapa Kita Harus Lebih Bijak Menyikapi Tren Media Sosial?

Terungkap! Ini Dugaan di Balik Video Viral ‘Bandar Bergetar’

Heboh Video 15 Menit Tasya Gym, Netizen Ramai Cari Link Asli

Jangan Klik! Link Video Viral Bandar Membara Diduga Berbahaya

Heboh Link Video ‘Bandar Membara Bergetar’ di Telegram, Polisi Ingatkan Ancaman UU ITE

Butiran Pakan Kucing di Tas Ain: Kebaikan Terakhir Sang Pejuang Keluarga Sebelum Tragedi KRL

Terpopuler
  • Link Asli Video Bandar Membara Full Durasi, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Link Video Bandar Batang Viral! Waspada Phising
  • Viral ‘Video Bandar Membara’ di Media Sosial, Warganet Cari Link Asli No Sensor
  • Gebrakan Mewah di Bursa Transfer: Persib Bandung Incar Bintang-bintang Eks Eropa
  • Heboh Link Video “Bandar Membara Viral” : Waspada Jeratan UU ITE Menanti!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.