bukamata.id – Hasil uji laboratorium mikrobiologi menunjukkan bahwa 72% sampel negatif, sedangkan 23% positif terhadap bakteri berbahaya seperti Vibrio cholerae, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Bacillus cereus.
Untuk pemeriksaan laboratorium kimia, 92% hasil negatif dan 8% positif nitrit, dengan mayoritas kontaminasi ditemukan pada dua jenis bakteri.
“Dari parameter pemeriksaan keamanan pangan pada laboratorium mikrobiologi hasilnya berbeda-beda, secara frekuensi didominasi oleh bakteri Salmonella dan Bacillus cereus. Pada pemeriksaan laboratorium kimia paling banyak dari parameter nitrit,” jelas Kepala Labkes Jabar, Ryan Bayusantika Ristandi, dikutip Kamis (25/9/2025).
Faktor Penyebab Keracunan: Air, Peralatan, dan Higienitas Pekerja
Ketika ditanya mengenai faktor penyebab keracunan, Ryan menegaskan bahwa kebersihan air, peralatan memasak, dan higienitas pekerja dapur sangat berpengaruh.
“Ya, kebersihan air, peralatan, dan higienitas pekerja dapur (food handler) sangat berpengaruh terhadap terjadinya keracunan makanan, dan hal ini diatur jelas dalam regulasi,” tuturnya.
Menurut Ryan, air yang digunakan untuk mencuci bahan makanan, peralatan, maupun tangan pekerja harus memenuhi standar mikrobiologi dan kimia, termasuk bebas E. coli dan bahan kimia berbahaya.
“Jika air tercemar, bisa menjadi sumber masuknya kuman penyebab keracunan seperti E. coli, Salmonella, dan Vibrio cholerae,” jelasnya.
Selain itu, peralatan masak dan saji harus dicuci dengan air bersih dan sabun, serta dilakukan pemisahan antara peralatan mentah dan matang untuk mencegah kontaminasi silang, merujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1096 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Higiene Sanitasi Jasa Boga.
“Higienitas pekerja merupakan faktor utama dalam pencegahan foodborne disease karena manusia sering menjadi pembawa (carrier) bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus. Selain itu, pekerja dapur juga harus memperhatikan kebersihan tangan, kuku, rambut, dan pakaian kerja,” jelas Ryan.
“Pekerja yang sedang sakit dilarang menangani makanan,” pungkasnya.
Kesimpulan
Hasil pemeriksaan Labkes Jabar menunjukkan bahwa meski sebagian besar sampel aman, masih terdapat risiko kontaminasi bakteri berbahaya dan nitrit. Pemeriksaan ini menegaskan pentingnya higienitas pekerja, kebersihan air, dan peralatan dapur dalam pelaksanaan program MBG, agar kasus keracunan massal dapat dicegah.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









