Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Ke Luar Negeri Gercep, Bencana NTT Malah ‘Direncanakan’? Beda Gaya Prabowo vs SBY Bikin Netizen Amuk!

Sabtu, 22 Agustus 2026 15:10 WIB

Viral! Keberanian Dua Bocah Palangka Raya Duel Mulut dan Ungkap Terduga Pembakar Lahan

Sabtu, 22 Agustus 2026 14:32 WIB

Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan Rp3,5 Miliar, Ruben Onsu Akhirnya Buka Suara dan Minta Maaf

Sabtu, 22 Agustus 2026 12:56 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ke Luar Negeri Gercep, Bencana NTT Malah ‘Direncanakan’? Beda Gaya Prabowo vs SBY Bikin Netizen Amuk!
  • Viral! Keberanian Dua Bocah Palangka Raya Duel Mulut dan Ungkap Terduga Pembakar Lahan
  • Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan Rp3,5 Miliar, Ruben Onsu Akhirnya Buka Suara dan Minta Maaf
  • Jadwal Liga Inggris Sabtu 22 Agustus 2026: Hull City vs MU Hingga Duel Sengit Brentford vs Spurs
  • Aksi Pemotor Piting dan Hajar Pemobil Gara-gara Suara Klakson, Polisi Buru Pelaku
  • Teror Begal Celurit Sasar Pengendara di Indramayu, Dua Remaja Berhasil Diciduk Polisi
  • Tak Perlu Waktu Lama, Ini Alasan Utama Sandy Walsh Cepat Adaptasi di Persib Bandung
  • Siap-siap! Persib Bandung Rilis Pre-Order Jersey Anyar 2026/2027 via Aplikasi Digi Bank BJB
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 22 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Ke Luar Negeri Gercep, Bencana NTT Malah ‘Direncanakan’? Beda Gaya Prabowo vs SBY Bikin Netizen Amuk!

By Aga GustianaSabtu, 22 Agustus 2026 15:10 WIB7 Mins Read
Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan sambutan dalam Puncak Harlah ke-28 yang digelar PKB di Jakarta. (Foto: Tangkapan Layar Youtube/ DPP PKB)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di tengah bentangan alam Kepulauan Nusantara yang indah namun rentan, bencana alam datang tanpa mengetuk pintu. Dalam rentang waktu yang berdekatan, Indonesia kembali dihantam oleh rangkaian cobaan berat yang tersebar dari barat hingga timur.

Di Kalimantan, kabut asap pekat memeluk kota-kota dan desa akibat kebakaran hutan dan lahan yang tak kunjung padam. Konsentrasi partikel polutan PM2.5 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, sempat menyentuh angka mengkhawatirkan hingga 389,4 mikrogram per meter kubik—sebuah level berbahaya yang mengancam saluran pernapasan jutaan jiwa, memaksa anak-anak bersekolah dari rumah, dan mematikan jarak pandang penerbangan.

Bergeser jauh ke Kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT), guncangan hebat gempa bumi bermagnitudo 7,7 menyapu pemukiman warga. Data pembaruan mencatat luka mendalam dengan korban jiwa melonjak hingga sedikitnya 83 orang tewas, sementara lebih dari 110.785 warga terpaksa angkat kaki dari rumah mereka yang hancur untuk menghuni posko-posko pengungsian darurat. Di sana, di balik reruntuhan beton dan retakan tanah, ratapan meminta bantuan dasar—makanan, air bersih, obat-obatan, selimut, serta tempat berlindung—bergema. Tugas distribusi bantuan pun terkendala berat oleh terputusnya jalur transportasi dan matinya akses komunikasi.

Kondisi tak kalah getir terlihat di Sumatra dan Aceh. Pemulihan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang merusak infrastruktur vital sejak akhir tahun lalu masih menyisakan kepiluan. Salah satu potret paling mencolok terbentang di Bener Meriah, Aceh. Setelah Jembatan Enang-Enang hancur diterjang banjir dan longsor pada November 2025, warga tak menunggu uluran tangan birokrasi yang lamban. Secara swadaya, masyarakat menggalang dana kolektif hingga menembus angka lebih dari Rp1 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp526 juta dialokasikan warga secara mandiri untuk memperbaiki jembatan dan menguruk material jalan agar urat nadi perekonomian desa kembali tersambung.

Di balik aksi gotong royong warga Aceh yang heroik namun ironis tersebut, terkuak sebuah keprihatinan publik mengenai keberadaan dan kehadiran pimpinan negara ketika krisis melanda.

Narasi Dua Zaman: Kehadiran Fisik versus Komando Terstruktur

Sorotan publik dan percakapan di media sosial belakangan ini merefleksikan perbandingan tajam antara gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam menangani bencana NTT dengan memori kolektif masyarakat terhadap Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kontras Kehadiran Fisik dan Komunikasi Krisis

Saat gempa M7,7 mengguncang NTT dan menelan puluhan jiwa, publik menunggu pernyataan resmi ataupun kehadiran fisik pucuk pimpinan tertinggi negara di lokasi bencana. Namun, respons awal pemerintah pusat yang sampai ke ruang publik didominasi oleh unggahan infografis di akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet.

Baca Juga:  Jadwal Piala Dunia U-17 Hari Ini: Duel Jepang Vs Argentina

Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan seluruh jajaran kementerian dan lembaga untuk bergerak cepat. Beliau menugaskan jajaran menteri—termasuk Menko PMK, Mendagri, Menteri PU, Kepala BNPB, Basarnas, Wamenkes, Wamenso, hingga tim BUMN—ke lokasi bencana, serta menyalurkan puluhan ribu paket bantuan presiden.

Mengenai alasan mengapa Presiden Prabowo belum melangkah langsung ke medan bencana NTT, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memberikan penjelasan resmi dari Istana bahwa kunjungan sedang direncanakan. Pihak Istana menegaskan bahwa pada masa-masa awal krisis, pemerintah memilih fokus mengatasi masalah teknis di lapangan terlebih dahulu. Kehadiran seorang Presiden disadari membutuhkan persiapan protokoler dan sarana pengamanan yang cukup rumit sehingga dikhawatirkan justru mengganggu konsentrasi penanganan darurat.

Pendekatan ini mencerminkan filosofi kepemimpinan teknokratis dan komando terstruktur. Presiden memegang kendali strategis dari pusat, mendeposisi eksekusi operasional kepada para menteri teknis dan lembaga penanggulangan bencana, serta menghindari potensi gangguan logistik lokal yang sering kali terserap untuk protokol pengamanan kedatangan Kepala Negara di hari-hari pertama krisis.

Namun, model delegasi terpusat ini memicu gejolak keresahan di jagat maya. Ketidakhadiran Presiden di garis depan bencana memancing riak kritik tajam dari warga net yang membandingkan skala prioritas kunjungan kerja luar negeri dengan penanganan bencana domestik. “Ini klo bencana ny di prancis atau timur tengah presiden kita gercep berangkat,” ujar seorang netizen melampiaskan kekecewaannya di media sosial.

Memori Tenda Terpal SBY: Simbolisme dan Komando Lapangan

Sebaliknya, media sosial melalui unggahan ulang akun media sosial menghidupkan kembali kenangan kepemimpinan krisis pada era Presiden SBY. Foto-foto ikonik memperlihatkan SBY sedang memimpin rapat darurat di dalam tenda peleton yang minim fasilitas, beralaskan terpal plastik biru, ditemani peta kontur bencana dan deretan menteri yang mengenakan pakaian lapangan santai.

Peristiwa otentik itu terekam jelas pada Mei 2006, ketika SBY bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono dan rombongan menteri memindahkan kantor presiden ke lapangan Balai Desa Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah—sebuah titik yang hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari puncak Gunung Merapi yang bergolak.

Baca Juga:  Liburan Diam-Diam ke Jepang, Lucky Hakim Terancam Diberhentikan Sementara

Selama beberapa hari, SBY menginap di tenda darurat Departemen Sosial berwarna biru-putih. Langkah bermalam di garis depan bencana ini menjadi bentuk manajemen krisis langsung. Cara ini terbukti memotong jalur birokrasi, sehingga keputusan krusial seperti pencairan dana darurat, pengerahan personil TNI/Polri, dan evakuasi warga dapat diputuskan di tempat tanpa melalui kerumitan administrasi pusat. Selain itu, kehadiran fisik pemimpin tertinggi di tengah pengungsi memberikan penghiburan moral dan rasa tenang bahwa negara hadir dan tidak meninggalkan warga yang menderita.

Jurang perbedaan gaya kepemimpinan di dua era ini dirasakan begitu mencolok oleh publik digital. Menanggapi kontrasnya kehadiran SBY di lapangan dengan penanganan krisis saat ini, suara publik di media sosial terasa menohok: “Perbandingannya bagaikan langit dan inti dalam bumi…,” ujar netizen lainnya.

Cermin dari Negeri Sakura: Komunikasi Instan Komandan Tinggi

Untuk memahami konteks penanganan bencana secara global, pengalaman Jepang sebagai negara yang berdiri di atas jalur Ring of Fire memberikan gambaran menarik.

Ketika gempa bumi berkekuatan M7,1 menghantam Prefektur Kumamoto, Kyushu, respons pemerintah Jepang berlangsung dalam hitungan menit. Perdana Menteri Jepang langsung berjalan cepat menuju kantor kediaman resmi dan berdiri di hadapan kamera televisi nasional serta media internasional.

Tanpa menunggu laporan komprehensif selesai sepenuhnya, Perdana Menteri langsung menyampaikan pernyataan pers secara siaran langsung. Beliau mengonfirmasi parameter gempa dan potensi tsunami, menyampaikan instruksi keselamatan agar masyarakat segera mengungsi ke tempat tinggi, serta mengumumkan pengiriman tim peneliti dan investigasi krisis dari Kantor Kabinet detik itu juga ke lokasi gempa.

Di Jepang, transparansi dan kehadiran langsung suara pimpinan negara di layar kaca pada jam-jam pertama pascabencana dianggap sebagai pilar utama mitigasi psikologis. Hal ini mencegah kepanikan massal, memutus mata rantai informasi palsu, serta menegaskan bahwa mesin pemerintahan berfungsi penuh sejak detik pertama bencana melanda.

Kecepatan respons pemandangan ala Jepang ini kerap memicu amarah dan perbandingan pedas dari warganet tanah air yang mendambakan kepemimpinan yang sigap. “Liat JEPANG kemarin GEMPA dan Banjir respond perdana menteri nya gercep banget, ini liat INDONESIA bawaan nya pen NGELUDAHIN huakkkhhh cuhh..” ujar seorang netizen dengan nada masygul saat membandingkan standar komunikasi krisis antarnegera.

Perbandingan Dinamika Tiga Pendekatan Kepemimpinan

Gaya kepemimpinan SBY mengandalkan pusat komando lapangan dengan menginap di tenda lokasi bencana. Komunikasi dilakukan lewat rapat terbuka di lapangan dan peninjauan langsung. Pendekatan ini sangat unggul dalam membangun empati publik yang kuat dan memotong birokrasi daerah, meski memiliki tantangan berupa risiko menyerap beban logistik dan pengamanan lokal untuk rombongan kepresidenan.

Baca Juga:  Flashback Debat Pilpres 2024: Duel Prabowo-Anies yang Masih Membekas

Di sisi lain, model pemerintahan Presiden Prabowo menerapkan pendekatan delegasi terpusat. Komando dikendalikan dari Istana Pusat melalui instruksi kepada para menteri, dengan kanal komunikasi utama menggunakan rilis pers dan media sosial instansi. Kelebihannya adalah mencegah beban protokoler di daerah krisis sehingga para menteri dan petugas lapangan dapat fokus pada bidangnya masing-masing. Namun, tantangannya adalah munculnya persepsi publik bahwa pimpinan berjarak jauh dan kurang menunjukkan empati secara langsung.

Sementara itu, model pemerintah Jepang mengusung pusat komando terintegrasi dari kantor perdana menteri yang dipadukan dengan siaran langsung instan. Kecepatan tindakan diukur dari kepastian informasi dan kewaspadaan dini. Model ini sangat efektif memberikan kejelasan informasi publik dan mengurangi kepanikan massal, walau menuntut dukungan sistem data serta infrastruktur komunikasi yang sangat tangguh.

Harapan Pengungsi di Antara Prosedur dan Empati

Bagi para pengungsi di NTT yang memegang papan kayu bertuliskan meminta bantuan di pinggir jalan retak, atau warga Bener Meriah Aceh yang mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membangun jembatan darurat, perdebatan teori manajemen krisis di tingkat atas mungkin terasa sekadar wacana.

Masyarakat di lapangan tidak hanya membutuhkan truk-truk beras atau tenda darurat yang dikirim melalui instruksi dinas; mereka juga membutuhkan kepastian moral bahwa pimpinan negeri ini merasakan kepedihan yang sama. Kehadiran seorang Presiden—baik melalui tatap muka langsung di lapangan seperti era SBY, maupun melalui komunikasi publik yang hangat dan langsung seperti standar kepemimpinan Jepang—memiliki kekuatan penyembuhan yang tidak bisa digantikan sekadar oleh barisan kalimat di media sosial.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang mengedepankan efisiensi teknokratis memiliki peluang besar untuk membuktikan bahwa sistem operasional yang dirancangnya mampu mengalirkan bantuan secara presisi dan cepat. Namun, menyatukan ketegasan manajemen teknis dengan sentuhan empati kepemimpinan yang hadir langsung akan menjadi kunci utama dalam memenangkan hati rakyat yang sedang tertimpa musibah.

Sebab pada akhirnya, dalam krisis bencana alam, rakyat tidak hanya menilai seberapa cepat bantuan sampai, tetapi juga seberapa dekat hati pemimpinnya berada di samping mereka.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Jepang NTT Prabowo Subianto
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Viral! Keberanian Dua Bocah Palangka Raya Duel Mulut dan Ungkap Terduga Pembakar Lahan

Aksi Pemotor Piting dan Hajar Pemobil Gara-gara Suara Klakson, Polisi Buru Pelaku

Ilustrasi begal

Teror Begal Celurit Sasar Pengendara di Indramayu, Dua Remaja Berhasil Diciduk Polisi

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos Agustus 2026 Masih Disalurkan, Ada yang Terima hingga Rp2,7 Juta!

Bansos PKH-BPNT Tahap 3 Belum Cair? Cek NIK Sekarang, Bisa Jadi Ini Penyebabnya

14 Pohon di Jalan Pahlawan Bandung Dikuliti, 2 Dipastikan Mati! Motif Pelaku Bikin Heran

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Menembus Angka 75,90: Menguji Rekor IPM Jawa Barat di Tengah Bayang Ketimpangan
  • Inikah Tahun Terparah? 1.487 Titik Api Kepung Kalimantan, Jeritan Warga di Bawah Langit Merah!
  • Game Free Fire
    Banjir Hadiah! Buruan Klaim Kode Redeem FF 19 Agustus 2026 Sebelum Kehabisan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.