Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Klok dan Thom Haye Dicadangkan! Ini Line Up Mengejutkan Persib vs Garudayaksa

Minggu, 25 Oktober 2026 18:32 WIB
bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

7 Langkah Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu, Cukup dari HP

Minggu, 25 Oktober 2026 17:30 WIB

Lawan Main Seperti Perang! Dedi Kusnandar Ungkap Beratnya Jadi Persib

Minggu, 25 Oktober 2026 16:05 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Klok dan Thom Haye Dicadangkan! Ini Line Up Mengejutkan Persib vs Garudayaksa
  • 7 Langkah Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu, Cukup dari HP
  • Lawan Main Seperti Perang! Dedi Kusnandar Ungkap Beratnya Jadi Persib
  • Petang Berdarah di Pasar Induk Caringin! Polisi Buru 30 Penyerang
  • Bukan Cuma Modal Tampan! Alasan Gede Ais Bikin Geger Mister International 2026 Hingga Tembus 3 Besar
  • Senjata Persib Kembali! Beckham dan Ragnar Siap Gempur Garudayaksa
  • Bukan Cuma Nostalgia, 5 Tempat Makan Jadul Bandung Ini Rasanya Tak Pernah Berubah
  • Cuma Gara-gara Dikira Melirik Pacar, Remaja di Garut Todongkan Golok!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 25 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Sampai Kapan Hujan Abu Anak Krakatau Melanda Jabar? Ini Penjelasan Ilmiah Ahli Kebencanaan

By Aga GustianaSenin, 7 September 2026 14:53 WIB3 Mins Read
Erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Semburan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung hingga Senin (7/9/2026) kian mencemaskan publik di wilayah Jawa Barat. Setelah melewati fase letusan tanpa henti selama 25 jam, aktivitas gunung api di Selat Sunda tersebut kini didominasi oleh erupsi strombolian.

Imbas material halus ini telah merambah hingga radius ratusan kilometer dari pusat kawah. Selain menutupi bangunan dan kendaraan warga, situasi ini memaksa dinas pendidikan mengalihkan kegiatan belajar mengajar menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Edukator kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengutarakan bahwa jangkauan paparan debu sangat terikat pada daya dorong letusan serta pergerakan udara.

“Arah dan jauhnya sebaran abu sangat bergantung pada dua hal, pertama seberapa kuat letusan gunung dan ke mana angin bertiup,” ujar Daryono melalui keterangan tertulisnya, Senin (7/9/2026).

Partikel halus yang melayang ke lapisan atas atmosfer secara otomatis akan tersapu oleh hembusan angin kencang di ketinggian.

Baca Juga:  Kualitas Udara Bandung Memburuk Imbas Abu Vulkanik, Warga Wajib Pakai Masker

“Di sana, angin kencang akan membawa debu-debu ringan ini melayang jauh hingga puluhan bahkan ratusan km sebelum akhirnya jatuh ke tanah,” jelasnya.

Terkait durasi fenomena ini, Daryono menegaskan bahwa kepastian kapan hujan abu berakhir tidak bisa dipatok dengan tanggal pasti. Seluruh proses sangat bergantung pada dinamika di dalam perut bumi.

“Hujan abu tidak bisa ditentukan lewat tanggal di kalender,” kata Daryono.

Erupsi baru benar-benar mereda apabila pasokan cairan magma utama terhenti dan tekanan internal mulai stabil. Selama dorongan magma baru terus mengalir dari kedalaman, potensi letusan susulan akan tetap berlangsung fluktuatif.

“Selama kantong magma di bawah gunung masih terus mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yang membawa abu akan terus terjadi secara naik-turun. Kadang tenang, kadang membesar,” ungkapnya.

Baca Juga:  Tampil Bersama Raline Shah di Art Jakarta 2026, Ketua Kreator Jabar Soroti Pentingnya Seni Digital

Penurunan intensitas abu sementara tidak bisa serta-merta diartikan sebagai akhir dari bencana. Penutupan fase erupsi umumnya ditandai oleh melemahnya daya dorong internal yang membuat material di saluran utama membeku.

“Tanpa dorongan kuat, cairan magma di dalam saluran gunung akan mendingin, mengeras, dan akhirnya tersumbat oleh batuan di sekitarnya,” jelas Daryono.

Kendati sulit diprediksi secara pasti, instrumen vulkanologi tetap memantau sejumlah indikator teknis untuk mendeteksi pelemahan erupsi. Parameter tersebut meliputi penurunan frekuensi gempa dalam, penurunan emisi gas, hingga pengempisan (deflasi) tubuh gunung.

“Tanda-tanda pasokan magma mulai habis dapat terlihat dari alat pemantau, seperti hilangnya gempa dalam dari bawah gunung, menurunnya drastis bau gas menyengat, serta tubuh gunung yg mulai menyusut (deflasi),” paparnya.

Daryono menggarisbawahi belum tersedianya perangkat teknologi di dunia yang mampu mengukur sisa cadangan magma secara presisi karena kerumitan struktur bawah tanah.

Baca Juga:  Kerja Sama Dedi Mulyadi dan KSAD Dipertanyakan, Dinilai Langgar UU TNI

“Perut bumi berada puluhan kilometer di bawah tanah dan merupakan sistem alam yang sangat rumit. Belum ada teknologi di dunia yang bisa mengukur sisa jumlah magma di dalam bumi secara persis,” katanya.

Oleh sebab itu, fokus utama para peneliti difokuskan pada pembacaan pola perilaku gunung api ketimbang menebak tenggat waktu.

“Yang bisa dilakukan oleh para ahli vulkanologi bukanlah menebak tanggal, melainkan membaca pola,” tegas Daryono.

Lewat pengamatan deformasi dan aktivitas seismik secara intensif, tim ahli baru bisa menyimpulkan kapan gunung tersebut mulai memasuki fase akhir erupsi.

“Dengan memantau penurunan gempa dan kondisi badan gunung secara terus menerus, para ahli dapat mengetahui gunung tersebut mulai lelah dan bergerak menuju akhir fase letusannya,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau jawa barat
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

7 Langkah Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu, Cukup dari HP

PENUSUKAN

Petang Berdarah di Pasar Induk Caringin! Polisi Buru 30 Penyerang

Cuma Gara-gara Dikira Melirik Pacar, Remaja di Garut Todongkan Golok!

Jangan Lupa Payung! Bandung dan 17 Daerah Jabar Diprediksi Hujan Hari Ini

30 Orang Serang Juru Parkir di Pasar Induk Caringin, Satu Tewas

Aksi Anarkis di Garut Viral, Pemotor Dikeroyok Sekelompok Pemuda Hingga Terjatuh

Terpopuler
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Rapimnas PII 2026 Anugerahkan Penghargaan Narendra Dharma Abiyanta kepada Tiga Gubernur
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.