Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Sering Bikin Penasaran, Ini Arti Desil 6–10 dan Alasan Tak Jadi Prioritas Bansos

Jumat, 21 Agustus 2026 09:48 WIB

Inikah Tahun Terparah? 1.487 Titik Api Kepung Kalimantan, Jeritan Warga di Bawah Langit Merah!

Jumat, 21 Agustus 2026 09:25 WIB

Bansos BPNT Cair Agustus 2026: Cek NIK KTP Anda, 18 Juta Penerima Siap Terima Bantuan

Jumat, 21 Agustus 2026 06:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Sering Bikin Penasaran, Ini Arti Desil 6–10 dan Alasan Tak Jadi Prioritas Bansos
  • Inikah Tahun Terparah? 1.487 Titik Api Kepung Kalimantan, Jeritan Warga di Bawah Langit Merah!
  • Bansos BPNT Cair Agustus 2026: Cek NIK KTP Anda, 18 Juta Penerima Siap Terima Bantuan
  • NIK KTP Jadi Kunci! Cek BPNT Agustus 2026 Sekarang, Bantuan Rp600 Ribu Menanti
  • 4 Gol dalam 7 Laga! Balsa Sekulic Jadi Mesin Gol Persib Jelang Play-off ACL Two
  • Kapan PKH dan BPNT 2026 Cair? Ini Jadwal Tahap 3 dan Cara Cek Bansos Pakai NIK KTP
  • Klaim Saldo DANA Gratis 21 Agustus 2026: Dapatkan Link DANA Kaget dan Bonus Saldo Langsung Cair
  • Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 21 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Inikah Tahun Terparah? 1.487 Titik Api Kepung Kalimantan, Jeritan Warga di Bawah Langit Merah!

By Aga GustianaJumat, 21 Agustus 2026 09:25 WIB9 Mins Read
Karhutla Kalimantan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Langit Kalimantan Selatan kembali berganti wajah. Udara yang biasanya sejuk di pagi hari kini terasa berat dan mencekik, berganti jelutang abu tipis yang mengendap di balik dedaunan. Cahaya matahari tak lagi berwarna keemasan, melainkan menyusut menjadi bulatan merah pekat di balik dinding asap tebal yang membendung langit Borneo. Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali melanda, memicu alarm bahaya ekologis di salah satu paru-paru dunia.

Pantauan pada laman Google Maps mengonfirmasi kondisi lapangan yang kian gawat. Status ‘Kebakaran Parah’ terdeteksi di banyak titik wilayah Kalimantan, dengan konsentrasi terpadat mengepung provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan pembaruan data dari pemantauan satelit Google, diperkirakan wilayah seluas 572 kilometer persegi telah hangus terbakar. Di tengah kepungan kobaran api dan jarak pandang yang menyusut drastis, tim gabungan terus berjibaku melawan waktu.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa penanganan darurat tidak pernah berhenti di lapangan:

“Sampai saat ini satgas penanganan karhutla, baik udara dan darat, terus menerus memberikan layanan terbaik untuk memadamkan api di beberapa provinsi terdampak karhutla.”

Namun, di balik riuhnya deru helikopter water bombing dan sirine kendaraan taktis pemadam kebakaran, ada bayang-bayang masa lalu yang kembali merayap. Bencana ini bukan sekadar insiden alamiah yang terjadi tiba-tiba. Karhutla hari ini adalah gaung keras dari sebuah episode kelam dalam lembaran sejarah yang telah berulang selama lebih dari empat dekade.

Jejak Luka 1982 dan Hantu Kebakaran Berulang

Mundur ke empat dekade silam, bangsa ini pernah mencatatkan salah satu bencana ekologis terbesar dalam sejarah modern Asia Tenggara. Dikutip dari catatan resmi Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI), bencana kebakaran hutan pertama berskala raksasa di Indonesia meletus di Kalimantan Timur pada kurun waktu 1982–1983. Kala itu, fenomena iklim El Niño menghantam wilayah Nusantara, memicu kemarau ekstrem yang membakar daratan selama hampir satu tahun penuh.

Tetapi iklim hanyalah satu dari sekian variabel. Faktor pendorong utama yang menyulut malapetaka tersebut adalah aktivitas manusia. Kombinasi antara praktik pertanian tradisional ladang berpindah—dengan cara membakar lahan baru untuk kebun tanaman semusim seperti padi, ubi, dan jagung—serta pembalakan liar (illegal logging) masif yang meninggalkan akumulasi limbah kayu kering, menciptakan bahan bakar sempurna di lantai hutan.

Hasilnya mengerikan. Kebakaran pada 1982–1983 menghanguskan lahan seluas 3,2 juta hektare di Kalimantan Timur, yang mana 2,7 juta hektare di antaranya merupakan hutan hujan tropis primer. World Resources Institute (WRI) mencatat kerugian ekonomi akibat insiden tersebut menembus angka fantastis, yakni US$9 miliar.

Tragedi 1982 bukan titik akhir, melainkan awal dari siklus trauma yang berkepanjangan. Sejarah mencatat rentetan kebakaran masif terus berulang pada periode berikutnya:

  • Karhutla 1997–1998: Menghanguskan jutaan hektare lahan, memancarkan polusi asap hingga ke enam negara tetangga, dan menelan kerugian puluhan miliar dolar.
  • Karhutla 2006: Kembali melumpuhkan transportasi udara di Sumatra dan Kalimantan akibat kabut asap pekat.
  • Karhutla 2015: Salah satu yang terparah dalam sejarah modern, membakar 2,6 juta hektare lahan dan melumpuhkan aktivitas sosial-ekonomi di puluhan provinsi.
  • Karhutla 2019: Menghanguskan lebih dari 800 ribu hektare lahan, yang memicu krisis diplomasi udara di kawasan Asia Tenggara.

Rangkaian sejarah ini menegaskan satu kenyataan pahit: karhutla di Indonesia bukanlah bencana alam murni, melainkan krisis ekologis buatan manusia yang berulang karena pola pengelolaan lahan yang fundamentalnya belum bergeser secara radikal.

Efisiensi Semu dan Bom Waktu Lahan Gambut

Mengapa kobaran api selalu menemukan jalannya untuk kembali? Jawabannya berada pada persimpangan antara keserakahan ekonomi dan pengrusakan bentang alam.

Dalam sebuah studi yang disusun oleh Annisa Musrifatun Nur’Aini dan Athaya Putri Tatia Ananta dari Fakultas Kehutanan UGM (2025) yang dimuat dalam portal literasi sejarah bencana BNPB, terungkap fakta bahwa mayoritas karhutla di Indonesia dipicu oleh aktivitas antropogenik. Metode penyiapan lahan dengan cara membakar (slash-and-burn) masih marak dipraktikkan karena dipandang sebagai opsi paling murah, cepat, dan efisien, baik oleh skala korporasi maupun sebagian petani kecil.

Namun, efisiensi ini adalah sebuah kebohongan finansial. Penghematan biaya pembukaan lahan dalam skala lokal dibayar mahal dengan kehancuran sistemik yang menggerogoti perekonomian nasional dan kesehatan publik.

Kerentanan ini kian terakselerasi sewaktu pembukaan lahan menyasar ekosistem lahan gambut. Agar gambut dapat ditanami komoditas komersial, dibuatlah saluran-saluran air atau kanalisasi buatan untuk mengeringkan lahan. Ketika air dikeluarkan, lapisan gambut yang tadinya berfungsi seperti spons basah raksasa berubah menjadi tumpukan bahan bakar organik yang sangat reaktif.

Begitu api memercik di musim kemarau, terjadi fenomena paling berbahaya dalam dunia pemadam kebakaran: subsurface fire atau kebakaran di bawah permukaan tanah. Api tidak lagi tampak membumbung tinggi di atas pohon, melainkan merayap dan membara di dalam lapisan tanah gambut hingga kedalaman beberapa meter. Jenis kebakaran ini menyebarkan asap beracun tanpa henti, bertahan dalam jangka waktu mingguan hingga bulanan, dan hampir mustahil dipadamkan hanya dengan menyiramkan air di permukaan tanah.

Kondisi tersebut diperparah oleh hilangnya tutupan vegetasi akibat pembalakan liar dan konversi hutan masif. Tanpa tajuk pohon yang rimbun, mikroklimat hutan berubah drastis; udara lokal menjadi jauh lebih panas, tanah mengering, dan hutan kehilangan daya tahan alaminya terhadap api. Ketika fenomena iklim global seperti El Niño datang memperpanjang masa kemarau, seluruh elemen bencana telah siap memicu ledakan besar.

Suara Publik: Jeritan dari Balik Masker dan Media Sosial

Kepungan asap pekat dan udara panas mencekik ini tak pelak memantik gelombang kesedihan serta kekhawatiran di ruang digital. Kolom komentar di berbagai platform media sosial mendadak dipenuhi jeritan warga lokal Kalimantan yang berjuang bertahan hidup di tengah krisis, bersanding dengan belasungkawa dari masyarakat luar pulau.

Seorang warga lokal menggambarkan betapa menyiksanya cuaca ekstrem yang melanda wilayahnya dalam beberapa pekan terakhir:

“Doakan kami di kalimantan guys sudah hampir 1 bulan ga ada hujan khususnya di samarinda, cuacanya panas banget tiap hari,” ujar netizen.

Unggahan video dan foto yang memperlihatkan pekatnya kabut asap hingga menutupi jarak pandang jalan raya membuat masyarakat dari berbagai daerah ikut merasakan kepedihan yang sama. Banyak yang mengaku merinding melihat kondisi Borneo saat ini:

“Ya Allah nonton aja aku ikut sesak napas, gimana kalo disana. Semoga baik2 saja semuanya. Semoga lekas membaik, semoga segera turun hujan. Aamiin,” ujar netizen.

Harapan akan datangnya hujan menjadi satu-satunya doa yang paling sering dipanjatkan secara massal, sewaktu armada pemadam darat dan udara terus kewalahan memadamkan api yang membara di tanah gambut:

“ya Allah segera turunkanlah Hujan di daerah Kalimantan agar Hutannya segera Padam ya Allah ya Tuhan kami pemilik seluruh alam semesta,” ujar netizen.

Mengarungi Racun: Saat Asap Menutup Sekolah di Negeri Jiran

Dampak dari runtuhnya pertahanan ekologis ini memang tidak pernah berhenti di dalam batas administratif provinsi. Asap karhutla adalah monster tanpa paspor yang melayang membawa derita kesehatan dan kerugian multidimensi.

Di sektor kesehatan, paparan partikulat halus dan gas beracun hasil pembakaran gambut langsung menyerang organ pernapasan warga. Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) melonjak drastis di kawasan pemukiman sekitar titik api. Kelompok rentan seperti bayi, balita, lansia, serta penderita asma menjadi korban paling pertama yang bertarung melawan sesak di dada. Sejarah meratapi karhutla 2015 saja yang memakan puluhan korban jiwa dan menyebabkan ratusan ribu masyarakat terjangkit ISPA; sebuah skenario kelam yang kini mengancam untuk terulang kembali.

Dampak ini pun merembet hingga ke negara tetangga, menegaskan status karhutla sebagai isu lingkungan lintas batas (transboundary haze). Pekatnya kabut asap dari Kalimantan kini merayap menyeberangi Laut Natuna dan menghantam wilayah Malaysia.

Melansir pemberitahuan Bernama, Kamis (20/8/2026), Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Sarawak (JPBN) mengonfirmasi bahwa sedikitnya 108 sekolah di wilayah Serian, Sarawak, Malaysia, terpaksa ditutup sementara. Penutupan massal ini diambil setelah Indeks Pencemaran Udara (API) di kawasan tersebut melompati ambang batas aman polusi.

Sebagai langkah darurat, sistem Pembelajaran dan Pengajaran Berbasis Rumah (PdPR) langsung diaktifkan agar anak-anak tidak terpapar racun udara di luar ruangan. Perwakilan JPBN Sarawak menjelaskan aturan ketat penanganan krisis ini dalam pernyataan resminya:

“Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional, yang berada di bawah yurisdiksi direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian Sarawak, sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup begitu API mencapai 200.”

Kondisi kualitas udara di Sarawak terpantau terus memburuk sejak awal Agustus. Pada pembacaan API tengah hari, wilayah Tebedu mencatatkan angka 212 dan Serian berada di angka 202—keduanya masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Sementara itu, 11 wilayah lain seperti Kuching, Samarahan, Miri, hingga Bintulu bertahan di kategori tidak sehat. Otoritas setempat bahkan mengeluarkan imbauan keras agar kelompok berisiko tinggi mengurung diri di dalam rumah demi menghindari pemicu serangan jantung dan kegagalan pernapasan.

Menembus Titik Panas Kalteng dan Upaya Memutus Rantai

Di dalam negeri, kewaspadaan nasional berada pada titik tertinggi. Data pemantauan Satelit NOAA-20 hingga pertengahan Agustus 2026 menunjukkan akumulasi sebaran titik panas (hotspot) di Pulau Kalimantan telah menyentuh angka 1.487 titik.

Meskipun Kalimantan Selatan menarik perhatian publik lewat liputan visual asap pekat di media sosial dan Google Maps, data satelit membocorkan bahwa konsentrasi hotspot tertinggi justru bergejolak di provinsi tetangga, Kalimantan Tengah, dengan total 767 titik panas. Kalimantan Barat menyusul di urutan kedua dengan 560 titik, sementara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing mencatatkan 74 titik panas.

Angka-angka ini adalah alarm keras bagi Satgas Kebencanaan. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengimbau agar seluruh elemen pemerintah daerah tak lagi menganggap remeh potensi eskalasi bencana ini di pertengahan musim kemarau:

“Jumlah tersebut tersebar dengan konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik, disusul Kalimantan Barat 560 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terpantau 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara sebanyak 3 titik.”

Langkah-langkah taktis terus dilakukan. Koordinasi lintas sektor, pemetaan wilayah rawan, hingga penggerakan armada water bombing dikerahkan untuk memadamkan kobaran api sebelum membesar menjadi bencana yang tak terkendali. Masyarakat juga terus diminta untuk menghentikan sama sekali tradisi pembakaran lahan di area rawan dan segera melapor jika melihat munculnya asap dari permukaan tanah.

Namun, sebagaimana ditegaskan oleh para peneliti Kehutanan UGM dalam studinya, penanganan karhutla tidak boleh selamanya terjebak dalam paradigma pemadam kebakaran (firefighting mindset). Memadamkan api ketika hutan sudah terlanjur terbakar adalah strategi reaktif yang memakan biaya amat mahal dan kerap kali terlambat.

Solusi sejati Karhutla berada pada perbaikan aspek sosial-ekonomi masyarakat dan penataan tata kelola industri berbasis lahan. Penguatan program Perhutanan Sosial, fasilitasi teknologi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) bagi petani kecil, pemulihan kelembapan ekosistem gambut lewat rewetting (pembasahan kembali), serta penegakan hukum tanpa kompromi terhadap korporasi nakal adalah kunci mutlak untuk memutus rantai bencana ini secara permanen.

Empat puluh tahun telah berlalu sejak bara api pertama melahap Kalimantan Timur pada 1982. Pelajaran berharga dari sejarah panjang bencana karhutla sudah seharusnya diintegrasikan ke dalam setiap kebijakan pembangunan nasional. Kita tidak boleh membiarkan generasi mendatang tumbuh di bawah bayang-bayang langit merah beracun, menghirup asap sisa keserakahan, dan terus mengulang tragedi ekologis yang sama setiap siklus kemarau tiba.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

ISPA Karhutla Kalimantan Kebakaran Hutan Malaysia
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

NIK KTP Jadi Kunci! Cek BPNT Agustus 2026 Sekarang, Bantuan Rp600 Ribu Menanti

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Kapan PKH dan BPNT 2026 Cair? Ini Jadwal Tahap 3 dan Cara Cek Bansos Pakai NIK KTP

Malaysia Kena Imbas Karhutla di Kalimantan, 108 Sekolah Tutup Sementara

Ilustrasi virus HIV/AIDS

Kasus HIV/AIDS di Kuningan Naik Tiap Tahun: Tembus 1.354 Penderita, Merata di 32 Kecamatan

BPNT Agustus 2026 Cair Bertahap! Cek Penerima Bansos Pakai NIK KTP, 18,25 Juta KPM Terdata

Duka Gempa NTT, Korban Meninggal Bertambah Jadi 75 Orang, Pengungsi Nyaris 93 Ribu

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Auto Resign Massal? Rahasia Gaji Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg yang Bikin Heboh Indonesia!
  • Mengenal Susanah, Ibu Pengupas Bawang Asal Bogor yang Disebut Prabowo Diupah Rp700 Ribu per Kg
  • Menembus Angka 75,90: Menguji Rekor IPM Jawa Barat di Tengah Bayang Ketimpangan
  • Pidato Presiden Sebut Upah Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg Viral, Begini Kata Istana
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.