bukamata.id – Situasi keamanan di kawasan perbatasan Thailand dan Kamboja kembali memanas setelah pecahnya bentrokan bersenjata pada Kamis (24/7/2025). Insiden tersebut menewaskan sedikitnya sembilan warga sipil dan mencederai puluhan lainnya, menandai eskalasi paling serius sejak konflik terakhir yang terjadi dua bulan lalu.
Konflik ini kembali menguji hubungan diplomatik kedua negara. Pemerintah Thailand segera menutup perbatasannya dan menarik duta besarnya dari Phnom Penh. Kamboja membalas dengan langkah diplomatik serupa, memperparah ketegangan yang sudah lama membayangi kedua negara.
Serangan Udara dan Tuduhan Saling Serang
Kementerian Pertahanan Thailand mengonfirmasi bahwa enam korban jiwa berasal dari Provinsi Si Sa Ket, setelah sebuah pompa bensin diserang. Setidaknya 14 orang dilaporkan luka-luka akibat serangan yang tersebar di tiga provinsi perbatasan.
Militer Thailand mengklaim telah melancarkan serangan udara ke wilayah Kamboja, termasuk menjatuhkan bom di dekat kompleks cagar budaya dunia, Kuil Preah Vihear. Sementara itu, pihak Kamboja menuduh Thailand sebagai provokator yang memicu kekerasan tersebut.
Bentrokan hebat juga terjadi di sekitar Kuil Ta Moan Thom, yang berjarak sekitar 360 kilometer dari Bangkok. Thailand dilaporkan mengerahkan jet tempur F-16 untuk menghancurkan target-target militer Kamboja, meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik.
Gelombang Pengungsi dan Krisis Kemanusiaan
Di tengah kekerasan yang terus berlangsung, Kamboja melaporkan terjadinya eksodus besar-besaran dari wilayah konflik. Puluhan ribu warga sipil dilaporkan mengungsi untuk menghindari dampak pertempuran, memicu krisis kemanusiaan di wilayah perbatasan.
Thailand vs Kamboja: Siapa Lebih Siap Hadapi Perang?
Ketimpangan kekuatan militer antara Thailand dan Kamboja menjadi sorotan utama dalam konflik ini. Berdasarkan data Global Firepower 2025, Thailand memiliki sekitar 360 ribu personel militer aktif, jauh melampaui Kamboja yang hanya memiliki 221 ribu.
Dari sisi anggaran, Thailand juga menunjukkan keunggulan signifikan dengan belanja militer mencapai US$ 5,9 miliar (sekitar Rp 96 triliun), sementara Kamboja hanya mengalokasikan sekitar US$ 860 juta (Rp 14 triliun).
Superioritas Udara dan Laut Thailand
Thailand memiliki dominasi mutlak di udara, dengan 72 jet tempur dan 7 helikopter serang. Sebaliknya, Kamboja tidak memiliki satupun jet tempur atau helikopter tempur dalam inventarisnya.
Di laut, Thailand mengoperasikan armada yang jauh lebih besar, terdiri dari 293 kapal, termasuk fregat dan korvet. Sementara itu, angkatan laut Kamboja terbatas hanya pada 20 kapal patroli ringan.
Kekuatan Darat: Kamboja Tawarkan Perlawanan
Meski Thailand lebih unggul dalam alutsista canggih, Kamboja tidak sepenuhnya kalah di darat. Negeri itu tercatat memiliki 644 tank dan 463 peluncur roket—jumlah peluncur yang bahkan melampaui Thailand. Namun demikian, keunggulan Thailand dalam hal teknologi dan pelatihan tempur tetap menjadikannya pihak yang lebih siap dalam konflik terbuka.
Konflik Terus Berlanjut, Upaya Damai Belum Tampak
Dengan tidak adanya sinyal diplomatik untuk meredakan ketegangan, kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala lebih besar terus menghantui kawasan. Pengamat militer memperingatkan bahwa jika tidak ditangani segera, konflik ini berpotensi menyeret kawasan Asia Tenggara ke dalam ketidakstabilan yang lebih luas.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











