Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Klasemen Super League 2026/2027: Arema FC di Puncak, Persib di Posisi 2

Senin, 7 September 2026 15:18 WIB

Sampai Kapan Hujan Abu Anak Krakatau Melanda Jabar? Ini Penjelasan Ilmiah Ahli Kebencanaan

Senin, 7 September 2026 14:53 WIB

Al Azhar 36 Bandung Mulai Buka Pendaftaran 2027/2028, Ada Kelas Tahfiz hingga Digital

Senin, 7 September 2026 14:08 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Klasemen Super League 2026/2027: Arema FC di Puncak, Persib di Posisi 2
  • Sampai Kapan Hujan Abu Anak Krakatau Melanda Jabar? Ini Penjelasan Ilmiah Ahli Kebencanaan
  • Al Azhar 36 Bandung Mulai Buka Pendaftaran 2027/2028, Ada Kelas Tahfiz hingga Digital
  • Kualitas Udara Bandung Memburuk Imbas Abu Vulkanik, Warga Wajib Pakai Masker
  • Harga N95 Meroket: Pakai Masker Berlapis Ampuh Tangkal Abu Vulkanik? Ini Penjelasan Dokter Paru
  • Di Mana Istri Om Maxim? Kini Tri Rama Dandi Justru Umrah Bersama Faiz
  • Abu Anak Krakatau Lumpuhkan Soetta: 624 Penerbangan Batal Terbang, 75 Ribu Penumpang Terjebak
  • Perkembangan Erupsi Gunung Anak Krakatau: Letusan Panjang Reda, Potensi Bahaya Masih Tinggi
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 7 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Sampai Kapan Hujan Abu Anak Krakatau Melanda Jabar? Ini Penjelasan Ilmiah Ahli Kebencanaan

By Aga GustianaSenin, 7 September 2026 14:53 WIB3 Mins Read
Erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Semburan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung hingga Senin (7/9/2026) kian mencemaskan publik di wilayah Jawa Barat. Setelah melewati fase letusan tanpa henti selama 25 jam, aktivitas gunung api di Selat Sunda tersebut kini didominasi oleh erupsi strombolian.

Imbas material halus ini telah merambah hingga radius ratusan kilometer dari pusat kawah. Selain menutupi bangunan dan kendaraan warga, situasi ini memaksa dinas pendidikan mengalihkan kegiatan belajar mengajar menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Edukator kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengutarakan bahwa jangkauan paparan debu sangat terikat pada daya dorong letusan serta pergerakan udara.

“Arah dan jauhnya sebaran abu sangat bergantung pada dua hal, pertama seberapa kuat letusan gunung dan ke mana angin bertiup,” ujar Daryono melalui keterangan tertulisnya, Senin (7/9/2026).

Partikel halus yang melayang ke lapisan atas atmosfer secara otomatis akan tersapu oleh hembusan angin kencang di ketinggian.

Baca Juga:  Hasil Uji Makanan MBG: Labkes Jabar Sebut 23 Persen Positif Bakteri Berbahaya

“Di sana, angin kencang akan membawa debu-debu ringan ini melayang jauh hingga puluhan bahkan ratusan km sebelum akhirnya jatuh ke tanah,” jelasnya.

Terkait durasi fenomena ini, Daryono menegaskan bahwa kepastian kapan hujan abu berakhir tidak bisa dipatok dengan tanggal pasti. Seluruh proses sangat bergantung pada dinamika di dalam perut bumi.

“Hujan abu tidak bisa ditentukan lewat tanggal di kalender,” kata Daryono.

Erupsi baru benar-benar mereda apabila pasokan cairan magma utama terhenti dan tekanan internal mulai stabil. Selama dorongan magma baru terus mengalir dari kedalaman, potensi letusan susulan akan tetap berlangsung fluktuatif.

“Selama kantong magma di bawah gunung masih terus mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yang membawa abu akan terus terjadi secara naik-turun. Kadang tenang, kadang membesar,” ungkapnya.

Baca Juga:  Diskominfo Jabar Diseminasi Aplikasi Sapawarga

Penurunan intensitas abu sementara tidak bisa serta-merta diartikan sebagai akhir dari bencana. Penutupan fase erupsi umumnya ditandai oleh melemahnya daya dorong internal yang membuat material di saluran utama membeku.

“Tanpa dorongan kuat, cairan magma di dalam saluran gunung akan mendingin, mengeras, dan akhirnya tersumbat oleh batuan di sekitarnya,” jelas Daryono.

Kendati sulit diprediksi secara pasti, instrumen vulkanologi tetap memantau sejumlah indikator teknis untuk mendeteksi pelemahan erupsi. Parameter tersebut meliputi penurunan frekuensi gempa dalam, penurunan emisi gas, hingga pengempisan (deflasi) tubuh gunung.

“Tanda-tanda pasokan magma mulai habis dapat terlihat dari alat pemantau, seperti hilangnya gempa dalam dari bawah gunung, menurunnya drastis bau gas menyengat, serta tubuh gunung yg mulai menyusut (deflasi),” paparnya.

Daryono menggarisbawahi belum tersedianya perangkat teknologi di dunia yang mampu mengukur sisa cadangan magma secara presisi karena kerumitan struktur bawah tanah.

Baca Juga:  Sinergi Tingkatkan Kualitas SDM Jabar: bank bjb Gandeng BPSDM Gelar Pelatihan Berkelanjutan

“Perut bumi berada puluhan kilometer di bawah tanah dan merupakan sistem alam yang sangat rumit. Belum ada teknologi di dunia yang bisa mengukur sisa jumlah magma di dalam bumi secara persis,” katanya.

Oleh sebab itu, fokus utama para peneliti difokuskan pada pembacaan pola perilaku gunung api ketimbang menebak tenggat waktu.

“Yang bisa dilakukan oleh para ahli vulkanologi bukanlah menebak tanggal, melainkan membaca pola,” tegas Daryono.

Lewat pengamatan deformasi dan aktivitas seismik secara intensif, tim ahli baru bisa menyimpulkan kapan gunung tersebut mulai memasuki fase akhir erupsi.

“Dengan memantau penurunan gempa dan kondisi badan gunung secara terus menerus, para ahli dapat mengetahui gunung tersebut mulai lelah dan bergerak menuju akhir fase letusannya,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau jawa barat
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Al Azhar 36 Bandung Mulai Buka Pendaftaran 2027/2028, Ada Kelas Tahfiz hingga Digital

Kualitas Udara Bandung Memburuk Imbas Abu Vulkanik, Warga Wajib Pakai Masker

Di Mana Istri Om Maxim? Kini Tri Rama Dandi Justru Umrah Bersama Faiz

Abu Anak Krakatau Lumpuhkan Soetta: 624 Penerbangan Batal Terbang, 75 Ribu Penumpang Terjebak

Perkembangan Erupsi Gunung Anak Krakatau: Letusan Panjang Reda, Potensi Bahaya Masih Tinggi

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bansos September 2026 Cair Lagi? Cek Jenis Bantuan dan Status Penerima dengan NIK

Terpopuler
  • Video Kasir Indomaret 7 Menit Viral, Waspada Link ‘Full’ Palsu
  • Suara Mirip Bass Bergema dari Bandung Hingga Purwakarta, Dikaitkan Erupsi Anak Krakatau
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Viral, Benarkah Videonya Ada?
  • FSP BPD SI Tolak Pengalihan Payroll ASN ke Himbara, Warning Risiko PHK dan Anjloknya Ekonomi Daerah
  • Dijual Aja Liganya! Deretan Blunder Bos I.League Ferry Paulus Yang Bikin Netizen Puncak Emosi
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.