Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Viral video ukhti mukena pink.

Waspada! Mukena Pink Viral Bisa Jadi Jebakan Digital, Jangan Klik Link Asal

Selasa, 17 Maret 2026 20:39 WIB

Ini Modus Ustaz SAM Diduga Pelecehan Santri, Janji Beasiswa Jadi Alat Kepercayaan

Selasa, 17 Maret 2026 20:21 WIB

Video Ibu Tiri dan Anak Tiri di Sawit Muncul di TikTok, Ada Link Telegram?

Selasa, 17 Maret 2026 20:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Waspada! Mukena Pink Viral Bisa Jadi Jebakan Digital, Jangan Klik Link Asal
  • Ini Modus Ustaz SAM Diduga Pelecehan Santri, Janji Beasiswa Jadi Alat Kepercayaan
  • Video Ibu Tiri dan Anak Tiri di Sawit Muncul di TikTok, Ada Link Telegram?
  • Persib di Puncak Klasemen, Bojan Hodak Sebut Super League Masuk Periode Penentu
  • Suaranya Mirip Dubbing Iklan, Ibu-Ibu Viral Ini Maki Pengunjung Minimarket Pakai Bahasa ‘Naskah Sinetron’!
  • Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Terbaru, Bisa Berbeda Tanggal!
  • Kata Inara Rusli Soal Video Syur: Akui Ada Rekaman, Bantah Tuduhan Perzinaan
  • Waktu Maghrib Kota Bandung Hari Ini Jam Berapa? Jangan Lewatkan Doa Buka Puasa
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 18 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kebijakan Dedi Mulyadi Menuai Gelombang Perlawanan

By Aga GustianaKamis, 24 Juli 2025 11:29 WIB4 Mins Read
Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto: Rafki R/bukamata.id)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Serangkaian kebijakan pendidikan yang diterapkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tengah menjadi sorotan tajam. Aturan-aturan tersebut, mulai dari larangan study tour hingga jam masuk sekolah lebih pagi, memicu reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat. Dampak kebijakan ini dirasakan luas, bahkan hingga sektor pariwisata dan kehidupan sosial siswa.

Larangan Study Tour Memantik Aksi Massa

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerbitkan Surat Edaran Nomor 64 Tahun 2024 yang melarang kegiatan study tour di sekolah. Menurut Dedi Mulyadi, keputusan itu dimaksudkan untuk melindungi orang tua dari beban biaya yang berlebihan.

Namun, larangan tersebut justru memantik kemarahan para pelaku industri pariwisata. Ratusan massa yang tergabung dalam Solidaritas Pekerja Pariwisata Jawa Barat menggelar demonstrasi di depan Gedung Sate, Bandung, Senin (21/7), menuntut kebijakan itu dicabut.

Koordinator aksi, Herdi Sudardja, mengungkapkan bahwa larangan study tour membuat pendapatan perusahaan bus wisata anjlok tajam.

“Dari Rp80 juta per bulan (turun) menjadi sekitar Rp30 juta atau sekitar 60 persen. Dengan angka itu, pengusaha tidak bisa membayar cicilan ke pihak leasing atau bank,” ujar Herdi.

Ia juga menyebutkan bahwa dampaknya tak hanya dirasakan pengusaha bus, melainkan juga UMKM dan pekerja yang menggantungkan hidup dari sektor wisata pelajar.

Baca Juga:  Fraksi PDIP Desak Dedi Mulyadi Klarifikasi, Ancam Tak Mau Terlibat Apapun!

“Pelarangan ini dikeluarkan tanpa solusi bagi pengusaha maupun pekerjanya,” tambahnya.

Aksi tersebut berlangsung tertib meski massa sempat menutup akses flyover Pasupati dengan puluhan armada bus sebagai bentuk protes.

Sikap Berbeda dari Wali Kota Bandung

Di tengah kontroversi, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan sikap yang lebih fleksibel.

“Selama study tour tidak memengaruhi nilai akademik siswa, ya silakan saja. Tidak ada masalah,” katanya.

Farhan menilai kegiatan semacam itu bisa menjadi sarana belajar nonformal yang efektif jika dirancang dengan baik dan mendapat pengawasan sekolah.

Kebijakan Masuk Sekolah Pukul 06.30 Ditolak di Bekasi

Tak hanya larangan study tour, kebijakan lain yang mengundang perdebatan adalah pengaturan jam masuk sekolah yang dimajukan menjadi pukul 06.30 WIB. Aturan ini tertuang dalam SE Nomor 58/PK.03/DISDIK yang berlaku mulai tahun ajaran baru Juli 2025.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Ultimatum Sekolah Swasta: Serahkan Ijazah atau Bantuan Rp600 M Dihentikan

Namun, Pemerintah Kota Bekasi memilih tak mengikuti kebijakan tersebut. Wali Kota Tri Adhianto mengaku menerima banyak keluhan dari orang tua siswa.

“Masuk jam 06.30 menimbulkan kemacetan karena bersamaan dengan jam berangkat kerja. Anak-anak juga jadi terburu-buru dan belum siap belajar,” ungkap Tri, Senin (21/7/2025).

Ia menjelaskan bahwa beberapa sekolah di jalur utama seperti SMPN 1, 2, dan 3 mengalami kemacetan parah saat jam masuk dimajukan.

“Bukan soal anak bisa bangun pagi atau tidak. Tapi kita harus realistis. Orang tua juga perlu waktu mempersiapkan anak-anak. Kami ingin siswa datang dalam kondisi siap secara fisik dan mental,” tegasnya.

Polemik Jam Malam untuk Pelajar

Kebijakan lain yang tak kalah kontroversial adalah penerapan jam malam bagi pelajar. Dalam SE Nomor 51/PA.03/Disdik tertanggal 23 Mei 2025, siswa dilarang berkegiatan di luar rumah pada pukul 21.00–04.00 WIB, kecuali dalam keadaan tertentu.

Forum Orang Tua Siswa (Fortusis) Jawa Barat menyuarakan keberatannya. Ketua Fortusis Jabar, Dwi Subianto, menilai kebijakan ini kurang mempertimbangkan dinamika pendidikan dan peran keluarga.

Baca Juga:  Tangan Besi Dedi Mulyadi di Pasirlangu: Tegas Demi Nyawa atau Tergesa-gesa?

“Anak sudah sekolah dari pagi sampai sore, malam tidak boleh keluar, nilai edukasinya di mana?” ujarnya, Selasa (27/5/2025).

Ia juga menyoroti bahwa tidak semua pelajar yang beraktivitas di malam hari melakukan hal negatif.

“Ada anak yang justru mendapat inspirasi saat malam hari. Misalnya, diskusi atau mengerjakan proyek bersama teman,” katanya.

Dwi menekankan pentingnya pemerintah untuk lebih dulu menyediakan fasilitas publik seperti ruang kreatif atau olahraga sebelum memberlakukan pembatasan.

“Kewajiban pemerintah dulu yang dipenuhi. Jangan karena punya wewenang, lalu seenaknya mengatur tanpa solusi,” ujarnya.

Penutup

Berbagai kebijakan baru yang diterapkan di Jawa Barat menuai reaksi beragam dari masyarakat. Sementara pemerintah provinsi berdalih ingin menciptakan disiplin dan efisiensi, banyak pihak menilai pendekatan tersebut minim dialog dan solusi nyata. Seiring dengan meluasnya kritik dan protes, publik kini menunggu apakah pemerintah akan mengevaluasi kebijakan-kebijakan tersebut demi kepentingan bersama.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat Larangan Study Tour pendidikan Jawa Barat protes warga
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ini Modus Ustaz SAM Diduga Pelecehan Santri, Janji Beasiswa Jadi Alat Kepercayaan

Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Terbaru, Bisa Berbeda Tanggal!

Waktu Maghrib Kota Bandung Hari Ini Jam Berapa? Jangan Lewatkan Doa Buka Puasa

Polisi Umumkan Tol Gedebage Dibuka 24 Jam saat Arus Mudik Lebaran 2026

Laba Tembus Rp1,15 Triliun, bank bjb Buktikan Ketahanan Finansial di Tengah Gejolak Ekonomi 2025

Bukan Sembarang Prajurit! Prada Nawawi Harumkan Indonesia di Langit Libya, Netizen: Tentara Allah!

Terpopuler
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Netizen Penasaran! Video Mukena Pink ‘No Sensor’ Viral, Banyak yang Buru Link Aslinya
  • Kronologi dan Isi Video Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit yang Viral
  • Viral video ukhti mukena pink.
    Hati-hati! Link Video Viral Mukena Pink ‘No Sensor’ Bisa Sebarkan Malware
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Waspada Klaim Full Durasi Video Ukhti Mukena Pink ‘No Sensor’, Ini Faktanya
  • Video Viral Ukhti Mukena Pink
    Fenomena Ukhti Mukena Pink Viral di TikTok, Pakar Ingatkan Bahaya Tersembunyi di Balik Link Video
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.