Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Anti Berisik! 5 Kafe Tersembunyi di Bandung Ini Bikin Kerja Makin Fokus

Senin, 2 November 2026 03:00 WIB
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Cuma Modal KTP! Begini Cara Cek Bansos PKH dan BPNT November 2026

Senin, 2 November 2026 01:00 WIB

Sejarah Baru! Veda Ega Pratama Raih Hasil Terbaik di Moto3 Malaysia 2026

Minggu, 1 November 2026 20:03 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Anti Berisik! 5 Kafe Tersembunyi di Bandung Ini Bikin Kerja Makin Fokus
  • Cuma Modal KTP! Begini Cara Cek Bansos PKH dan BPNT November 2026
  • Sejarah Baru! Veda Ega Pratama Raih Hasil Terbaik di Moto3 Malaysia 2026
  • Laskar Prabowo 08 Jabar Rapatkan Barisan, Siap Perang Lawan Hoaks
  • Penantian 8 Tahun! dr. Gia Pratama Menangis Dengar Detak Jantung Calon Buah Hati
  • Menalo Brace, Klok Gol Indah! Persib Tempel Ketat Persija
  • Bisnis Live Pornografi Raup Rp 750 Juta, Polda Jabar Tangkap 2 Tersangka
  • Persib Menggila! Unggul 3-0 atas Kalteng FC di Babak Pertama
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 2 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kasus DBD di Jawa Barat Capai 23.804 Jiwa, Karawang Catat Angka Kematian Tertinggi

By Aga GustianaSelasa, 5 Agustus 2025 15:26 WIB3 Mins Read
Demam Berdarah Dengue
Demam Berdarah Dengue. (Foto: Ilustrasi/net)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Wabah demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi perhatian serius di Jawa Barat. Sepanjang periode Januari hingga Juni 2025, tercatat 23.804 kasus DBD terjadi di wilayah ini, dengan 84 kasus berujung kematian. Kabupaten Karawang menjadi daerah dengan jumlah kasus dan kematian tertinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, menyampaikan bahwa seluruh kabupaten/kota di Jabar terdampak, namun Karawang mencatat rekor tertinggi.

“Total kasus selama enam bulan ini mencapai 23.804 kasus dengan 84 kematian. Sementara kota dengan kasus tertinggi, Kabupaten Karawang 3.987 kasus, dan angka kematian tertinggi juga ada di Kabupaten Karawang 15 jiwa,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (5/8/2025).

Penurunan Bertahap Namun Belum Signifikan

Meski jumlah kasus terbilang tinggi, Vini mengungkapkan adanya tren penurunan dari bulan ke bulan, meskipun angkanya tidak terlalu mencolok. Penurunan itu terlihat jelas jika dibandingkan dengan lonjakan pada bulan Maret 2025.

Baca Juga:  Perjalanan Pulang Berujung Luka, Dua Pendukung Persib Diserang di Karawang

“Tidak meningkat setajam yang kemarin. Yang terbanyak kasus itu ada di Kabupaten Karawang, Kota Bekasi, Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bekasi. Nah, ini agak bergeser juga,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa beberapa daerah yang tahun lalu menyumbang banyak kasus, seperti Bandung Barat, tahun ini menunjukkan penurunan. Hal ini dinilai berkat intervensi langsung dari pemerintah daerah.

“DBD ini sekali lagi tidak stagnan ya. Tetap ada usaha dari pemerintahnya untuk menekan kasus. Kita di Februari 501 kasus, Maret turun 342, April 307, Mei 340, Juni 179,” paparnya.

Baca Juga:  Viral Teror Pocong Bikin Geger Warga Karawang

Usia Rentan dan Distribusi Kematian

Kelompok usia 15 hingga 44 tahun menjadi yang paling banyak terdampak. Kota Bandung, Depok, dan Bekasi juga mencatat angka kematian yang tinggi, masing-masing menyumbang belasan hingga puluhan kematian.

“Untuk Kota Bandung sendiri ada sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Tapi saya belum mendalami apakah hal ini ada kaitannya dengan program nyamuk Wolbachia,” kata Vini.

Meski belum ada evaluasi menyeluruh, Vini menilai tren positif di Kota Bandung bisa menjadi indikasi efektivitas intervensi, termasuk program pengendalian nyamuk.

Baca Juga:  Korupsi Bantuan Wirausaha di Karawang, 7 Tersangka Rugikan Negara Rp1,9 Miliar

“Dulu Bandung selalu ranking satu. Sekarang Bandung enggak ada disebut-sebut kan 15 besar tadi ya? Itu mungkin salah satu buktinya juga,” ujarnya.

Tren Tahunan Masih Perlu Diwaspadai

Sebagai perbandingan, Dinas Kesehatan Jabar mencatat bahwa sepanjang Januari hingga 2 Desember 2024, total kasus DBD mencapai 55.251, dengan 313 kematian. Jumlah ini meningkat tajam dari tahun 2023 yang mencatat 23.000 kasus.

Salah satu penyebab melonjaknya kasus adalah ketidakmerataan curah hujan, yang memperbesar peluang berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, penyebab utama DBD.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya telah mengeluarkan Surat Edaran Gerakan Jum’at Bersih, sebagai upaya promotif dan preventif untuk menekan penyebaran nyamuk.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Karawang
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Cuma Modal KTP! Begini Cara Cek Bansos PKH dan BPNT November 2026

Laskar Prabowo 08 Jabar Rapatkan Barisan, Siap Perang Lawan Hoaks

Ilustrasi video syur

Bisnis Live Pornografi Raup Rp 750 Juta, Polda Jabar Tangkap 2 Tersangka

Diduga Mabuk, Pemotor 15 Tahun Hilang Kendali di Jalan AH Nasution

Diduga Microsleep! Brio Seruduk 3 Kendaraan di Depan UIN Bandung

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos November 2026 Cair! Satu Keluarga Bisa Dapat Rp1,5 Juta Lebih

Terpopuler
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
  • KHW 400 OTW Layar Lebar? Heboh Rumah Produksi Daftarkan Judul Film Mirip Konten Nadia Omara!
  • Diduga Microsleep! Brio Seruduk 3 Kendaraan di Depan UIN Bandung
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.