bukamata.id – Dunia aktivisme mahasiswa Indonesia kembali memanas. Sosok Tiyo Ardianto, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2025-2026, mendadak menjadi pusat pusaran arus informasi. Bukan sekadar karena jabatannya di kampus kerakyatan, melainkan karena keberaniannya membidik langsung program mercusuar pemerintah: Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kritiknya pedas, diksi yang dipilihnya tajam, dan dampaknya berbuntut panjang hingga ke ranah teror digital yang menyasar keluarganya. Siapa sebenarnya sosok pemuda asal Kudus ini?
Gugatan Atas Nama “Gratis”: Retorika atau Realita?
Dalam sebuah podcast yang viral di YouTube, Tiyo tidak basa-basi. Ia menyoroti paradoks istilah “gratis” yang digaungkan pemerintah. Bagi Tiyo, kata tersebut adalah sebuah manipulasi bahasa karena pendanaannya mutlak dari pajak rakyat.
“Makan bergizi gratis ini bergizi saja tidak, apalagi gratis. Kata gratis itu pengkhianatan luar biasa pada rakyat. Karena mereka bekerja, mengalokasikan anggaran juga difasilitasi oleh uang rakyat,” tegas Tiyo dengan nada bicara yang tenang namun menghujam.
Ia menambahkan bahwa rakyat sebenarnya “membayar” setiap suap nasi dalam program tersebut lewat keringat mereka setiap hari. Tak berhenti di situ, Tiyo menyerang kompetensi eksekutor program. Ia mempertanyakan mengapa Badan Gizi Nasional dipimpin oleh sosok yang ia sebut bukan ahli gizi, melainkan ahli serangga, serta keterlibatan Polri dalam urusan dapur umum.
“Apakah Polri itu tidak punya pekerjaan lain, sehingga lebih sibuk mengurusi catering?” cetusnya, sebuah kalimat yang kemudian dipotong menjadi klip pendek dan tersebar masif di TikTok dan Instagram.
Profil Tiyo: Dari Omah Dongeng Menuju Kursi Ketua BEM UGM
Menelusuri profil Tiyo Ardianto adalah menelusuri jalur pendidikan non-konvensional yang inspiratif. Lahir dan besar di Kudus, Jawa Tengah, Tiyo bukan lulusan SMA favorit yang mentereng. Ia adalah produk dari Omah Dongeng Marwah (ODM), sebuah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Bae, Kudus.
Tiyo menempuh jalur Paket C (setara SMA) di lembaga yang didirikan oleh budayawan Hasan Aoni tersebut. Di ODM, Tiyo terbiasa dengan metode belajar yang eksploratif—mulai dari mendongeng hingga berkebun hidroponik. Lingkungan inilah yang disinyalir membentuk nalar kritis dan keberaniannya.
Hasan Aoni, sang mentor, melihat Tiyo sebagai simbol anomali yang membanggakan.
“Ia datang dari jalur Paket C, menembus seleksi masuk UGM, lalu berdiri sejajar secara moral dengan presiden melalui jabatan kemahasiswaannya,” ujar Hasan.
Kini, Tiyo tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Filsafat UGM angkatan 2021. Latar belakang keilmuan filsafat ini sangat terasa dalam cara ia membedah kebijakan pemerintah—selalu mengejar hakikat di balik fenomena.
Pusaran Teror: “Ibu Saya Perempuan Desa yang Ketakutan”
Keberanian Tiyo harus dibayar mahal. Dalam konferensi pers bersama Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) pada Selasa (17/2/2026), Tiyo mengungkap rangkaian intimidasi yang dialaminya sejak 9 Februari 2026.
Ancaman tersebut bervariasi, mulai dari pesan WhatsApp dari nomor luar negeri (kode Inggris) yang mengancam akan menculiknya, hingga kampanye pembunuhan karakter (character assassination) di media sosial. Ia dituduh melakukan penggelapan dana KIP-Kuliah hingga serangan berbasis AI yang merusak reputasi pribadinya.
Namun, yang paling menyakitkan bagi Tiyo adalah saat teror menyentuh keluarganya.
“Ibu saya perempuan desa yang sederhana. Pesan itu membuat beliau sangat ketakutan,” tuturnya. Ibunya menerima pesan tengah malam yang menuduh Tiyo sebagai koruptor internal organisasi.
Bahkan, intimidasi fisik sempat ia rasakan saat merasa dikuntit oleh dua pria bertubuh tegap di sebuah kedai. Tak hanya Tiyo, sekitar 20 hingga 30 pengurus BEM UGM juga mendapatkan pesan gelap serupa.
Respons Istana: Antara “Etika” dan “Ketidaktahuan”
Merespons gaduh teror yang menimpa Tiyo, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan pihak Istana tidak mengetahui siapa pelakunya. Sebagai sesama alumni UGM, Prasetyo memberikan “nasihat” alih-alih jaminan keamanan khusus.
“Sampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga, kemudian juga mengedepankan etika, adab ketimuran. Hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik,” ujar Prasetyo di Gedung DPR (18/2/2026).
Pernyataan ini justru memicu perdebatan baru di media sosial. Banyak yang menilai pemerintah lebih fokus pada “sopan santun” pengkritik daripada substansi kritik atau ancaman keselamatan yang nyata.
Di sisi lain, pihak kampus UGM melalui Juru Bicara I Made Andi Arsana menegaskan posisi mereka untuk melindungi Tiyo. Tim K5L UGM telah dikerahkan untuk melakukan pengawasan demi menjamin keselamatan sang Ketua BEM.
Riuh Netizen: “Suara Kebenaran Tak Boleh Bungkam”
Pantauan di kolom komentar media sosial menunjukkan pembelahan opini yang tajam, namun dukungan terhadap Tiyo mengalir deras. Konten-konten footage Tiyo saat berorasi atau diwawancarai seringkali dibubuhi musik emosional atau transisi ala konten aktivis masa kini.
Berikut beberapa komentar yang mendulang banyak likes:
- “MUDA, BERANI, PINTAR, JAGOAN. Jempol buat abang ini. Semoga konsisten menyuarakan kebenaran,” tulis seorang netizen di TikTok.
- “Anak kecil aja tau. Kok ratusan orang di pemerintahan ga tau? Apa pura-pura ga tau,” sindir akun lainnya.
- “Doa kami menyertai, semoga beliau selalu dalam lindungan-Nya. Ada masanya kezaliman akan tumbang,” tulis netizen di platform X.
Kesimpulan: Ujian Demokrasi di Meja Makan
Kasus Tiyo Ardianto adalah potret nyata bagaimana sebuah kebijakan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya diuji secara logistik, tapi juga secara demokratis. Bagi Tiyo, pendidikan tetap harus menjadi prioritas utama di atas program makan gratis yang rawan korupsi.
Kini, publik menunggu: apakah suara dari “anak Paket C” asal Kudus ini akan didengar sebagai masukan berharga, atau justru akan terus diredam oleh suara-suara gelap di balik layar ponsel? Satu yang pasti, Tiyo telah membuktikan bahwa dari Omah Dongeng, seseorang bisa mengguncang panggung politik nasional.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










