Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Krisis Darurat Kantong Darah di Cianjur, Pasien Talasemia Terpaksa Andalkan Keluarga

Sabtu, 12 September 2026 21:55 WIB

Takluk dari Persija 2-1, Igor Tolic Soroti Celah Lini Belakang Persib

Sabtu, 12 September 2026 21:48 WIB

Akhir Perjalanan Kangen Band: Dodhy Umumkan Bubar Akibat ‘Kezaliman’ dan Larang Nyanyikan Lagunya

Sabtu, 12 September 2026 19:40 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Krisis Darurat Kantong Darah di Cianjur, Pasien Talasemia Terpaksa Andalkan Keluarga
  • Takluk dari Persija 2-1, Igor Tolic Soroti Celah Lini Belakang Persib
  • Akhir Perjalanan Kangen Band: Dodhy Umumkan Bubar Akibat ‘Kezaliman’ dan Larang Nyanyikan Lagunya
  • Pasukan Jepang Nyesel Datang? Niat Bantu Karhutla Malah Disambut Parade & Marching Band!
  • BOSS Cabaret Festival 2026 Jadi Ruang Tumbuh Kreativitas Anak Muda
  • Drama Menit Akhir di GBK: Gol Tandukan Ivan Mamut Bawa Persija Bungkam Persib 2-1
  • Kemensos Gunakan Data Baru, 4,3 Juta Keluarga Resmi Masuk Daftar Penerima Bansos
  • Link Live Streaming Persija vs Persib BRI Super League 2026: Nonton Siaran Langsung SUGBK Sore Ini
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 12 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Pasukan Jepang Nyesel Datang? Niat Bantu Karhutla Malah Disambut Parade & Marching Band!

By Aga GustianaSabtu, 12 September 2026 19:00 WIB5 Mins Read
Pasukan Jepang melongo disambut marching band. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Langit Pontianak kala itu seharusnya menjadi saksi bisu atas sebuah darurat ekologis yang mencekam. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mengepulkan asap pekat, mengancam napas jutaan warga, dan merusak keanekaragaman hayati Kalimantan. Di tengah situasi krisis yang menuntut gerak cepat, kedatangan ratusan personel Pasukan Bela Diri Jepang (Japan Self-Defense Forces – JSDF) yang membawa armada tempur dan logistik bencana seharusnya langsung bergegas menuju titik api.

Namun, realitas di lapangan justru menyajikan pemandangan yang kontras dan memicu gelombang perdebatan sengit di dunia maya. Alih-alih langsung tancap gas ke lokasi karhutla, para prajurit Negeri Sakura tersebut justru disambut dengan rangkaian acara seremonial yang meriah, lengkap dengan pengalungan kain etnik dan alunan korps musik. Sontak, momen unik ini langsung disorot tajam dan mengundang hujatan serta kritik pedas dari warganet Indonesia.

Babak Awal yang Kontras: Antara Urgensi Bencana dan Kemegahan Seremoni

Pengerahan sekitar 180 hingga 338 personel JSDF ke Kalimantan awalnya diapresiasi sebagai bentuk solidaritas internasional yang solid. Dengan posko komando yang dipusatkan di Asrama Haji Pontianak dan Lanud Supadio, publik membayangkan kedatangan pasukan asing ini akan langsung berintegrasi dengan satgas gabungan TNI-Polri untuk menjinakkan amukan api di lahan gambut.

Akan tetapi, ekspektasi publik berbenturan dengan kenyataan visual yang terekam kamera. Alih-alih langsung mengenakan pakaian pelindung asap dan memegang selang pemadam di garis depan, para perwira militer Jepang justru diposisikan sebagai tamu agung kehormatan. Kapal perang besar yang merapat di dermaga tidak serta-merta menurunkan pasukan untuk operasi darurat, melainkan menjadi latar belakang dari panggung kehormatan dan jabat tangan seremonial yang panjang.

Baca Juga:  Al Nassr Tawari Brighton Rp1,8 Triliun untuk Lepas Kaoru Mitoma

Bagi sebagian besar masyarakat, pemandangan ini dinilai mencederai rasa keadilan di tengah penderitaan warga yang setiap hari harus menghirup udara beracun akibat karhutla. Kritik pertama pun mulai bergulir: mengapa situasi darurat bencana harus diwarnai dengan seremoni ala penyambutan tamu kenegaraan yang membuang waktu?

“Api Nggak Padam Dikasih Marching Band”: Keresahan dan Satir Warganet

Begitu dokumentasi video dan foto penyambutan tersebut berseliweran di berbagai platform media sosial, kolom komentar langsung dibanjiri kritik tajam, sarkasme, dan hujatan pedas dari warganet. Karakter netizen Indonesia yang dikenal kritis sekaligus jenaka tumpah ruah dalam berbagai bentuk ekspresi ketidakpuasan terhadap protokol yang dianggap salah prioritas tersebut.

Keresahan publik dirangkum sempurna lewat berbagai komentar pedas yang menyoroti absurditas situasi di dermaga. Salah seorang warganet meluapkan kekesalannya terhadap agenda seremonial yang dinilai sama sekali tidak membantu percepatan penanganan bencana:

“Posisi kebakaran besar genting begitu masi bisa bisa nya pake selebrasi, itu api juga ga tiba tiba padam di kasi mercing band,” ujar netizen menyindir keras alunan musik dan parade yang digelar di tengah krisis.

Tak hanya menyoroti ketidaktepatan waktu selebrasi, banyak pula warganet yang membayangkan apa yang berkecamuk di dalam benak para prajurit asing tersebut. Dengan budaya militer Jepang yang terkenal sangat disiplin, efisien, dan berorientasi pada ketepatan waktu, kontras penyambutan mewah di tengah zona bencana tentu memunculkan tanda tanya besar bagi mereka:

Baca Juga:  Ke Luar Negeri Gercep, Bencana NTT Malah 'Direncanakan'? Beda Gaya Prabowo vs SBY Bikin Netizen Amuk!

“Orang jepang kaget ga ya? Lagi bencana tetep disambut pake parade,” ujar warganet lain, menyoroti ekspresi terperangah para personel JSDF di balik masker mereka.

Bagi publik maya, raut wajah para prajurit Jepang yang tampak tegun bukan sekadar wujud rasa hormat, melainkan bentuk kebingungan kultural menghadapi birokrasi darurat yang justru diwarnai “pesta” penyambutan. Kritikan ini bermuara pada satu tuntutan: efisiensi dan fokus pada aksi nyata, bukan pencitraan seremonial serba mewah di saat rakyat sedang berjuang melawan pekatnya asap.

Tradisi Etnik vs Profesionalisme Militer: Benturan Dua Budaya

Di balik hujatan netizen yang menghujani lini masa, para pengamat sosial dan militer mencoba melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih luas. Apa yang terjadi di pelabuhan Pontianak merupakan benturan kultural antara tata krama birokrasi lokal Indonesia dan budaya kerja militer asing yang sangat kaku serta efisien.

Bagi tuan rumah (pemda dan aparat setempat), penyambutan dengan pengalungan kain etnik khas Kalimantan dan kehadiran korps musik adalah bentuk hospitality (keramahan) tertinggi sekaligus penghormatan diplomatik untuk menunjukkan apresiasi atas uluran tangan negara sahabat. Tradisi ini sudah mendarah daging dalam protokoler kenegaraan di Indonesia, di mana setiap tamu penting—terutama militer asing—wajib disandarkan pada prosedur penghormatan budaya.

Baca Juga:  Sempat Ditunda, Jepang Berhasil Tumbangkan Polandia dengan Skor 1-0

Namun, di mata militer Jepang yang menjunjung tinggi efisiensi waktu, disiplin yang ketat, dan orientasi misi yang instan, prosesi seremonial yang panjang terkadang dianggap sebagai prosedur birokrasi yang memakan waktu operasional berharga. Meskipun para prajurit JSDF tetap berdiri tegak, tersenyum di balik masker, dan mengikuti seluruh rangkaian acara dengan profesionalisme tinggi, kontras antara “pesta penyambutan” dan “realitas karhutla yang membakar” telanjur menjadi bahan bakar empuk bagi kemarahan publik di dunia maya.

Refleksi Kasus: Evaluasi Protokoler di Tengah Krisis

Badai kritik dan hujatan netizen terhadap penyambutan pasukan JSDF ini sejatinya memberikan pelajaran berharga bagi instansi terkait dalam mengelola penanganan bencana di masa depan. Publik kini semakin cerdas dan kritis; mereka tidak lagi mudah terkecoh oleh kemegahan seremoni seremonial jika substansi penanganan krisis di lapangan belum menunjukkan hasil yang masif.

Pada akhirnya, setelah tirai seremonial di pelabuhan ditutup dan alunan terompet korps musik mereda, para prajurit JSDF tetap harus membuktikan kapabilitas mereka di medan yang sebenarnya. Apakah armada canggih seperti truk taktis, kendaraan 4×4, hingga kapal amfibi hovercraft (LCAC) yang mereka bawa mampu secara signifikan memadamkan titik-titik api di lahan gambut Kalimantan?

Hujatan netizen mungkin pedas, sarkastik, dan menggelitik, namun hal tersebut merupakan alarm keras agar birokrasi penanggulangan bencana di Indonesia lebih berfokus pada aksi nyata di garis depan ketimbang terjebak dalam kemeriahan seremonial yang kehilangan esensi daruratnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Jepang JSDF Karhutla Kalimantan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Akhir Perjalanan Kangen Band: Dodhy Umumkan Bubar Akibat ‘Kezaliman’ dan Larang Nyanyikan Lagunya

BOSS Cabaret Festival 2026 Jadi Ruang Tumbuh Kreativitas Anak Muda

Bansos Beras 30 Kg Cair Sekaligus: Jadwal, Syarat, dan Cara Cek Penerima

Modal Infak Receh Bisa Umrah? Bongkar Rahasia Sukses SMAN 1 Padalarang yang Bikin Warganet Heboh!

Game Free Fire

Daftar Kode Redeem Free Fire Sabtu 12 September 2026: Amankan Skin Gratis dan Trik Profil Spasi Kosong

Gandeng Irfan Hakim, Bos Koi Hartono Soekwanto Cetak Rekor Global Lewat Kontes Ikan Bogel di Bandung

Terpopuler
  • Aksi Sosial PT MBK Ventura di Purwakarta: Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dan Donor Darah untuk Warga
  • Heboh Video Viral Kasir Indomaret, Lylia Beri Klarifikasi dan Bongkar Hal Ini
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Coolmax Viral, Benarkah Ada Video Utuh?
  • Viral Rekaman Air Pesisir Surut Dekat Anak Krakatau, Begini Kata BMKG
  • Uang Pendidikan Mengalir ke Mana? Bongkar Manfaat Rp6,3 Triliun Jabar vs Rp351 Miliar Sulteng
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.