bukamata.id – Nama Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kembali mencuri perhatian publik dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Berbagai langkah cepat, tegas, serta aksi blusukannya yang sarat kepedulian menuai gelombang apresiasi dari masyarakat luas. Netizen secara masif melontarkan pujian, menjulukinya sebagai “pejuang rakyat” hingga “Bapak Pangan Indonesia” berkat konsistensinya membela para petani kecil dan memberantas praktik-praktik curang di sektor pertanian.
Ketegasan Tanpa Kompromi: Copot Manajer Pupuk dan Sikat Pungutan Mahar
Gaya kepemimpinan Amran dikenal sangat gesit, berani, dan tidak suka bertele-tele. Hal ini terbukti secara nyata ketika ia melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Di sana, Amran mendapati langsung keluh kesah petani yang kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi akibat belum tergabung dalam kelompok tani. Tanpa ragu, Amran langsung memerintahkan pencopotan manajer pupuk setempat yang dinilai lalai dan tidak proaktif melayani masyarakat.
Petugas yang bertanggung jawab seharusnya aktif membantu petani menyelesaikan kendala administrasi, termasuk membentuk kelompok tani. Menanggapi kelalaian tersebut, Amran menegaskan dalam keterangan resminya pada Kamis (10/9/2026), “Anda digaji untuk melayani rakyat, bukan bergaya. Datangi petani. Saya saja menteri datang ke petani. Ini rakyat butuh. Jangan dibuat menunggu, datangi.” Ia juga menambahkan instruksi tegas kepada jajarannya, “Jangan tunggu dia. Jemput semua yang bermasalah. Harus (menjadi) terdaftar, pupuk tersedia (di petani). Itu perintah Presiden (Prabowo Subianto).”
Ketegasan semacam inilah yang membuat netizen merasa terwakili. Kolom komentar media sosial dipenuhi pujian, salah satunya menyebutkan, “Pak amran paham mana orng pemalas dan cari muka dari jawaban nya 😂 dia bilang bisa tp dr pertanyaan sebelumnya keliatan klo misal nanti sama pak amran ditinggal pasti ga bakal kelaksana, makanya pas balik langsung minta di copot krn memang sudah tidak bisa dipercaya orng model ngebos kayak gitu.”
Tidak berhenti pada persoalan pupuk, Amran juga menunjukkan keberanian luar biasa dalam memberantas praktik pungutan liar. Ketika seorang petani di Banggai mengaku diminta tebusan mahar hingga Rp150 juta untuk pengajuan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa combine harvester, Amran langsung meradang. Ia seketika memerintahkan aparat kepolisian untuk menindak tegas pelaku tanpa ampun, “Pak Kapolres, tangkap! Jangan kasih ampun. Rakyat jangan dibebani. Sudah susah.” Amran menegaskan bahwa bantuan pemerintah diberikan secara gratis kepada petani sesuai ketentuan, “Ini gratis untuk rakyat. Tidak ada tebusan-tebusan. Dan ini tanggung jawab Menteri.” Untuk memperkuat pengawasan nasional, ia membuka kanal pengaduan langsung melalui “Lapor Pak Amran” di nomor 0823 1110 9390, dengan instruksi, “Kalau ada ini, lapor. Sebut nama, sebut alamatnya, berapa maharnya. Langsung lapor. Kami langsung kirim.”
Kebaikan Hati dan Ketajaman Nalar Lapangan
Di balik ketegasannya yang garang terhadap oknum nakal, Amran dikenal memiliki sisi humanis yang sangat tinggi serta keahlian teknis pertanian yang mumpuni. Ketajaman intuisinya sebagai seorang pakar pertanian terlihat jelas saat ia meninjau perkebunan tebu di Tulang Bawang, Lampung. Hanya dengan menggigit dan mencicipi sebatang tebu, Amran mampu menebak kadar gula (Brix) dan rendemennya secara akurat, yang kemudian dibuktikan kebenarannya saat diuji menggunakan alat ukur khusus (refraktometer). Kemampuan langka ini lahir dari pengalaman belasan tahun sebagai orang lapangan, mulai dari mengawali karier sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) hingga mengelola ratusan hektar lahan tebu.
Kepedulian sosialnya juga kerap menyentuh hati publik. Dalam berbagai kesempatan kuliah umum dan kunjungan kampus—seperti di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Unismuh Makassar, hingga Unhas—Amran secara spontan kerap memberikan bantuan biaya pendidikan penuh, menawarkan kesempatan magang, hingga membuka peluang kerja bagi mahasiswa atau pelajar yatim piatu yang membutuhkan. Ia bahkan sempat mencairkan suasana dengan mengenalkan siswi yatim piatu tersebut kepada putranya melalui panggilan video dengan nada bercanda namun penuh kehangatan. Kombinasi ketegasan, kecerdasan lapangan, dan empati mendalam ini membuat netizen memberikan penghormatan tinggi, dengan komentar seperti, “ASLI BELIAU BUKAN SEMBARANG PELAYAN MASYARAKAT, SEHAT SLLU BPK PANGAN INDONESIA,” serta “Ini baru pejuang rakyat ..salam hormat puang kagum dgn sosok Bapak.”
Profil Lengkap Andi Amran Sulaiman
Andi Amran Sulaiman lahir di Bone, Sulawesi Selatan, pada 27 April 1968. Ia merupakan anak ketiga dari dua belas bersaudara dari pasangan Andi B. Sulaiman Dahlan Petta Linta (seorang veteran) dan Andi Nurhadi Petta Bau. Berdasarkan silsilah, Amran merupakan keturunan jauh dari Raja Bone ke-23. Menikah dengan Martati, ia dikaruniai empat orang anak, dan adiknya adalah Andi Sudirman Sulaiman yang pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan.
Perjalanan pendidikan Amran sepenuhnya berakar pada dunia pertanian. Ia menempuh studi S1 di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar pada tahun 1988 dan lulus tahun 1993, dilanjutkan dengan gelar S2 dan S3 di universitas yang sama dengan meraih IPK maksimal. Semasa akademis dan kariernya, ia aktif melakukan inovasi hingga berhasil mematenkan berbagai penemuan di bidang pengendalian hama, termasuk racun tikus bermerek “Tiran” (Tikus diracun Amran). Saat ini, ia memegang 5 hak paten dan tercatat sebagai dosen di Universitas Hasanuddin.
Sebelum masuk ke dunia pemerintahan, Amran membangun kerajaan bisnis bernama Tiran Group, sebuah konglomerat yang berpusat di Makassar dan beroperasi di Indonesia Timur dengan pendapatan tahunan mendekati US$1 miliar pada tahun 2014. Karier birokrasinya melejit ketika ia dipercaya Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pertanian Republik Indonesia dari tahun 2014 hingga 2019. Ia kembali diangkat menjadi Menteri Pertanian pada Oktober 2023, serta memegang amanah sebagai Kepala Badan Pangan Nasional sejak Oktober 2025. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam Kabinet Merah Putih, Amran kembali dipercaya mengemban kursi Menteri Pertanian untuk periode ketiganya.
Atas dedikasi, integritas, dan kontribusinya yang luar biasa bagi kemajuan sektor pangan nasional, Amran telah menerima berbagai tanda kehormatan bergengsi dari negara, di antaranya:
- Satyalancana Pembangunan di Bidang Wirausaha Pertanian dari Presiden RI (2007)
- FKPTPI Award di Bali (2011)
- Bintang Mahaputera Adipradana (2020)
- Bintang Mahaputera Adipurna (2025)
- Bintang Jasa Utama (2026)
Melalui kombinasi ketegasan dalam menegakkan aturan, kepekaan sosial terhadap wong cilik, serta rekam jejak profesional yang kuat, Andi Amran Sulaiman terus membuktikan diri sebagai figur teladan yang mendedikasikan seluruh kapasitasnya demi kemandirian pangan dan kesejahteraan petani Indonesia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









