bukamata.id – Kisah Siti Nur Rahayu bukan sekadar cerita tentang seorang atlet yang jatuh sakit. Ia adalah potret tentang ketangguhan, mimpi yang sempat melambung tinggi, dan kenyataan pahit yang datang tanpa peringatan. Di rumah sederhananya di Kampung Seni Baru, Kelurahan Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, perempuan muda itu kini menjalani hari-hari yang jauh berbeda dari masa ketika ia berlari kencang di lapangan rugbi, mengenakan seragam kebanggaan Jawa Barat.
Siti dikenal sebagai sosok pekerja keras. Di antara rekan-rekannya, ia bukan hanya atlet yang tangguh secara fisik, tetapi juga pribadi yang tekun dan jarang mengeluh. Perjalanan menuju PON 2024 di Sumatra Utara dan Aceh menjadi salah satu momen yang paling membanggakan dalam hidupnya. Ia berlatih tanpa mengenal lelah, membawa harapan keluarga dan daerah di pundaknya. Ketika itu, lapangan menjadi rumah kedua—tempat ia menumpahkan tenaga, disiplin, dan mimpi besar tentang masa depan sebagai atlet.
Namun kini, kehidupan Siti berubah drastis. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah akibat penyakit pecah usus yang dideritanya. Tubuh yang dulu kuat menahan benturan keras di lapangan, kini harus berjuang melawan rasa sakit yang terus menggerogoti. Setiap hari dilalui dengan langkah terbatas, bahkan sekadar duduk atau berjalan singkat pun menjadi tantangan besar.
Dokter telah menyatakan bahwa kondisinya memerlukan pemeriksaan lanjutan hingga tindakan operasi. Sayangnya, proses pengobatan sempat terhambat karena keterbatasan biaya. Siti tidak memiliki jaminan kesehatan BPJS pada saat kondisi memburuk, sehingga keluarganya harus menanggung sendiri beban pengobatan. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana, keputusan medis yang seharusnya menjadi prioritas justru terasa seperti jalan terjal yang sulit ditempuh.
Meski begitu, semangat Siti tidak sepenuhnya padam. Dalam kondisi lemah, ia masih mengingat masa-masa ketika berdiri di lapangan sebagai atlet daerah. Kenangan itu menjadi sumber kekuatan sekaligus pengingat bahwa dirinya pernah berjuang untuk orang banyak. “Saya dulu bertanding membawa nama Garut dan Jawa Barat. Sekarang saya hanya berharap ada yang peduli,” ucap Siti dengan nada lirih.
Kisahnya mulai mendapat perhatian setelah diangkat ke publik oleh media. Sejak itu, berbagai pihak mulai bergerak. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan komitmennya untuk membantu warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan, termasuk Siti. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, ia menyoroti kondisi atlet muda tersebut dan menyampaikan rasa terima kasih kepada media yang telah mengangkat kisah pilu itu. “Terima kasih kepada Kompas TV yang telah menceritakan kisah pilu ini,” ujar Dedi.
Ia juga mengaku mengetahui kasus tersebut dari pemberitaan, bukan dari laporan resmi pemerintah setempat. “Mohon maaf, kami baru mengetahui peristiwa ini justru dari Kompat TV, bukan dari pemerintah setempat,” ungkapnya. Dedi memastikan bahwa pemerintah provinsi akan segera turun tangan dan membawa Siti ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis yang diperlukan.
Di tengah sorotan publik, Ketua KONI Kabupaten Garut, Subhan Rohmansyah, mengatakan pihaknya langsung bergerak setelah mengetahui kondisi Siti dari media. Ia bersama tim berupaya memberikan dukungan moral sekaligus mengoordinasikan langkah medis dengan berbagai pihak terkait. “Kami mengambil hikmah dari pemberitaan. Sehingga bisa tahu ada atlet yang sakit. Kami langsung mengunjungi. Alhamdulillah kondisi atlet membaik. Kami berupaya menghibur Siti dan orang tuanya serta berkoordinasi dengan cabor Rugby, pemerintah daerah, RSU hingga KONI Jabar,” kata Subhan.
Sebelumnya, Siti telah menjalani operasi pertama secara gratis melalui fasilitas Lapad Ruhama milik Pemerintah Kabupaten Garut. Namun pada saat itu, KONI mengaku belum mendapatkan informasi mengenai kondisinya. “Saat operasi pertama Kami tidak tahu. Setelah kami berkunjung, baru di ketahui informasi bahwa operasi tersebut menggunakan fasilitas Lapad Ruhama. Pascaoperasi, pihak RSUD juga proaktif mengunjungi rumah pasien untuk kontrol,” ungkap Subhan.
Seiring berjalannya waktu, kondisi Siti perlahan menunjukkan perkembangan positif. Status BPJS-nya kini telah aktif kembali, sehingga proses kontrol kesehatan dan rencana operasi lanjutan dapat berjalan lebih lancar. KONI Garut juga memastikan akan memberikan dukungan penuh, termasuk terkait pembiayaan jika diperlukan. “Jika ada hal yang berkaitan dengan biaya atau lain-lain, saya sampaikan ke RSUD. Insya Allah KONI akan bertanggung jawab,” tegas Subhan.
Tim medis pun secara rutin melakukan kunjungan ke rumah Siti untuk memantau perkembangan kesehatannya. Hasilnya cukup menggembirakan. “Per hari ini, kami dan dokter dari RSUD kembali melakukan kunjungan (visit) ke tempat atlet. Alhamdulilah kondisi Siti semakin membaik dan saat ini sedang di persiapkan menuju proses operasi terakhir,” ujar Subhan.
Bagi Siti, perjalanan ini bukan hanya tentang kesembuhan fisik, tetapi juga tentang mempertahankan identitasnya sebagai seorang pejuang. Ia mungkin tidak lagi berlari di lapangan untuk sementara waktu, tetapi semangat yang dulu membuatnya bertahan di tengah kerasnya olahraga rugbi masih hidup dalam dirinya. Setiap dukungan yang datang menjadi energi baru untuk bertahan.
Kisah Siti Nur Rahayu mengingatkan bahwa di balik seragam olahraga dan prestasi yang terlihat di permukaan, ada manusia dengan cerita hidup yang kompleks. Atlet bukan hanya tentang kemenangan di arena pertandingan, tetapi juga tentang perjuangan di luar lapangan—melawan rasa sakit, keterbatasan ekonomi, dan ketidakpastian masa depan.
Kini, di rumah sederhana yang menjadi saksi perjuangan panjangnya, harapan kembali tumbuh. Siti masih menyimpan mimpi untuk sembuh dan kembali menjalani hidup dengan lebih baik. Ia mungkin belum tahu seperti apa masa depan yang menantinya, tetapi satu hal pasti: semangat yang pernah membawanya berdiri tegak sebagai atlet daerah masih menjadi kekuatan terbesar untuk melewati masa-masa sulit ini.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










