bukamata.id – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik setelah episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam berakhir pada Minggu (6/9/2026).
Setelah episode erupsi tersebut berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali memperlihatkan karakter letusan Strombolian. Badan Geologi mencatat tiga kali gempa erupsi selama periode pengamatan 6-7 September 2026.
Lantas, apa itu letusan Strombolian dan seberapa besar bahayanya bagi masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau?
Apa Itu Letusan Strombolian?
Letusan Strombolian merupakan salah satu tipe erupsi gunung api yang ditandai dengan letusan secara berselang serta lontaran material vulkanik dari kawah.
Nama Strombolian berasal dari Gunung Stromboli di Italia, yang dikenal memiliki karakter aktivitas vulkanik serupa.
Pada tipe letusan ini, pelepasan gas dari magma dapat memicu ledakan yang kemudian melontarkan material pijar ke udara.
Museum Gunungapi Merapi menjelaskan, letusan Strombolian umumnya memiliki energi relatif rendah dibandingkan beberapa tipe erupsi lainnya.
Meski demikian, bukan berarti letusan Strombolian sepenuhnya aman. Material pijar yang terlontar dari kawah tetap dapat membahayakan orang yang berada terlalu dekat dengan pusat aktivitas gunung api.
Ciri-Ciri Letusan Strombolian
Secara umum, letusan Strombolian memiliki sejumlah karakteristik yang dapat dikenali, antara lain:
- Letusan terjadi secara berselang atau sporadis.
- Menghasilkan lontaran material pijar dari kawah.
- Material yang terlontar dapat berupa bom lava dan lapili.
- Letusan dipengaruhi oleh pelepasan gas dari magma.
- Aktivitas letusan dapat berlangsung berulang dalam periode tertentu.
- Material yang keluar dari kawah masih dalam kondisi sangat panas sehingga dapat terlihat berpijar.
- Setelah mendingin, material vulkanik akan berubah menjadi lebih gelap.
Karakter tersebut membuat letusan Strombolian tetap perlu diwaspadai, terutama apabila terjadi lontaran material dalam radius yang dekat dengan kawah.
Letusan Strombolian di Gunung Anak Krakatau
Aktivitas dengan karakter Strombolian bukan kali pertama terjadi di Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan laporan Badan Geologi, seri letusan tipe Strombolian di Gunung Anak Krakatau telah berlangsung sejak 2 Juli 2026.
Aktivitas tersebut menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik. Memasuki awal September 2026, aktivitas Gunung Anak Krakatau kemudian berkembang menjadi episode erupsi menerus.
Episode erupsi tersebut berlangsung sekitar 25 jam sebelum berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Setelah erupsi menerus berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan karakteristik Strombolian.
Dalam periode pengamatan 6-7 September 2026, Badan Geologi mencatat tiga kali gempa erupsi.
Seberapa Bahaya Letusan Strombolian?
Istilah Strombolian tidak berarti aktivitas Gunung Anak Krakatau sepenuhnya aman.
Meskipun secara umum memiliki energi relatif rendah, letusan jenis ini tetap dapat menghasilkan material vulkanik yang berbahaya, khususnya bagi masyarakat atau wisatawan yang berada terlalu dekat dengan kawah.
Pada kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini, Badan Geologi mengidentifikasi sejumlah potensi bahaya, di antaranya:
- Lontaran batu pijar
- Hujan abu vulkanik lebat
- Aliran lava apabila kembali terjadi erupsi menerus
Karena itu, masyarakat dan wisatawan tetap diminta menjauhi kawasan yang berpotensi terdampak aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Apakah Letusan Strombolian Bisa Menyebabkan Tsunami?
Aktivitas Strombolian tidak otomatis berarti akan terjadi tsunami.
Badan Geologi juga mengimbau masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung untuk tetap tenang serta tidak mempercayai informasi yang menyebut aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini akan menyebabkan tsunami.
Masyarakat diminta mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui informasi resmi pemerintah dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Dengan memahami karakteristik letusan Strombolian, masyarakat dapat lebih mengenali aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau sekaligus memahami potensi bahaya yang menyertainya.
Setiap perubahan aktivitas gunung api tetap perlu disikapi dengan kewaspadaan. Masyarakat sebaiknya mengikuti rekomendasi dan informasi resmi dari lembaga berwenang karena kondisi aktivitas vulkanik dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan hasil pemantauan di lapangan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









