Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Einstein dari Bojonegoro! Bocah 9 Tahun Ini Mampu Rakit Mesin Secara Otodidak

Sabtu, 11 April 2026 18:13 WIB

Buntut Sumpah Berujung Penistaan, Polisi Ringkus Terduga Pelaku Penginjak Al-Qur’an di Banten

Sabtu, 11 April 2026 17:51 WIB

Warga Meradang! Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung Picu Ketakutan: Anak Itu Bukan Mainan!

Sabtu, 11 April 2026 16:55 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Einstein dari Bojonegoro! Bocah 9 Tahun Ini Mampu Rakit Mesin Secara Otodidak
  • Buntut Sumpah Berujung Penistaan, Polisi Ringkus Terduga Pelaku Penginjak Al-Qur’an di Banten
  • Warga Meradang! Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung Picu Ketakutan: Anak Itu Bukan Mainan!
  • Terungkap! Rahasia di Balik Video Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Part 2 di Dapur, Benarkah Fakta atau Cuma Editan?
  • Trump Gertak Iran: Siap Buka Paksa Selat Hormuz Meski Tanpa Izin Teheran!
  • Dedi Mulyadi Tanggapi Santai Tantangan Wagub Kalbar, Pilih Fokus Bangun Jabar
  • Selamat Jalan Bobotoh Sejati, Jenderal Rukandi Berpulang Hari Ini: Aspal Bandung Takkan Lagi Sama
  • Bikin Bonding Makin Erat! Ini 3 Destinasi Wisata Hits di Bandung yang Paling Pas buat Acara Rombongan
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 11 April 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Garut dan Duka di Tengah Pesta: Ketika Euforia Berujung Tragedi

By Aga GustianaSabtu, 19 Juli 2025 13:41 WIB3 Mins Read
Pesta Rakyat Garut
Pesta Rakyat di Garut dalam acara resepsi pernikahan Maula Akbar Mulyadi Putra dan Putri Karlina. (Foto: Instagram)
ADVERTISEMENT

LANGIT di atas Alun-Alun Garut, Jumat sore itu, tak menunjukkan tanda akan turunnya hujan. Tapi awan kelabu bergelayut, seolah tahu bahwa hari itu bukan akan diwarnai tawa, melainkan tangis. Ribuan orang berkumpul di pelataran Lapangan Oto Iskandar Dinata, menjawab undangan sebuah pesta rakyat yang dibalut dalam nuansa syukuran pernikahan anak pejabat daerah. Namun, apa yang mestinya jadi perayaan, justru berubah menjadi peristiwa memilukan: tiga nyawa melayang, termasuk seorang anak dan seorang anggota kepolisian.

Bukan karena bencana alam. Bukan pula karena musibah yang tak bisa diprediksi. Tragedi ini terjadi di tengah hiruk-pikuk perayaan yang semestinya mengusung sukacita. Ironisnya, pesta itu diklaim digelar untuk rakyat. Namun, justru rakyat pula yang menjadi korban.

Di tengah sorotan lampu dan suara panggung, ada hal yang luput: perencanaan yang matang, pengamanan yang memadai, dan—yang terpenting—empati. Ribuan orang berdesakan demi sebungkus nasi kotak. Dalam euforia yang tidak terkelola, panggung kebahagiaan berubah menjadi simbol kepongahan.

Sementara masyarakat diminta berhemat demi efisiensi anggaran negara, acara megah seperti ini tetap digelar. Ada yang bertanya lirih: “Apakah efisiensi tak berlaku jika yang berpesta adalah penguasa?” Sebab sesungguhnya, efisiensi sejati adalah mencegah kesia-siaan—terutama jika yang hilang adalah nyawa manusia.

Baca Juga:  Gapura Panca Waluya, Strategi Jabar Bentuk Generasi Pemimpin Masa Depan

Di tengah duka, muncul pula pernyataan tentang bantuan uang duka. Nilai yang disebutkan: Rp150 juta per keluarga korban. Tapi benarkah lembaran uang bisa menjadi pelipur bagi kehilangan seorang anak? Seorang ayah? Seorang saudara? Mungkin tidak. Sebab, kehilangan tak bisa ditakar dalam nominal.

Pernyataan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjadi bagian dari narasi ini. Ia menyebut dirinya tidak mengetahui bahwa pesta pernikahan putranya, Maula Akbar Mulyadi Putra, dengan Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, akan melibatkan masyarakat dalam skala besar. Ia pun menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, dan berjanji akan mengambil pelajaran dari kejadian ini.

Baca Juga:  Gubernur Ridwan Kamil Tutup Cycling de Jabar 2023

“Saya tidak tahu akan ada acara makan bersama dengan warga dalam skala sebesar itu,” ujarnya. Meski tak terlibat langsung, ia menegaskan tanggung jawab moralnya sebagai orang tua dan sebagai kepala daerah.

Namun, kata maaf, meski tulus, tak serta-merta menghapus luka yang terlanjur menganga. Yang dibutuhkan bukan hanya klarifikasi, tapi langkah konkret: pertanggungjawaban hukum, moral, dan politik. Karena rakyat bukan ornamen acara. Mereka bukan massa bayaran untuk foto-foto, bukan latar belakang bagi panggung kekuasaan.

Dalam budaya Sunda, kata Dedi suatu waktu, “Teu ilahar urang ngondang batur keur antri dahareun.” Tapi di tengah pesta itu, kita justru menyaksikan warga berebut makanan hingga meregang nyawa. Di mana letak nilai silih asah, silih asih, silih asuh ketika yang tersisa hanyalah pemandangan kamera, panggung, dan tenda-tenda mewah?

Baca Juga:  Profil Tiga Anak Dedi Mulyadi yang Jarang Tersorot, dari Politisi hingga Dalang Berprestasi

Rantang-rantang yang dulu dikirim dari rumah ke rumah dalam kehangatan gotong royong, kini digantikan dengan panggung megah yang dingin dan asing. Pesta telah selesai, tapi Garut belum benar-benar bangkit. Duka masih menyelimuti, dan seluruh Jawa Barat ikut berkabung.

Tragedi ini seharusnya menjadi titik balik. Sebab kekuasaan, tanpa empati, hanya akan menghasilkan jarak. Dan ketika jarak itu menjadi jurang, rakyatlah yang paling dulu jatuh.

Hari ini, lebih dari apapun, masyarakat menanti ketegasan. Bukan sekadar belasungkawa. Tapi langkah nyata yang menunjukkan bahwa nyawa manusia tak pernah sepadan dengan panggung popularitas.

Sebab lebih baik satu pesta dibatalkan, daripada satu nyawa dikorbankan. Apalagi tiga.

Penulis adalah Redaktur Pelaksana (Redpel) bukamata.id

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi insiden Alun-Alun Garut jawa barat nyawa rakyat pesta pejabat pesta rakyat santunan korban syukuran pernikahan tragedi garut
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Buntut Sumpah Berujung Penistaan, Polisi Ringkus Terduga Pelaku Penginjak Al-Qur’an di Banten

Warga Meradang! Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung Picu Ketakutan: Anak Itu Bukan Mainan!

Trump Gertak Iran: Siap Buka Paksa Selat Hormuz Meski Tanpa Izin Teheran!

Dedi Mulyadi Tanggapi Santai Tantangan Wagub Kalbar, Pilih Fokus Bangun Jabar

program MBG

Warning! Keracunan Massal Usai Santap MBG Terjadi Lagi di Jabar, Kali Ini Ratusan Siswa di Tasik Jadi Korban

Tantangan Terbuka! Wagub Kalbar vs Dedi Mulyadi: Siapa yang Paling Jago Kelola Anggaran?

Terpopuler
  • Link Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Part 2 Viral, Hati-Hati Bisa Bobol Rekening
  • Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.
    Heboh! Video Viral Ibu Tiri di Ladang Sawit Bikin Netizen Berburu Link 7 Menit ‘No Sensor’
  • Terungkap! Rahasia di Balik Video Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Bikin Geger
  • Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2’ Gegerkan Medsos, Link Full Video Ternyata Berbahaya!
  • Link Video Diburu Netizen, Fakta di Balik Ibu Tiri vs Anak Tiri Terbongkar
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.