bukamata.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kualitas udara menyusul paparan abu vulkanik yang terjadi di wilayah Bandung Raya.
Kepala DLH Kota Bandung, Darto, mengatakan kualitas udara Kota Bandung pada Senin (7/9/2026) berada pada kategori sedang. Namun, kondisi tersebut sempat berada di atas angka 100 pada pagi hari.
“Per jam sekarang kualitasnya sedang. Tadi pagi itu sedang menjelang buruk. Sekarang sedang dengan parameter 86, di mana PM2,5-nya itu 28 mikrogram per meter kubik,” ujar Darto, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, kondisi kualitas udara dengan parameter tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi kelompok sensitif seperti masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan dan asma.
Kelompok Rentan Diminta Batasi Aktivitas di Luar
Darto menjelaskan, masyarakat yang masuk kelompok sensitif disarankan menghindari aktivitas di luar ruangan secara berlebihan. Sementara masyarakat umum tetap dianjurkan menggunakan masker sebagai langkah pencegahan.
“Untuk kelompok sensitif, hindari aktivitas di luar yang berlebihan. Kalau kelompok normal, ya batasilah, pakai masker lebih aman,” katanya.
Ia menyebut masker KN95 maupun masker medis dapat digunakan oleh kelompok sensitif untuk membantu mengurangi paparan partikel di udara.
Darto mengatakan, semakin tinggi angka kualitas udara, semakin banyak kandungan partikel halus PM2,5 yang berada di udara.
“Dari pagi malah sudah di atas 100. Di atas 100 itu artinya kandungan partikelnya semakin banyak. Semakin tinggi angkanya, berarti kandungan partikel mikron yang kita sebut PM2,5 itu semakin banyak,” jelasnya.
Paparan partikel tersebut, lanjut Darto, dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama pada kelompok rentan.
Sebaran Abu Dipengaruhi Arah Angin
Terkait penanganan kondisi udara, Darto mengatakan DLH menghadapi tantangan karena partikel abu dapat berterbangan dalam area yang luas.
Berdasarkan pemantauan, arah angin di Kota Bandung saat itu berasal dari selatan dan sesekali dari barat. Pergerakan angin dari barat menuju timur menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai karena sebaran abu vulkanik berasal dari wilayah barat Kota Bandung.
“Bila arah angin dari barat ke arah timur, itu yang perlu kita waspadai karena titik sebaran abu vulkanik itu dari arah barat, dari wilayah barat Kota Bandung,” ungkapnya.
Pemantauan kualitas udara dilakukan menggunakan AQI Air dan Air Quality Monitoring System (AQMS).
Darto juga mengingatkan masyarakat untuk tetap memperhatikan perkembangan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, khususnya bagi kelompok rentan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









