bukamata.id – Industri sepak bola global tengah dilanda gelombang kejut menyusul manuver kontroversial yang tengah disiapkan oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA). Lembaga tertinggi sepak bola dunia tersebut dikabarkan berencana melepas sebagian kepemilikan saham turnamen akbar Piala Dunia kepada investor swasta, sebuah langkah radikal yang langsung memantik kecaman keras dari konfederasi sepak bola Eropa, UEFA.
Mengutip laporan eksklusif dari The Times, Presiden FIFA Gianni Infantino dikabarkan memimpin langsung penyusunan proposal untuk mendirikan sebuah entitas bisnis baru yang nantinya akan mengambil alih kendali penuh atas turnamen terakbar di planet ini. Pria berusia 56 tahun tersebut bahkan telah merampungkan rancangan cetak biru proyek ambisius ini.
Lahirnya FIFA Forward Enterprise dan Suntikan Dana Raksasa
Dalam draf rancangan tersebut, perusahaan komersial anyar ini nantinya akan dinamai FIFA Forward Enterprise (FFE). Entitas korporasi ini diproyeksikan untuk memegang kendali operasional atas berbagai kompetisi elite di bawah naungan FIFA, mulai dari gelaran reguler Piala Dunia hingga turnamen antarklub global.
Kendati otoritas tertinggi sepak bola dunia itu tetap diposisikan sebagai pemegang saham mayoritas, sebagian porsi saham FFE bakal dibuka seluas-luasnya bagi penanaman modal swasta. Valuasi investasi yang disasar pun berada di angka fantastis, yakni menembus 20 miliar dolar AS atau setara dengan kisaran Rp362 triliun.
Dinamika di balik layar semakin menarik perhatian publik setelah sejumlah figur yang terafiliasi dengan lingkaran dekat eks Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan telah dimintai pandangan mengenai proposal bisnis tersebut. Apabila rencana besar ini berhasil disahkan, kendali operasional Piala Dunia berpotensi bergeser ke tangan korporasi swasta, sebuah pergeseran drastis mengingat status hukum FIFA selama ini dikenal sebagai organisasi nirlaba yang berkedudukan sebagai badan amal di Swiss.
Penolakan Keras dan Protes Terbuka dari UEFA
Kendati demikian, ambisi komersialisasi skala masif ini diprediksi bakal menemui jalan terjal. UEFA sebagai pemegang otoritas tertinggi sepak bola di Benua Biru melayangkan perlawanan sengit dan menilai langkah pembentukan perusahaan swasta untuk mengatur turnamen internasional sudah melampaui batas kewenangan normatif.
“Ini melanggar batasan yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh lembaga pengatur sepakbola,” UEFA menuliskan dalam pernyataan resmi, Selasa (28/7/2026) malam WIB.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









