Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
penyaluran bansos PKH dan BPNT 2025 di kantor pos

Data Desil Bansos Tak Sesuai? Begini Cara Mudah Mengajukan Perbaikan ke Kemensos

Kamis, 3 September 2026 10:11 WIB

Bursa Transfer Belum Ditutup, Igor Tolic Ungkap Sikap Persib

Kamis, 3 September 2026 10:09 WIB

Dijual Aja Liganya! Deretan Blunder Bos I.League Ferry Paulus Yang Bikin Netizen Puncak Emosi

Kamis, 3 September 2026 08:51 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Data Desil Bansos Tak Sesuai? Begini Cara Mudah Mengajukan Perbaikan ke Kemensos
  • Bursa Transfer Belum Ditutup, Igor Tolic Ungkap Sikap Persib
  • Dijual Aja Liganya! Deretan Blunder Bos I.League Ferry Paulus Yang Bikin Netizen Puncak Emosi
  • Tak Perlu ke Dinsos! Begini Cara Cek Bansos September 2026 dan Desil DTSEN Lewat HP
  • 5 Hotel Murah di Braga Bandung, Mulai Rp95 Ribuan Cocok untuk Staycation Hemat
  • PKH September 2026 Belum Cair? Cek Status Bansos Lewat HP dengan Cara Ini
  • Bansos September 2026 Cair? PKH dan BPNT Masuk Tahap 3, Cek Jadwalnya
  • Sherina Munaf Turun Langsung Padamkan Karhutla Kalteng, Cerita Kabut Asap Bikin Sesak
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 3 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Olahraga

Dijual Aja Liganya! Deretan Blunder Bos I.League Ferry Paulus Yang Bikin Netizen Puncak Emosi

By Aga GustianaKamis, 3 September 2026 08:51 WIB9 Mins Read
Direktur Utama I.League, Ferry Paulus. Foto: Ist,
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di tengah inguk-binguk panggung peluncuran kompetisi Super League 2026/2027 di Studio 8 SCTV Tower, Jakarta, Selasa (1/9/2026), sebuah kilatan lampu kilat kamera dan riuh tepuk tangan mendadak berubah menjadi kegaduhan nasional. Sorotan utama hari itu tidak semata jatuh pada kilau piala atau sponsor utama yang kembali merapat, melainkan pada sesosok pria berpenampilan klimis yang berdiri anggun di atas panggung: Direktur Utama I League, Ferry Paulus.

Dengan senyum mengembang, pria yang akrab disapa FP itu menyapa jajaran juru taktik yang hadir mengawali musim baru. “Banyak sekali nih para pelatih yang hadir. Ada Pieter Huistra, ada pelatih saya Shin Tae-yong. Ya, boleh tepuk tangan untuk para pelatih kita semua ini,” ucap Ferry santai di hadapan ribuan pasang mata dan deretan kamera.

Di atas kertas, kalimat itu mungkin terdengar seperti gurauan hangat atau bentuk keakraban antar-tokoh sepak bola. Namun, di jagat sepak bola Indonesia yang serba sensitif dan sarat kecurigaan, dua kata singkat—“pelatih saya”—yang dialamatkan kepada Shin Tae-yong (STY) bagaikan menyulut api di dalam lumbung jerami.

Latar belakangnya bukan rahasia lagi: Shin Tae-yong kini resmi menahkodai Persija Jakarta, sementara Ferry Paulus adalah mantan Direktur Olahraga, Presiden, hingga Ketua Umum Macan Kemayoran yang berlayar ke kursi pucuk pimpinan operator liga. Sejumlah publik pun langsung mengaitkan ucapan tersebut dengan Persija karena status STY yang kini mengarsiteki tim asal Ibu Kota tersebut. Sontak saja, ruang digital bergemuruh. Persepsi publik langsung membubung tinggi menyoal satu hal fundamental yang wajib dimiliki seorang pimpinan kompetisi: netralitas.

Meski demikian, pernyataan tersebut sendiri sebenarnya tidak secara otomatis membuktikan adanya keberpihakan atau preferensi khusus terhadap klub tertentu di lapangan.

Media Sosial Memanas: Suara Suporter vs Lemparan Kecaman Netizen

Polemik yang bermula dari panggung seremoni itu pun dengan cepat menggelinding panas ke jagat media sosial. Lapak Instagram pribadi milik Ferry Paulus seketika dibanjiri dan diramaikan oleh kunjungan warganet. Berbagai komentar bernada kritik pedas hingga kecaman menjejali unggahan terakhirnya, mempertanyakan komitmen dan netralitas Ferry dalam memimpin operator kompetisi.

Rasa tidak puas warganet tumpah ruah menyoroti ketidakmampuan sang pimpinan operator dalam menjaga jarak etis dari mantan klubnya.

“Enggak ada netralitas sama sekali, malah menyalahkan tim yang menaikkan point di Asia,” tulis akun @pandu_prakoso15 di kolom komentar Instagram Ferry Paulus, menumpahkan kekecewaannya.

“Kacau kacau,” timpal akun @fazarazmi98 singkat namun menohok.

Tak berhenti di situ, sebagian warganet lain memilih untuk bernostalgia secara kritis dengan mengungkit kembali janji manis Ferry Paulus tatkala pertama kali didapuk sebagai pucuk pimpinan operator liga.

“Woy, mana janji lu yang cuman jabat 3 bulan,” cecar akun @mmrian_ merujuk pada ucapan masa lalu Ferry yang menyebut hanya ingin bertahan beberapa bulan saja di kursi Dirut.

Baca Juga:  Maxwell Souza Resmi Tinggalkan Persija, Akankah Sang Striker Merapat ke Persib?

Kendati demikian, di tengah riuk-pikuk kecaman netizen di dunia maya, tak sedikit pula suara yang mencoba menanggapi riak ini secara lebih tenang dan dingin. Seorang Jakmania asal Tanah Abang, Rizki, menilai bahwa ucapan Ferry Paulus sejatinya dapat ditafsirkan ke dalam beberapa sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, frasa “pelatih saya” tidak melulu soal nepotisme klub, melainkan bisa saja merupakan bentuk pujian setinggi langit kepada STY, atau bahkan sebuah sindiran tajam yang dialamatkan kepada PSSI terkait keputusan pemberhentian STY dari kursi pelatih Timnas Indonesia sebelumnya.

“Cuman jadi banyak yang ngegoreng aja,” ujar Rizki santai mengomentari hiruk-pikuk yang terjadi.

Bagaimanapun ragam sudut pandangnya, dinamika komentar netizen ini menegaskan satu hal: setiap jengkal kata dari pimpinan kompetisi akan selalu diuji oleh publik melalui kacamata etika dan profesionalisme.

Rejak Langkah dan Profil Lengkap Ferry Paulus: Dari Korporat hingga Pusaran Sepak Bola Nasional

Untuk memahami mengapa kalimat “pelatih saya” memicu resonansi yang begitu luas, publik perlu memutar balik pita sejarah karier Ferry Paulus yang sangat panjang dan penuh dinamika di kancah balap sepak bola nasional.

Jejak Awal dan Pengalaman Organisasi

Lahir di Jakarta pada 22 Mei 1964, perjalanan profesional Ferry Paulus sejatinya berakar dari dunia korporasi. Sebelum terjun sepenuhnya ke panggung si kulit bundar, ia pernah menjabat sebagai Manajer di PT Astra Motor Sales pada kurun waktu 1983 hingga 1992.

Kiprahnya di dunia sepak bola dimulai dengan memiliki klub Villa 2000 yang berdomisili di Tangerang Selatan. Dari pengelolaan klub akar rumput tersebut, karier manajerialnya melesat ke level nasional. Ferry mendapat kepercayaan menjadi Manajer Timnas PSSI U-13 saat berlaga di turnamen junior Kamboja pada tahun 2004, lalu berlanjut mengawal Timnas U-17 pada periode 2005–2006.

Setelah sempat mengabdi sebagai Wakil Ketua Persatuan Sepak Bola Jakarta Selatan (PSJS), langkah politik sepak bolanya kian mantap saat terpilih sebagai Ketua Pengurus Daerah (Pengda) PSSI DKI Jakarta periode 2006–2011. Dalam musyawarah daerah yang digelar di Hotel Cemara pada 3 September 2006, Ferry sukses mengungguli dua pesaingnya, Gatot Haryo Sutedjo dan Endi Priyatna. Keberhasilan di level regional ini membukakan jalan baginya untuk menduduki posisi strategis sebagai anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI periode 2007–2011.

Era Persija: Dinamika Prestasi dan Pasang Surut Finansial

Puncak popularitas sekaligus keterikatan emosional Ferry Paulus terpeta kuat saat ia menahkodai Persija Jakarta. Usai purna tugas dari Exco PSSI, Ferry terpilih menjadi Ketua Umum Persija periode 2011–2015 setelah meraih 14 suara dalam Musyawarah Daerah (Musda) Persija, menyisihkan Toni Tobias dan Benny Erwin.

Namun, eranya di tampuk pimpinan klub Ibu Kota dipenuhi catatan pelik. Dari sisi prestasi teknis, Macan Kemayoran belum berhasil merengkuh trofi juara Liga Indonesia. Secara beruntun, Persija finis di peringkat ke-5 (2011/2012), merosot ke peringkat ke-11 (2012/2013), kembali ke posisi ke-5 (2013/2014), dan tertahan di urutan ke-11 pada edisi 2015.

Baca Juga:  STY Ajak Timnas Indonesia Amputasi Dukung Garuda di Laga Lawan Australia

Minimnya gelar tersebut diperparah oleh badai krisis finansial yang mencekik klub. Pada tahun 2015, Persija sempat terlilit utang menggunung hingga menyentuh angka Rp76 miliar.

Kendati demikian, peran Ferry di tubuh Persija tak pernah benar-benar padam. Setelah menduduki posisi Presiden Persija, ia mengalami reposisi jabatan menjadi Direktur Olahraga PT Persija Jaya Jakarta pada 17 Januari 2020—sementara posisi Presiden Klub diserahkan kepada Mohamad Prapanca.

Transisi Menuju Puncak Operator Liga (PT LIB)

Keterlibatan Ferry di jajaran pengelola kompetisi nasional sebenarnya telah dimulai sejak awal tahun 2020 ketika ia ditunjuk sebagai salah satu dari enam Komisaris PT LIB bersama Hasani Abdulgani, Munafri Arifuddin, Endri Erawan, Sonhadji, dan Hakim Putratama.

Titik balik kariernya terjadi pada 15 November 2022. Melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa yang digelar di Hotel The Sultan, Jakarta, Ferry Paulus resmi terpilih sebagai Direktur Utama PT LIB menggantikan Akhmad Hadian Lukita pasca-Tragedi Kanjuruhan. Dalam pemilihan tersebut, ia mengungguli kandidat lain yaitu Hasani Abdulgani.

Menyadari potensi konflik kepentingan (conflict of interest), Ferry melangkah mundur dari jabatannya sebagai Direktur Olahraga Persija per 15 November 2022. “Jabatan ini adalah jabatan yang berat, bahwa sepak bola kita baru saja terjadi tragedi besar di Kanjuruhan yang menelan banyak korban jiwa,” ujar Ferry kala itu saat menyadari beban berat yang dipikulnya.

Deretan Blunder dan Kontroversi Ferry Paulus

Meskipun memiliki rekam jejak panjang, kepemimpinan Ferry Paulus di operator liga dan dunia sepak bola tak pernah lepas dari terpaan kritik. Poin-poin berikut mencatat deretan kebijakan, komitmen, dan komunikasi publiknya yang dianggap sebagai blunder oleh publik:

1. Meragukan Ketegasan Janji “Hanya 2-3 Bulan”

Saat pertama kali ditunjuk sebagai Dirut PT LIB pada RUPS LB November 2022, Ferry dengan tegas menyampaikan komitmen keterbatasannya. Ia mengaku hanya bersedia memangku jabatan tersebut selama dua hingga tiga bulan saja lantaran memiliki kesibukan bisnis yang padat di luar sepak bola. Namun, janji tinggal janji. Keberadaannya di pucuk pimpinan operator liga terus berlanjut hingga bertahun-tahun kemudian, yang oleh publik—termasuk netizen di media sosial—kerap dijadikan bukti ketidakkonsistenan ucapan sang pimpinan.

2. Menyalahkan Klub atas Anjloknya Ranking Kompetisi Asia

Dalam sebuah evaluasi kompetisi, Ferry Paulus sempat melemparkan kritik tajam yang mengambinghitamkan klub-klub peserta kompetisi domestik—seperti Persib Bandung dan Dewa United—atas penurunan koefisien kompetisi Indonesia di tingkat Asia (AFC) dari peringkat 15 ke posisi 20. Pernyataan ini dinilai publik sebagai bentuk cuci tangan. Pengamat menilai operator liga mengabaikan evaluasi mendasar pada diri sendiri, khususnya penataan jadwal kompetisi domestik yang amat padat dan tak ramah bagi klub yang bertanding di kasta internasional.

Baca Juga:  Kalah Telak dari Iran, STY: Ada Kesalahan di Lini Belakang

3. Narasi “Liga Nomor Satu ASEAN” yang Memicu Perdebatan

Ferry juga sempat melontarkan klaim bahwa kompetisi sepak bola Indonesia telah menjelma menjadi yang nomor satu di Asia Tenggara (ASEAN). Ketika diklarifikasi, pernyataan itu dikaitkan dengan aspek komersial dan nilai ekonomi bisnis liga. Namun, penyampaian narasi tanpa penjelasan konteks yang transparan di awal memicu kemarahan publik yang memegang data resmi AFC—di mana secara kualitas teknis dan koefisien riil, liga Indonesia masih tertinggal dari Thailand, Malaysia, hingga Vietnam.

4. Polemik Regulasi Larangan Suporter Tandang (Away Fans)

Kebijakan melarang kehadiran suporter tim tamu yang diberlakukan pasca-Tragedi Kanjuruhan terus memicu polemik memanjang. Saat didesak oleh berbagai elemen suporter terkait kepastian dan keterbukaan regulasi, komunikasi dari pimpinan operator dianggap membingungkan. Klaim bahwa aturan tersebut merupakan arahan kaku dari FIFA dipertanyakan publik setelah tidak ada dokumen resmi berbentuk surat keputusan tertulis yang ditunjukkan, melainkan sebatas panduan umum.

5. Bayang-Bayang Conflict of Interest yang Tak Pernah Pudar

Sebagai mantan Ketua Umum, Presiden, dan Direktur Olahraga Persija, setiap kebijakan PT LIB/I League yang dinilai menguntungkan Macan Kemayoran atau merugikan tim rival selalu dikaitkan dengan sosok Ferry. Keseleo lidah dengan melabeli Shin Tae-yong—yang kini melatih Persija—sebagai “pelatih saya” makin mempertebal stigma negatif publik bahwa sang Dirut belum mampu menanggalkan baju kedaerahannya dalam memimpin industri sepak bola yang menuntut netralitas mutlak.

Tantangan Menjaga Mahkota Integritas Kompetisi

Sepak bola bukan sekadar urusan 22 pemain yang mengejar bola di atas rumput hijau. Sepak bola adalah industri kepercayaan (trust industry). Sponsor bersedia mengucurkan dana miliaran rupiah, penonton bersedia membeli tiket dan berlangganan siaran, dan klub bertarung habis-habisan karena mereka percaya bahwa kompetisi berjalan di atas pijakan yang adil (fair play).

Ketika figur puncak pengelola kompetisi terus-menerus terjebak dalam slip komunikasi publik, retorika janji yang tak ditepati, serta kebijakan kontroversial, yang dirugikan bukan hanya reputasi sang pejabat semata, melainkan marwah kompetisi itu sendiri.

Kini, di tengah bergulirnya musim baru Super League 2026/2027, tugas Ferry Paulus bukan sekadar memastikan roda jadwal pertandingan berputar lancar atau nilai komersial liga melonjak tinggi. Tugas terberatnya adalah memulihkan persepsi dan membuktikan dengan tindakan nyata bahwa ia adalah milik seluruh klub kontestan—bukan hanya milik satu pelatih, atau milik satu klub kesayangan di masa lalu. Sebab di mata publik sepak bola Indonesia, kebenaran di lapangan sepak bola tidak hanya dibuktikan oleh skor akhir, tetapi juga oleh bersihnya niat para pengelolanya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Ferry Paulus I League Persija Jakarta PT LIB Shin Tae yong
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Lampu Hijau dari Kepolisian, Super Big Match Persija vs Persib Resmi Manggung di Jakarta

Ranking Liga Indonesia Terjun ke Posisi 20, Persib dan Dewa United Jadi Penyebabnya?

Leo-Daniel Makin Ganas! Ganda Nomor 1 Dunia Jadi Korban di China Masters 2026

Ditahan Malaysia 0-0, Timnas U-20 Terancam? Ini Skenario Garuda Muda Lolos Piala Asia

Ikuti Jejak Ronaldo, Messi Resmi Pensiun dari Timnas Argentina! Sinyal Berakhirnya Era GOAT!

Pesan Haru Presiden Javier Milei Lepas Pensiunnya Lionel Messi dari Timnas Argentina

Terpopuler
  • Benarkah Azab? Di Balik Narasi Bencana Nepal dan Isu Perusakan Masjid yang Viral
  • PPIH 2027 Resmi Dibuka! Cek Syarat, Formasi, Jadwal CAT dan Cara Daftarnya
  • Indramayu REANG Bergerak Cepat: Lumbung Pangan, Sekolah Rakyat, dan 6 Kawasan Industri Siap Geliat
  • Terbongkar Sosok Melva Pardede! Sebut Ojol Dikhianati Botok Pati CS, Ternyata Cuma Driver Jadi-jadian?
  • Game Free Fire
    Klaim Senjata & Emote Langka Gratis! Kode Redeem FF Terbaru Sabtu 29 Agustus 2026, Cek Cara Klaimnya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.