Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Viral Eza Gionino Bogem Robby Tremonti hingga Ajak Duel Tinju, Dipicu Masalah Sensitif Ini?

Selasa, 9 Juni 2026 21:04 WIB

Gelombang Protes SPMB Sekolah Maung Jabar 2026, Pengamat: Akibat Perencanaan Tergesa-gesa

Selasa, 9 Juni 2026 21:00 WIB

Dedi Tantang Penyebar Isu Jual Beli Kursi SPMB: Sebutkan Nama dan Laporkan!

Selasa, 9 Juni 2026 20:46 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Viral Eza Gionino Bogem Robby Tremonti hingga Ajak Duel Tinju, Dipicu Masalah Sensitif Ini?
  • Gelombang Protes SPMB Sekolah Maung Jabar 2026, Pengamat: Akibat Perencanaan Tergesa-gesa
  • Dedi Tantang Penyebar Isu Jual Beli Kursi SPMB: Sebutkan Nama dan Laporkan!
  • Choi Sooyoung SNSD dan Jung Kyung Ho Resmi Putus Setelah 14 Tahun Pacaran, Ini Penyebabnya
  • Rumor Transfer Liga 1: Persib Bandung Bidik Winger Spanyol Andalan Persita?
  • Dedi Mulyadi Minta Orang Tua Tidak Panik Hadapi SPMB, Masalah Pemetaan Masih Bisa Diperbaiki
  • Bursa Transfer Persib Menghangat, Eks Real Madrid hingga Bek Italia Masuk Radar Rumor
  • Viral! Link Video Full Durasi Cut Salwa Ramai Diburu Netizen, Apa Isinya?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 9 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi Dinilai Otokratik, Bisa Jadi ‘Pedang Bermata Dua’

By Aga GustianaRabu, 12 Maret 2025 21:00 WIB3 Mins Read
Dedi Mulyadi
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Foto: Instagram @dedimulyadi71.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang kerap turun langsung ke lapangan dan mengambil keputusan secara spontan menuai perhatian. Kristian Widya Wicaksono, pakar kebijakan publik dari Universitas Parahyangan (Unpar), menilai bahwa Dedi memiliki gaya kepemimpinan otokratik, yang bisa menjadi pedang bermata dua.

“Gaya kepemimpinan Kang Dedi cenderung otokratik. Namun, otokratik bukan berarti otoriter,” ujar Kristian, Rabu (12/3/2025).

Menurut Kristian, kepemimpinan Dedi Mulyadi yang sering terjun langsung ke lapangan membuatnya merasa memiliki informasi yang cukup tanpa perlu berkonsultasi lebih lanjut. Hal ini mencerminkan kepercayaan diri tinggi, tetapi juga memiliki potensi risiko.

“Ia merasa keputusan yang diambilnya sudah tepat tanpa harus bertanya ke orang lain. Namun, jika informasi yang diperoleh tidak optimal, keputusan bisa kurang tepat dan menjadi bumerang,” jelasnya.

Baca Juga:  Sempat Sindir Ridwan Kamil, KDEKS Jabar Resmi Dikukuhkan Wapres Ma'ruf Amin

Dalam kondisi seperti itu, Kristian menilai bahwa bawahan sering kali harus turun tangan sebagai “pemadam kebakaran” untuk menyelesaikan dampak dari keputusan yang diambil secara cepat.

“Ini yang berbahaya. Jika terjadi masalah akibat keputusan yang kurang matang, bawahanlah yang harus menyelesaikan dampaknya, dan ini bukan situasi ideal,” jelasnya.

Selain itu, Kristian menyoroti dampak gaya kepemimpinan Dedi terhadap birokrasi di lingkungan Pemprov Jabar. Menurutnya, dengan pengambilan keputusan yang cenderung satu arah, bawahan kehilangan rasa memiliki dan inisiatif dalam menjalankan tugasnya.

“Mereka merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, sehingga keterikatan emosional dan rasa tanggung jawab berkurang. Jika terjadi masalah, mereka cenderung menganggap itu sebagai urusan atasan,” terangnya.

Baca Juga:  Legend! Ini Dia 4 Kuliner Jawa Barat Zona Priangan yang Wajib Dicoba

Sebagai akibatnya, birokrasi hanya berperan sebagai pelaksana tanpa inisiatif, karena semua keputusan sudah ditentukan dari tingkat atas.

Untuk mengatasi potensi permasalahan ini, Kristian menyarankan agar Dedi Mulyadi lebih banyak menjalin komunikasi dengan jajaran birokrasi, bukan hanya masyarakat.

“Pemimpin yang merakyat itu baik, tetapi jika sistemnya tidak berjalan dengan baik, tetap saja akan terjadi masalah,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa bukan hanya blusukan ke got yang penting, tetapi juga “blusukan” ke dalam birokrasi untuk memahami kendala di tingkat pelaksanaan kebijakan.

“Mendengarkan keluhan birokrat, memahami kendala mereka dalam memberikan layanan kepada masyarakat, dan mencari solusi bersama akan jauh lebih efektif,” lanjutnya.

Baca Juga:  Deklarasi Dukung ASIH, MOI Jabar Rindu Sosok Pemimpin Dekat Ormas Islam

Selain itu, Kristian menyarankan agar Dedi Mulyadi mendelegasikan lebih banyak kewenangan kepada birokrasi tingkat bawah, sehingga mereka bisa menyelesaikan layanan tanpa harus selalu menunggu keputusan dari tingkat atas.

“Jika Kang Dedi ingin lebih banyak turun langsung ke masyarakat, mungkin Kang Erwan bisa lebih berfokus pada pengelolaan birokrasi. Karena bagaimanapun, birokrasi adalah ujung tombak layanan publik,” tegasnya.

Menurutnya, birokrasi memiliki informasi strategis, memahami kendala implementasi kebijakan, dan mengetahui kelemahan dalam sistem yang ada. Oleh karena itu, peran mereka harus lebih diperhatikan.

“Justru orang-orang ini yang harus mendapatkan perhatian lebih dari Kang Dedi. Tanpa birokrasi yang efektif, keputusan sebesar apa pun tidak akan berjalan optimal,” pungkas Kristian.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi gubernur HL jawa barat Pakar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Gelombang Protes SPMB Sekolah Maung Jabar 2026, Pengamat: Akibat Perencanaan Tergesa-gesa

Dedi Tantang Penyebar Isu Jual Beli Kursi SPMB: Sebutkan Nama dan Laporkan!

Dedi Mulyadi Minta Orang Tua Tidak Panik Hadapi SPMB, Masalah Pemetaan Masih Bisa Diperbaiki

Komisi II DPRD Jabar Dorong Peningkatan Kualitas Peternak Lewat Bimtek Ternak Domba di Cirebon

Siasat Dadang Supriatna Atasi Banjir & Sampah: Dari Danau Retensi Hingga ASN Wajib Bawa Tumbler!

Jabar Bersiap Menuju ‘Era E-Legislasi’: DPRD Desak Penggantian Total Aturan Produk Hukum Daerah

Terpopuler
  • Video Cut Salwa Ramai Dicari di TikTok dan X, Ini Fakta yang Sebenarnya
  • Geger! Link Video Cut Salwa ‘No Sensor’ Viral Ramai Dicari Warganet
  • Viral Video ‘Rok Hijau di Dapur’, Pakar Ingatkan Bahaya Link Palsu hingga Jerat Hukum UU ITE
  • Viral di TikTok, Video Cut Salwa Jadi Perbincangan Publik, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
  • Link Full Video Cut Salwa Jadi Buruan Netizen, Benarkah Ada Rekaman Asli?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.