bukamata.id – Potret memilukan kembali datang dari pelosok Kabupaten Sukabumi. Akibat akses infrastruktur yang hancur lebur, Sadi (60), seorang lansia yang tengah berjuang melawan komplikasi penyakit, terpaksa harus dievakuasi warga menggunakan tandu darurat dari kain sarung dan sebilah bambu.
Aksi dramatis warga Kampung Cidahu, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampang Tengah ini terekam dalam sebuah video yang kini viral. Dalam cuplikan tersebut, sejumlah pria tampak bahu-membahu memikul bambu panjang melewati medan yang menyerupai sungai kering, demi membawa Pak Sadi menuju fasilitas medis.
Ambulans Tak Berkutik Menembus Jalan Rusak
Kondisi jalan kabupaten yang hanya menyisakan hamparan batu tajam dan tanah tidak rata membuat mobil Ambulans Siaga Desa tidak mampu menjangkau kediaman pasien. Kendaraan medis tersebut hanya bisa menunggu di ujung jalan yang jaraknya sangat jauh dari rumah korban.
Salah seorang warga yang merekam kejadian tersebut, Galih, menceritakan bahwa langkah darurat ini diambil karena kondisi kesehatan Pak Sadi yang kian menurun.
“Kejadiannya kemarin pagi sekitar jam 08.00 WIB. Pak Sadi menderita komplikasi asam urat dan lambung. Karena ambulans tidak bisa masuk sama sekali ke lokasi rumah, warga akhirnya inisiatif membuat tandu darurat,” ujar Galih pada Minggu (26/4/2026).
Warga pun harus berjalan kaki sejauh satu kilometer sambil memikul tandu yang terombang-ambing, melintasi semak belukar di kanan-kiri jalur yang sempit.
10 Kilometer Jalan Bak Jalur ‘Offroad’
Sesampainya di titik jemput, Pak Sadi langsung dipindahkan ke ranjang dorong medis menuju ambulans putih yang telah menanti. Galih menyebut, pihak ambulans sebenarnya sudah berusaha masuk sedalam mungkin ke area perkampungan.
“Ambulans itu juga sudah dipaksakan masuk sampai batas maksimal yang dia sanggup. Jarak dari rumah ke lokasi ambulans itu sekitar 1 kilometer, ya kami harus gotong-gotong pakai sarung sejauh itu,” ungkap Galih.
Mirisnya, persoalan ini bukan hal baru. Kerusakan ruas jalan yang menghubungkan Desa Tanjungsari dengan Desa Bojongtipar ini diperkirakan mencapai 10 kilometer. Bahkan, akses menuju Dusun Cidahu diklaim tidak pernah tersentuh pengaspalan layak meski statusnya adalah jalan kabupaten.
“Ruas jalannya rusak parah sekitar 10 kilometer. Pernah ada diaspal cuma 200 meter, tapi baru 3 bulan sudah hancur lagi sekarang. Kalau jalan ke arah kedusunan Cidahu malah belum pernah diaspal sama sekali, padahal statusnya jalan kabupaten,” tegasnya.
Harapan Warga: Jangan Ada Lagi Pasien yang Ditandu
Infrastruktur yang buruk ini kini tidak hanya mengancam nyawa warga yang sakit, tetapi juga mulai melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat setempat. Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan memperbaiki akses vital tersebut agar kejadian serupa tidak terus berulang.
“Harapannya semoga cepat didengar pemerintah. Intinya warga sudah bingung harus gimana lagi, setiap ada yang sakit pasti kejadiannya ditandu seperti ini,” pungkas Galih.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










