Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Perluas Akses Rute Bandung-Jakarta, TRAVL Resmikan Titik Keberangkatan Baru di Jalan Diponegoro

Jumat, 25 September 2026 20:17 WIB

Belum Main di Persib, Athaya Zahran dan Kevin Dikirim ke PSGC Ciamis untuk Misi Ini

Jumat, 25 September 2026 20:03 WIB

Kecelakaan Maut di Bundaran Cibiru Bandung, Pelajar Tewas Usai Tertabrak Truk Box

Jumat, 25 September 2026 19:52 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Perluas Akses Rute Bandung-Jakarta, TRAVL Resmikan Titik Keberangkatan Baru di Jalan Diponegoro
  • Belum Main di Persib, Athaya Zahran dan Kevin Dikirim ke PSGC Ciamis untuk Misi Ini
  • Kecelakaan Maut di Bundaran Cibiru Bandung, Pelajar Tewas Usai Tertabrak Truk Box
  • Herwin Muchtar Siap Berebut Kursi Ketua Kadin Kota Bandung, Usung Program Goes Global hingga Digitalisasi
  • Bolehkah Menggabung Niat Puasa Qadha Ramadan dengan Puasa Sunnah? Ini Penjelasan Fiqihnya
  • Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Singapura FIFA ASEAN Cup 2026
  • Guruh Soekarnoputra Dikabarkan Kritis, Keluarga Gelar Doa Bersama
  • Jejak Asmara Sara Wijayanto & Demian: Dari Restui Waktu Hingga Akhirnya Ketok Palu?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 25 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Haedar Nashir: Pemberantasan Korupsi Harus Objektif dan Tak Tebang Pilih

By Putra JuangRabu, 1 Januari 2025 06:00 WIB2 Mins Read
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: Muhammadiyah)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menegaskan pentingnya pemberantasan korupsi yang objektif dan tidak tebang pilih.

Hal tersebut disampaikan Haedar Nashir dalam acara Refleksi Akhir Tahun 2024 di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, pada Senin (30/12/2024).

Dalam kesempatan tersebut, Haedar memberikan apresiasi atas langkah pemerintah, khususnya Presiden Probowo dalam upaya pemberantasan korupsi sejak masa pelantikan hingga saat ini.

“Kita mendukung langkah pemerintah, termasuk Pak Presiden Probowo, untuk pemberantasan korupsi. Jadikan ini sebagai starting point di tahun 2025 untuk membangun komitmen pemberantasan korupsi yang menjadi political will dalam seluruh institusi pemerintahan, baik di eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun lembaga-lembaga auxelary,” kata Haedar.

Baca Juga:  Berapa Hari Lagi Puasa 2026? Ini Tanggal Awal Ramadhan Menurut Muhammadiyah dan Prediksi Pemerintah

Menurutnya, komitmen politik yang kuat dari seluruh institusi sangat diperlukan agar pemberantasan korupsi tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar terealisasi.

Pihaknya juga menyoroti pentingnya perbaikan kelembagaan, termasuk memperkuat posisi dan peran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga independen.

“KPK mestinya punya posisi tinggi dan moralitas tinggi untuk pemberantasan korupsi yang benar, adil, dan objektif, serta tidak terpengaruh oleh pihak mana pun. Kalau integritas ini dijadikan political will, saya pikir ke depan akan lebih baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Haedar menyoroti isu tebang pilih dan politisasi dalam penanganan kasus korupsi yang dapat menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Baca Juga:  Hati-Hati Salah Hari! Ini Tanggal Pasti Idul Adha 2025 Versi Pemerintah dan NU-Muhammadiyah

Pihaknya menekankan bahwa KPK dan seluruh institusi pemberantasan korupsi harus bersikap adil, objektif, dan tidak tebang pilih.

“Tidak boleh ada cerita di mana ada tebang pilih dan politisasi perkara. Kalau semua institusi bersikap adil dan objektif, langkah ini akan mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat,” katanya.

Haedar juga menekankan bahwa penegakan hukum di Indonesia harus mencerminkan prinsip negara hukum sebagaimana tercantum dalam amandemen konstitusi.

Pihaknya mengingatkan agar institusi penegak hukum, mulai dari kejaksaan, kepolisian, hingga lembaga yudikatif seperti Mahkamah Agung, menjadi tempat tegaknya keadilan tanpa adanya politisasi atau transaksi perkara.

Baca Juga:  Anwar Abbas: Muhammadiyah untuk Semua Umat dan Bangsa

“Negara hukum itu mestinya hukum di atas segalanya. Tidak boleh ada cerita di mana ada politisasi perkara atau transaksi-transaksi yang membuat perkara menjadi tebang pilih lagi. Ini harus menjadi political will semuanya,” ungkapnya.

Haedar berharap, agar langkah pemberantasan korupsi yang objektif dan berbasis political will dapat membawa progres signifikan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“InsyaAllah, kalau ini dimulai, akan ada progres dalam kehidupan berbangsa kita untuk penegakan hukum dan pemberantasan korupsi,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Haedar Nashir korupsi Muhammadiyah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kecelakaan Maut di Bundaran Cibiru Bandung, Pelajar Tewas Usai Tertabrak Truk Box

Herwin Muchtar Siap Berebut Kursi Ketua Kadin Kota Bandung, Usung Program Goes Global hingga Digitalisasi

Modal Kunci Asli, Dua Pelaku Gasak Isi Toko di Margaasih hingga Rugi Rp30,8 Juta

5 Provinsi dengan Kasus PHK Tertinggi, Jabar Tempati Posisi Pertama!

Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Jadi Tersangka, Polri Bongkar 4 Dugaan Peristiwa Korupsi

HJKB ke-216, DPRD Bandung Kritik Pemkot yang Bergerak Setelah Viral

Terpopuler
  • Bukan Uang Biasa? Jejak Tanda Tangan Purbaya di Rp100 Ribu Mulai Dicari Kolektor
  • Proyek Kabel Gatot Subroto Bandung Amburadul, Internet IndiHome Mati Nyaris Sepekan dan Bikin Rugi
  • 118 Gempa dalam 38 Hari, Apa yang Sebenarnya Bergerak di Bawah Kabupaten Bandung?
  • Unjani dan Djarum Foundation Kolaborasi Dorong Green Campus dan Green Leadership
  • Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
    Bursa Pilgub Jabar: Nama Purbaya Yudhi Sadewa Mulai Diperhitungkan, Parpol Pilih Wait and See
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.