bukamata.id – Dunia komedi Indonesia tengah dihadapkan pada polemik serius yang memantik perdebatan luas mengenai batas kebebasan berekspresi, kritik sosial, serta cara masyarakat menyikapi perbedaan pandangan. Nama komika Pandji Pragiwaksono mendadak menjadi pusat perhatian publik setelah dirinya dilaporkan ke pihak kepolisian akibat materi stand up comedy yang ia bawakan dalam special show bertajuk Mens Rea, yang ditayangkan melalui platform Netflix.
Laporan tersebut tidak hanya memunculkan pro dan kontra di kalangan masyarakat, tetapi juga memantik reaksi dari para pelaku seni dan komedian lintas generasi. Salah satu suara yang cukup lantang datang dari komedian senior Indro Warkop. Sebagai figur yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia hiburan, Indro memandang polemik ini bukan sekadar persoalan hukum, melainkan juga cerminan perubahan cara berpikir masyarakat dalam menyikapi kritik dan perbedaan.
Indro secara terbuka menyayangkan adanya pelaporan polisi terhadap materi komedi yang dibawakan Pandji. Menurutnya, komedi sejak dulu memiliki fungsi sosial sebagai medium kritik, refleksi, sekaligus hiburan yang lahir dari realitas sehari-hari. Ia pun mengajak publik untuk melihat persoalan ini secara lebih jernih dan proporsional.
Seperti diketahui, Mens Rea merupakan special show Pandji Pragiwaksono yang belakangan menuai sorotan karena materi yang disampaikannya cukup berani. Dalam penampilannya, Pandji menyinggung berbagai isu politik di Indonesia, termasuk menyebut nama sejumlah tokoh politik secara gamblang tanpa sensor. Gaya Pandji yang lugas dan kritis memang bukan hal baru, namun kali ini respons yang muncul jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Indro Warkop kemudian mengenang perjalanan panjangnya bersama grup legendaris Warkop DKI pada masa lalu. Ia membandingkan situasi yang dihadapi Pandji saat ini dengan kondisi yang pernah dialami dirinya dan rekan-rekannya ketika berkarya di era Orde Baru. Menurut Indro, pada masa itu, kritik yang mereka sampaikan melalui komedi juga kerap menyentuh ranah sensitif, termasuk kebijakan dan praktik kekuasaan.
Namun, ada perbedaan mencolok dalam cara respons muncul. Indro menegaskan bahwa Warkop tidak pernah berhadapan dengan pelaporan hukum dari masyarakat. Sebaliknya, mereka langsung berhadapan dengan otoritas negara.
“Dilaporkan enggak pernah, tapi kami ditegur pemerintah,” kata Indro Warkop saat ditemui di Bioskop XXI Plaza Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, dikutip Senin (12/1/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kritik melalui komedi bukanlah hal baru di Indonesia. Namun, konteks sosial dan politik yang berubah membuat cara masyarakat merespons kritik juga ikut berubah. Indro menilai, pelaporan terhadap Pandji justru menandakan kemunduran dalam cara berpikir dan bernalar.
Indro pun secara tegas menanggapi laporan polisi yang menjerat Pandji Pragiwaksono. Ia menilai tindakan tersebut berlebihan dan tidak sejalan dengan semangat demokrasi yang seharusnya memberi ruang bagi perbedaan pendapat.
“Disayangkan, ini sebuah kemunduran cara berpikir, logika saja salah, kalau memang tidak terjadi, ngapain harus ada penolakan ?” lanjutnya.
Menurut Indro, perbedaan pandangan seharusnya disikapi dengan dialog dan diskusi, bukan dengan langkah hukum yang berpotensi membungkam ekspresi. Ia khawatir, jika pola seperti ini terus berlanjut, masyarakat akan semakin mudah tersulut dan terpecah hanya karena perbedaan sudut pandang.
Lebih jauh, Indro juga menyoroti perubahan relasi kekuasaan dalam konteks kritik. Jika dahulu seniman berhadapan langsung dengan penguasa, kini situasinya dinilai lebih kompleks. Ia menyayangkan adanya kondisi di mana sesama rakyat justru saling berhadapan akibat perbedaan tafsir dan kepentingan.
“Kalau dulu, ada penguasa, kalau sekarang ini penguasa menggunakan orang lain untuk dibenturkan ke kita, ini enggak boleh,” ucap Indro Warkop.
Bagi Indro, situasi semacam ini sangat berbahaya karena berpotensi memecah belah masyarakat. Ia mengingatkan agar perbedaan pandangan tidak dijadikan alasan untuk saling melaporkan atau memusuhi. Sebaliknya, ruang publik seharusnya menjadi tempat bertemunya beragam gagasan yang bisa diperdebatkan secara sehat.
Sementara itu, polemik bermula ketika Pandji Pragiwaksono dilaporkan oleh Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) bersama Aliansi Muda Muhammadiyah ke Polda Metro Jaya. Laporan tersebut terkait materi yang disampaikan Pandji dalam pertunjukan Mens Rea. Pengaduan resmi itu dilayangkan pada Rabu (7/1/2026) dengan dugaan pencemaran nama baik.
Dalam laporan tersebut, pihak pelapor turut menyerahkan sejumlah barang bukti. Barang bukti yang disertakan antara lain rekaman video pertunjukan serta materi yang disampaikan Pandji melalui salah satu platform digital saat pertunjukan berlangsung. Materi tersebut dinilai oleh pelapor mengandung unsur merendahkan dan dianggap berpotensi menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.
Kasus ini pun membuka kembali diskusi panjang mengenai batas antara kritik, satire, dan penghinaan. Bagi sebagian kalangan, apa yang disampaikan Pandji merupakan bentuk kritik sosial yang sah dalam ruang demokrasi. Namun bagi pihak lain, materi tersebut dianggap melampaui batas dan menyentuh ranah sensitif yang tidak pantas disampaikan di ruang publik.
Di tengah tarik-menarik pandangan tersebut, suara Indro Warkop menjadi pengingat bahwa komedi memiliki sejarah panjang sebagai alat kritik. Ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah tersinggung dan lebih mengedepankan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan. Sebab, ketika ruang berekspresi semakin sempit, yang terancam bukan hanya para seniman, tetapi juga kualitas demokrasi itu sendiri.
Polemik Mens Rea pun kini tak lagi sekadar tentang Pandji Pragiwaksono. Ia telah menjelma menjadi cermin bagi masyarakat Indonesia dalam melihat sejauh mana toleransi terhadap kritik, perbedaan pandangan, dan kebebasan berekspresi masih dijaga di era modern ini.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











