Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Habis Adik dan Ipar, Sekarang Asisten: Seberapa Kuat Pengaruh Raffi Ahmad di Pemerintahan?

Minggu, 28 Juni 2026 20:09 WIB
Zalnando

Resmi! Persib Berpisah dengan Zalnando Usai 6 Musim Penuh Cerita

Minggu, 28 Juni 2026 19:34 WIB

Mahasiswa UPI Tolak GEMA Jabar, Polemik Pendidikan dan Guru Honorer Menguat

Minggu, 28 Juni 2026 18:57 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Habis Adik dan Ipar, Sekarang Asisten: Seberapa Kuat Pengaruh Raffi Ahmad di Pemerintahan?
  • Resmi! Persib Berpisah dengan Zalnando Usai 6 Musim Penuh Cerita
  • Mahasiswa UPI Tolak GEMA Jabar, Polemik Pendidikan dan Guru Honorer Menguat
  • Messi Menggila! Cetak Gol ke-6, Pimpin Klasemen Top Skor Piala Dunia 2026
  • Tragis! Pemuda 21 Tahun Tewas Tenggelam di Kolam Ciparang Bandung Barat
  • Guncang Bursa Transfer! Persib Umumkan Perpisahan dengan Rezaldi Hehanussa
  • Hanya Sun Tangan Tanpa Pelukan, Interaksi Oki Setiana Dewi dan Ory Vitrio Picu Isu Rumah Tangga!
  • Garena Bagi-Bagi Hadiah Hari Ini! Kode Redeem FF 28 Juni 2026 Berhadiah Skin, Diamond, dan Emote Langka
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 28 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Janji Kontrak Bola Berujung Kerja Paksa: Remaja Bandung Disiksa di Kamboja

By SusanaSelasa, 18 November 2025 16:31 WIB4 Mins Read
Nenek Siti Rohanah dan ayah korban, Dedi Solehudin, menunjukkan foto Rizki Nurfadhilah (18), remaja Bandung yang diduga menjadi korban TPPO di Kamboja. Foto agi MPI.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Seorang remaja bernama Rizki Nurfadhilah (18) asal Kampung Cilisung, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) setelah diimingi kesempatan menjadi pemain sepak bola di Medan.

Bukannya masuk klub, korban justru dibawa lintas negara hingga berakhir di Kamboja dan mengalami penyiksaan.

Ayah korban, Dedi Solehudin, menceritakan bahwa awalnya sang anak mengaku akan menandatangani kontrak bermain bola di Medan selama satu tahun.

“Anak saya bilang ada kontrak main bola di Medan. Tanggal 26 Oktober dia berangkat, dijemput pakai travel dari sini, terus dibawa ke Jakarta. Dari Jakarta baru ke Medan,” ujar Dedi saat ditemui Selasa (18/11/2025).

Namun mimpi itu berubah menjadi petaka. Dedi mengungkapkan bahwa dari Medan, putranya justru diterbangkan ke Malaysia sebelum akhirnya dibawa ke Kamboja.

“Dia diiming-imingi main bola. Ternyata itu jebakan,” katanya.

Menurutnya, sang anak memang memiliki latar belakang sepak bola. Ia pernah mengikuti Diklat Persib dan bergabung dengan SSB lokal. Dedi mengaku sempat percaya karena anaknya memang hobi sepak bola sejak kecil.

Baca Juga:  Remaja Dayeuhkolot ke Kamboja Atas Keinginan Sendiri, Pemkab Bandung Tegaskan Bukan Korban TPPO

“Iya, memang main bola. Dulu di Persib ikut diklat jadi penjaga gawang,” katanya.

Namun tak berselang lama keluarga dikejutkan ketika korban menghubungi dan mengaku berada di Kamboja.

“Dia bilang, ‘Pak, Aa dijebak.’ Katanya dia direkrut dari Facebook,” jelas Dedi.

Setibanya di Kamboja, kondisi korban memburuk. Ia disiksa karena tidak memenuhi target kerja.

“Anak saya disiksa tiap hari. Sehari harus dapat target 20 cari nomor orang Cina yang kaya. Kalau enggak dapat, dia dipukul suruh push up terus dipaksa mengangkat galon dari lantai satu ke lantai sepuluh sebagai hukuman,” katanya.

Dedi mengungkapkan, kontak pelaku kini tidak bisa lagi dihubungi. Ia meminta pemerintah bergerak cepat.

“Tolong cepat pulangkan anak saya dengan kondisi sehat. Tolong bantuannya. Tolong Bapak Presiden perhatikan anak saya,” harapnya.

Dedi mengaku telah mengadu ke sejumlah instansi mulai dari BP3MI Jawa Barat, Disnaker Kabupaten Bandung, hingga Gedung Sate. Namun hingga kini, ia mengaku belum mendapat kejelasan.

“Saya sudah ke berbagai tempat, tapi tidak ada jawaban. Ini urusan nyawa. Anak saya tiap hari disiksa,” tegasnya.

Baca Juga:  Remaja Dayeuhkolot ke Kamboja Atas Keinginan Sendiri, Pemkab Bandung Tegaskan Bukan Korban TPPO

Sementara itu, nenek korban, Imas Siti Rohanah (52), membenarkan bahwa keluarganya awalnya percaya korban berangkat untuk mengikuti seleksi sepak bola.

“Katanya mau ikut seleksi akademi klub profesional di Medan. Dari Jakarta langsung ke Medan,” ujar Imas.

Siti menjelaskan Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang aktif bermain sepak bola dan sempat bergabung dengan sejumlah sekolah bola lokal.

“Dia itu dari kecil memang hobi bola. Pernah ikut SSB Hesebah, pernah juga di Diklat Persib jadi penjaga gawang. Jadi mungkin mudah sekali percaya dengan tawaran seleksi,” ujar

Namun sejak awal, keluarga merasa ada yang janggal. Imas menyebut cucunya tidak bisa menunjukkan nomor manajer atau pelatih yang menjemput.

“Kakeknya sempat tanya nomor pelatihnya, tapi dia bilang enggak punya. Katanya dibawa temannya, tapi nomor temannya juga enggak ada,” jelasnya.

Beberapa hari kemudian, pihak keluarga mendapat kabar mengejutkan bahwa korban sudah berada di Kamboja. Informasi itu diterima dari ibu korban yang bekerja di Hongkong.

Baca Juga:  Remaja Dayeuhkolot ke Kamboja Atas Keinginan Sendiri, Pemkab Bandung Tegaskan Bukan Korban TPPO

“Kami kaget sekali. Tidak tahu bagaimana dia bisa dibawa sampai ke sana,” ungkapnya.

Menurut Imas, cucunya kerap mengirim pesan sambil mencuri waktu dan mengabari keluarga. Ia mengaku sering mendapat laporan bahwa korban disiksa.

“Disuruh push-up ratusan kali, disuruh angkat galon sampai lantai sepuluh. Padahal dia tidak terbiasa kerja begitu,” katanya.

Korban juga dipaksa melakukan penipuan online kepada warga negara lain dan diiming-imingi akan mendapatkan Iphone dalam beberapa hari kerja namun kenyataannya tidak.

“Kerjaannya menipu orang Cina lewat komputer. Padahal dia tidak bisa komputer. Mungkin karena sering salah, dia dihukum,” ucap Imas.

Karena tidak kunjung ada perkembangan dari instansi terkait, keluarga akhirnya memutuskan untuk memviralkan kasus ini.

“Kami nekat unggah video, karena kasihan sama cucu. Pemerintah setempat memang merespons, tapi dari pusat belum ada hasil. Dari KBRI juga belum ada kabar lanjutan,” katanya.

Imas berharap pemerintah segera turun tangan.

“Kami hanya ingin cucu kami cepat dipulangkan dalam keadaan sehat,” ujarnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

korban tppo pemain bola perdagangan orang kamboja remaja dijebak kerja kamboja tppo bandung
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Habis Adik dan Ipar, Sekarang Asisten: Seberapa Kuat Pengaruh Raffi Ahmad di Pemerintahan?

Mahasiswa UPI Tolak GEMA Jabar, Polemik Pendidikan dan Guru Honorer Menguat

Tragis! Pemuda 21 Tahun Tewas Tenggelam di Kolam Ciparang Bandung Barat

Bukan Penyiksaan? Ini Penjelasan Komnas Perempuan Soal Kasus YTR Bandung

Bos Hartono Angkat Topi, Koleksi Ikan Irfan Hakim Rajai All Indonesia Young Koi Show 2026!

Absen Lengkap Tapi Dituduh Lalai?! Guru Senior Ini Tetap Mengajar Walau Haknya Dirampok 73 Bulan!

Terpopuler
  • Viral Handuk Putih Anak vs Ibu, Warganet Berburu Link Asli! Ternyata Isinya Bikin Kaget
  • Viral! Video ‘Handuk Putih Ibu dan Anak’ Bikin Netizen Penasaran, Ini Faktanya
  • Cut Salwa Jadi Trending Topic, Benarkah Ada Video 10 Menit? Ini Fakta yang Terungkap
  • Jangan Klik Link Ini! Tren Viral TikTok ‘Handuk Putih’ Picu Ancaman Phishing Serius
  • Link Video Ibu dan Anak Handuk Putih Banyak Dicari, Waspadai Modus Phishing
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.